Suatu waktu, saat Umar sedang tak membawa penumpang, ia memutuskan untuk berjalan-jalan saja. Memang menghabiskan bensin, tapi mengusir bosan. Nongkrong dengan para ojol lainnya, sudah sering. Berhenti di warung kopi, nyaris setiap saat. Mau pulang, masih malu dengan matahari. Tapi energi untuk bersosialisasi sedang sekarat. Perlu diisi ulang untuk sesaat. Maka jalan-jalan tak tentu arah adalah salah satu obat yang dipilih Umar.

Dari Jalan Minangkabau, ia berbelok ke arah Jalan Sultan Agung. Melintasi pertokoan kakus bekas. Ujung matanya mencuri pandangan ke orang-orang yang sedang mencuci kakus bekas, hingga bersih tak bernoda. Pakai ramuan macam apa ya orang-orang itu, dalam pikirnya.

Tak jauh dari para penjual bilik merenung toko yang menjajakan sepatu bekas dan sepeda juga berjajar mengiringi jalan Sultan Agung yang sempit dan biasanya sibuk, namun kali ini tak sesibuk biasanya. Jalanan cenderung lengang. Barangkali sudah banyak yang angkat kaki dari ibu kota untuk pergi berlibur ke suatu tempat. Atau mungkin hanya menghabiskan jatah cuti. Anak sekolah juga sudah mulai libur.

Dari Jalan Sultan Agung, Umar memilih belok ke kanan, menuju Jalan Teuku Cik Ditiro. Di perempatan yang ketiga di jalan itu, lampu lantas menunjukan warna merah. Umar berhenti di garis terdepan. Biasanya jika baru berganti warna dari kuning ke merah, ia akan terobos. Namun saat itu ia memilih berhenti.

Di ujung jalan, tupai memilih melintas di kabel. Terpaksa dilakukan karena lompat dari pohon ke pohon jaraknya terlalu jauh. Melalui zebra cross semakin jelas tak mungkin. Pemandangan yang membuat otot pipi Umar tertarik yang membuat sedikit senyum di bibirnya.

Ia berjalan-jalan di sekitar kawasan Menteng. Kawasan “orang-orang atas”. Sampai tibalah ia di depan Jalan Cendana, tempat penguasa orde baru berdiam. Pohon-pohon yang mungkin usianya lebih tua dari Umar. Dulu jalan ini tidak bisa dilalui begitu saja. Penjagaannya cukup ketat. Mengingat keluarga Suharto juga tinggal di kawasan yang sama.

Sekarang siapapun bebas melintas. Meski tak banyak yang lewat, tapi sesekali mobil atau motor melalui jalan ini. Bahkan yang berjalan kakipun bisa bebas melangkah di sini. Rumahnya masih berdiri kokoh. Namun tampak sepi, tak terlihat ada kegiatan apapun saat Umar melintasinya. Meski sang jenderal telah tiada, sisa-sisa kekuasaan dan peninggalannya masih terasa masuk ke setiap lini kehidupan kiwari.

Kawasan Menteng telah dilalui, rumah mantan penguasa orde baru juga sudah dilewati, Umar berhenti sejenak di Taman Suropati. Tidak turun dari kendaraan, tapi menghrup oksigen gratis dari pohon besar yang ada di taman itu. 

Ia melanjutkan perjalanannya ke arah Jalan Sabang. Tak tentu arah. Ke mana saja. Pikirannya pun tidak sedang banyak masalah. Hanya menikmati jalan yang memang tak begitu ramai. 

Lanjut putar arah melalui Jalan MH Thamrin. Kanan-kirinya dipenuhi pemandangan gedung-gedung pencakar langit. Sambil membayangkan apa yang dikerjakan orang-orang setiap harinya di dalam gedung. Apa mereka tidak jenuh?

Di depan jalan agak tersendat. Rupanya ada kecelakaan kecil. Motor yang tersenggol oleh mobil atau sebaliknya. Tapi pengendara motor sudah jatuh terduduk di atas aspal. Segitu lowong jalanan, masih ada kecelakaan, dalam pikir Umar. Apa ruang untuk masing-masing kita terlalu sempit, hingga harus bersenggolan satu sama lain?

Di tengah kerumunan orang-orang yang menolong, ia mencoba untuk memperhatikan lebih jelas siapa yang terkapar jatuh terduduk itu. Ketika orang itu membuka helmnya, Umar mengenali wajahnya. Ternyata kawan dekatnya waktu duduk di bangku SMA.