Umar dan Tentang Keluhan Pelanggan

Biasanya Umar tidak pernah memilih penumpang, ke mana saja ia angkut. Ia juga tidak memiliki pos khusus atau base camp tempat biasa. Menurutnya, jalanan adalah hidupnya. Di mana saja ada perkumpulan jaket dan helm hijau, ia pede untuk ikut nimbrung, baik untuk sekadar update seputar ojol, atau untuk numpang istirahat sejenak.

Namun hari itu ia memilih untuk menetap dan nongkrong lebih lama bersama ojol lainnya. Di sebuah trotoar yang agak lebar dan difasilitasi sebuah warung kecil, Umar mencoba membaur dengan sesama pengendara ojol lainnya yang sedang berada di lokasi tersebut.

Mulanya ia basa-basi, lalu sampailah pembicaraan ke system pembayaran online yang juga digunakan oleh para pengemudi ojol.

Ojol satu bercerita soal pelanggan yang saldonya sering kepotong, padahal belum melakukan perjalanan. Cerita itu ditanggapi oleh pengemudi ojol lainnya untuk segera melaporkan ke kantor jika menemukan kasus-kasus seperti itu.

“Belum lama ini juga rame tu, Bang, di Twitter ada yang curhat soal buruknya layanan aduan Gojek.” Umar mulai ikut masuk ke dalam obrolan.  

“Ooh iya yang orang partai itu ya?” Saut Abang Ojol lainnya.

“Iya Bang, katanya dia udah bikin laporannya juga ke kantor Gojek tapi nggak ada tanggapan atau tindakan gitu.” Sambung Umar

“Emang itu cerita aslinya gimana Bang? Saya belom denger.” Saut Abang Ojol lainnya.

Umar berusaha menjelaskan kronologinya atas dasar sepengetahuannya dan obrolan di tongkrongan Ojol sebelumnya.

“Katanya sih dia order dari SCBD ke Wahid Hasyim. Si driver mutar-mutar saja di SCBD karena salah jalan, akhirnya dia meminta turun sebelum sampai tujuan.”

“Si penumpang sudah kasih tahu driver disuruh dijemput di pintu belakang gitu, drivernya salah. Terus di Semanggi salah jalan. Masuk lagi ke SCBD salah jalan lagi. Tu penumpang kesal kayaknya, turun di SCBD. Tapi order completed,”, Umar melanjutkan ceritanya berdasarkan kronologi yang ia tahu.

“Ya tapi kadang juga penumpang suka nggak ngertiin kita sih, kasih tau jalannya gitu. Kan nggak semuanya orang sini. Ada yang merantau juga, bar uke Jakarta, Nggak tahu jalan.”

“Bener tu Bang.” Saut Ojol lainnya.

Umar mencoba meluruskan obrolan agar tetap di jalur, “Iya emang, tapi yang dipermasalahin sekarang itu layanan pengaduannya sama si penumpang.”

“Wah kalau itu sih udah urusan kantor sebenernya ya.” Abang Ojol lainnya menjawab.

Yang terlibat dalam obrolan kecil di piggir jalan itu ada 4 orang. Mereka sama-sama sedang berhenti menepi sebentar untuk beristirahat.

“Tapi kalau kantor saya emang gitu Bang, kadang tu keluhan dari customer banyak yang nggak ditanggepin. Saya dapet beberapa cerita juga dari customer. Saya juga nggak ngerti dah kalau kayak gitu gimana, Biasanya kan ke CS aja telepon, terus prosesnya gimana saya nggak tahu.”

“Hooo ya emang beda-beda berarti kantor kita ya. Saya jarang banget denger cerita yang kayak gini.” Saut Umar.

Abang Ojol yang bercerita soal kantor nya menambahkan, “Cuma yaa kalau kita mah yang penting cari uang halal aja udah nggak macem-macem juga aman Bang. Yang gitu biar urusan orang kantoran aja.” 

“Bener Bang, Cuma kadang kasian juga aja penumpang, jadinya nggak puas perjalanannya dan merasa dirugikan,”