Hari yang cerah pada penghujung tahun, sebelum awan mendung datang sore hari dan mulai menyiram bumi. Kiranya hujan juga mau ikut memeriahkan dan menutup tahun 2019. Namun ternyata curah hujan semakin tinggi. Meski sempat mereda, tapi ia tak berhenti membasahi bumi.

Umar sudah berencana untuk tidak narik hari itu. Ia berniat meliburkan diri 2 hari di ujung 2019 dan awal 2020. Ia akan  mengunjungi rekan seprofesinya yang berlokasi di Ciputat. Rencana itu memang sudah dibicarakan satu minggu sebelumnya, bahwa akan ada semacam bakar-bakar ayam dan jagung. Hal yang tidak terlalu istimewa sebetulnya. Tapi biasanya hanya sekali dalam setahun kegiatan itu dilakukan.

Rencananya agak terganggu ketika hujan turun tanpa henti sejak sore. Jam 9 malam ia baru memutuskan untuk pergi ke Ciputat. Pada saat itu memang hujan mereda. Mungkin dipikirnya akan berhenti.

Setibanya di Ciputat, beberapa kawan ada yang sudah datang sejak tadi, atam sudah siap bakar, jagung sudah beberapa matang. Snack dan soda juga sudah tersedia. Kopi tinggal seduh. Sisanya diramaikan oleh obrolan dan candaan. Malam yang cukup asyik.

Jarum jam terus berputar dan mendekati 00.00, sebagai tanda pergantian tahun. Beberapa detik menjelang waktunya tiba, petasan disiapkan. Riuh suasana semakin terasa. 2020 datang.

Belum genap berusia sepuluh menit, 2020 telah disambut gerimis yang berubah menjadi deras. Umar tak berencana menginap hari itu, namun juga tak tergesa-gesa untuk pulang. Kegiatan yang tadinya dilakukan dengan tak terpayung apapun, mendadak bergeser semua ke teras rumah.

Yang tadinya riuh ramai suara petasan bersautan, kini hanya terdengar suara hujan. Umar dan kawan-kawannya duduk berkumpul di teras. Mereka membicarakan kejadian-kejadian unik di tahun sebelumnya, dari yang lucu, hingga yang pilu. Kebanyakan mereka hanya memperbincangkan cerita dari pinggir jalan. Beberapa dari mereka yang sudah menikah juga menceritakan kehidupan rumah tangga.

Di samping itu, rencana-rencana di 2020 juga tak tertinggal dibicarakan. Mereka merencanakan untuk sekali waktu bermain arung jeram. Kegiatan touring saja sudah pernah dilakukan, tapi mereka ingin mencoba hal baru. Di antara mereka, hanya Umar yang pernah mencobanya.

Hujan tak kunjung reda. “Kayaknya awet ni hujan. Jam 2 kalau nggak reda juga gue tetep cabut ya”, cetus salah seorang kawannya. Beberapa sepakat, tapi ada juga yang diam tak menimpali. Sembari menunggu hujan reda, permainan ala Zynga Poker mulai digelar dengan kacang kulit sebagai pengganti chip-nya. “Anggap aja di Vegas lah ya”, kata Umar. 

Jarum jam menunjukakkan pukul 02.00. Kawan Umar memutuskan untuk tetap pulang menerobos hujan. Beberapa ada yang memilih untuk tidur. Umar berencana akan pulang jam 03.00 sambil menunggu baterai ponselnya terisi penuh. Namun ternyata hujan malah semakin deras. Umar baru bisa pamit jam 04.00 setelah hujan mulai reda. Ia mengeluarkan mantelnya dan berjalan pulang.

Baru sampai Cipete, hujan sudah turun deras sekali. Ia menurunkan kecepatan motornya karena jalan juga tak terlihat karena hujan sangat deras. Sampai di Kemang Raya, laju motornya terhenti. Wilayah itu sudah tak bisa dilalui. Ia memutar cari jalan lain. Kemang Timur juga sudah tak bisa dilalui. Jalan sudah terendam air. Terpaksa ia berputar cari jalan lain lagi di tengah derasnya hujan.

Ia melalui jalan-jalan tikus untuk menyambung ke Jalan Duren Tiga. Jalan tersebut masih aman, namun hujan tetap deras sekali. Memasuki kawasan Kalibata juga jalan masih normal. Sampai di dekat tempat tinggalnya, laju motor Umar tersendat. Di persimpangan Pengadegan dalam dekat kantor lurah, orang sudah beramai-ramai berlarian ke atas. Jalan menurun yang biasa dilaluinya sudah tidak bisa dilalui oleh kendaraan. 

Hingga saat ini, kunci ruangan Umar masih ada dalam saku celananya dan belum digunakan sebagaimana mestinya. Ia belum berjumpa dengan pintu kamarnya.