Suatu waktu Umar mendapat pesan singkat dari sepupunya. Sebab sudah kadung janji dengan anaknya, bahwa ia akan jemput anaknya di sekolah dan membawanya main ke taman. Tapi kerjaan menghalanginya untuk membayar janji tersebut ke anaknya, makai a minta tolong ke Umar.

“Mar, tolong jemput anak gue ya. Gue udah janji sama dia mau ajak makan siang di taman gitu sebelum pulang ke rumah, tapi gue ketahan ada kerjaan lagi ni. Jadi nggak bisa izin sebentar.” Tulis sepupunya di sebuah pesan singkat.

“Lah, kan gue narik, Mpok. Biasanya sama kakeknya dijemput.” Umar membalas, tidak bilang iya, tapi juga tidak menyatakan keberatan. Hanya menjabarkan pekerjaannya sehari-hari.

“Iya, Karena kakeknya lagi nggak jemput, terus gue udah terlanjur janji. Tolong ya Mar. Sebentar. Gue upahin ntar.” Sepupunya masih berusaha untuk merayu agar Umar mau dimintai tolong.

“Yaudah ntar gue jemput dah gampang.”, Umar membalas tanpa membahas soal upah. Dianggapnya jemput keponakan toh bukan satu kesalahan yang fatal.

“Kalau tidak bisa menepati, jangan pernah mengucap janji.”, sudah tertulis dalam pesan singkatnya. Tapi Umar urung untuk mengirimnya. Dihapus lagi, biar disimpan saja pesannya untuk diri sendiri.

11.30 WIB, Umar sudah berada di depan sekolah keponakannya. Tak lama kemudian, si anak yang akrab dipanggil Aboy di keluarganya itu muncul sambil celingukan.

“Booyyy!!”, Umar memanggilnya.

Bocah itu datang menghampiri Umar dan bertanya, “Bang Umar ngapain di sini? Aku mau dijemput sama Ibu dong. Kita mau piknik ke taman.”

“Tadi Bang Umar dibilangin sama Ibu, katanya suruh jemput kamu. Ibu nggak bisa jemput hari ini.”

“Yaahh, padahal Ibu janji sama aku. Soalnya kakek nggak bisa jemput.”, anak itu menjawab dengan raut muka yang menyimpan kekecewaan di dalamnya.

“Iya ini kan Bang Umar yang jemput. Kita beli makan dulu, terus kita main sebentar.”

“Yaudah ayo! Ke taman, ya!”

“Iya ayo kita ngeeenngg!!”

Tak jauh dari sekolah si anak, Umar melihat sebuah taman persis di pertigaan jalan dekat Taman Makam Pahlawan. Umar membelokkan motornya ke arah taman tersebut. Di depan pintu masuknya, ada penjual mie ayam.

“Kita makan mie ayam dulu mau nggak? Habis itu baru main ke dalam.” Umar berujar, kebetulan benteng rapuh dari lapar sudah memanggil.

“Oke.”

“Pakde, mie ayam 2 ya, Pakde.”

“Oh enjeh Mas. Tunggu dalem RPTRA aja, nanti tak anter ke sana.”

“Oh ya Pakde.”

“Eh kita makan di dalam aja ya Boy.”

Mie ayam belum datang, Aboy sudah tak sabar menendang bola ke arah gawang yang kosong. RPTRA itu sedang sepi pengunjung. Tidak ada kegiatan apapun. Hanya mereka berdua. Sementara dari dalam ruangan terlihat ada 2 ibu-ibu, mungkin pengurus RPTRA ini.

“Boy, makan dulu sini.”

Di teras RPTRA, dilindungi oleh kanopi dari cuaca yang terhitung mendung siang itu, mereka lahap menyantap mie ayam.

“Bang, Aboy kenyang.”

“Eh, habisin. Sayang itu makanannya mubazir.”

“Bang Umar aja yang habisin ya. Aboy sudah kenyang.”

Setelah perut terisi, si bocah langsung meneruskan main bolanya, meski belum ada kawan atau lawan di lapangan tersebut. Sementara itu Umar sambil berkeliling tempat tersebut sebentar. Tempat apaan sih ini, pikirnya. Ada banyak tanaman obat, ada kolam ikan lel juga, ada mainan anak, perpustakaan, bahkan ruang laktasi. Bisa kali ya kalau narik sambil istirahat melipir ke sini rebahan sebentar.

Umar bertanya kepada pengurus yang sedang berdiri di depan perpustakaan, “Bu, ini RPTRA singkatan dari apa ya?”

“Ruang Publik Terpadu Ramah Anak, Mas.”

“Hooo. Selain banyak masalah, ternyata makin banyak juga akronim di negara ini ya.”, tentu saja Umar mengucapkannya dalam hati.

“Saya baru pertama kali ke tempat ini, Bu. Suka banyak driver ojol pada istirahat nggak ya di sini?”

“Ya kadang ada, tapi nggak banyak.”

“Yaiyalah, ini tempat buat bocah sih umumnya. Kalau gue sering ke sini diam, perhatiin anak-anak, ini pengurus bisa curiga kalau gue predator anak sih.”, tentu saja ini juga tak diucapkan Umar secara verbal. Hanya berputar di pikirannya saja.

“Iya, Bu, saya lagi ajak ponakan main aja mampir ke sini habis jemput sekolah.”

“Oh iya, Mas, silakan. Kalau tinggal dekat sini, ajak aja keponakannya ikut kegiatan di sini. Biasanya ramainya sore. Malam juga kadang ramai kalau ada kegiatan”

“Hoo iya, Bu, nanti kapan-kapan main lagi mampir-mampir. Permisi ya, Bu, saya nemenin anak itu dulu.”

Karena sepi pengunjung, Aboy dan Umar hanya bermain berdua. Setidaknya, mengobati kekecewaan Aboy yang mestinya ia bisa pergi berdua dan lebih intim dengan Ibunya.