Jakarta diguyur hujan deras pada malam Natal. Paginya diselimuti awan mendung. Cuaca berubah menjadi adem. Pada libur Natal kali ini Umar memilih untuk beristirahat saja. Rebahan di rumah, sementara itu juga cuaca mendukung untuk hanya berleyeh-leyeh di atas kasur. Badannya enggan gerak. Hari Natal ini, ia memutuskan untuk ikut libur.

Sejak matanya terbuka dari tidur semalam yang ditemani suara hujan, kegiatan Umar hanya berselancar saja di dunia maya. Melihat kegiatan kawan-kawannya di media sosial, memantau perkembangan berita yang terjadi di penjuru nusantara.

Beberapa kabar membuatnya ikut riang gembira, beberapa lagi membawanya memasuki perasaan kesal dan marah. Begitulah kehidupan maya. Ia bisa menjungkirbalikkan perasaan secepat itu.

Umar ikut merasa senang ketika melihat kawan-kawannya yang berbeda keyakinan dengannya sedang merayakan Natal bersama keluarga. Berangkat ke Gereja bersama-sama, lalu pulang dan kumpul bersama keluarga besar. Tak jarang ada yang mampir ke sebuah rumah makan, untuk dirayakan bersama. Situasinya mirip Idul Fitri. Nuansa silaturahmi juga terasa.

Di lain sisi, ia membaca sebuah berita, bahwa di beberapa titik di Indonesia, larangan perayaan Natal masih ada. Seperti dilansir oleh Tirto.id, larangan beribadah dan merayakan Natal bersama di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, lahir dengan dalih “kesepakatan bersama” antara pemerintah setempat, pemerintah Nagari Sibakau (semacam desa), tetua adat, tokoh masyarakat, pemuda Sikabau, dan pihak lain. 

Umat Kristen di Dharmasraya ingin merayakan Natal bersama di satu rumah singgah yang dijadikan tempat ibadah bersama. Namun sejak 2019 hingga tahun ini, mereka tidak bisa merayakan Natal bersama. Mereka diizinkan merayakan Natal bersama asalkan pergi ke gereja di kawasan Sawahlunto, yang jaraknya sekitar 120 kilometer. Akibatnya, mereka hanya bisa beribadah dan merayakan Natal di rumah masing-masing.

Masih dalam kasus serupa dan dalam tulisan yang sama juga diceritakan, warga Kristen di Nagari Sungai Tambang, Silunjung, mengalami hambatan yang sama. Umat Kristen di Silunjung dilarang merayakan ibadah kebaktian maupun Natal bersama oleh pemerintah setempat. Hanya diizinkan menjalani ibadah di rumah masing-masing.

Hal-hal semacam ini membuat Umar geram. Mengapa hal sederhana untuk membiarkan orang lain beribadah sesuai keyakinannya masing-masing menjadi begitu pelik. Belum cukup sampai di pelarangan perayaan Natal, bahkan mengucapkannya pun dikampanyekan sebagai tindakan terlarang. Sudah dilarang beribadahnya, dilarang pula memberi ucapan selamat.

Kejadian ini menimbulkan tanda tanya besar di kepala Umar. Apakah orang-orang yang melarang ini dan itu justru tidak yakin dengan keyakinnya sendiri? Hingga harus bersedia repot untuk teriak-teriak bahwa ini tidak boleh dan itu tidak boleh. Atau jangan-jangan mereka menyadari kelemahannya? Atau hanya rasa iri karena terlihat lebih meriah? Atau justru malah ini dipelihara oleh beberapa pihak dan dijadikan industri? Dan banyak lagi pertanyaan yang muncul di benaknya.

Tapi Umar beranggapan bahwa minimal, di lingkungannya dan kawan-kawannya, ia berusaha bersikap saling menghormati. Ia merasa bahwa hubungan baik juga perlu dijaga. Silaturahmi bukan hanya untuk yang seagama, tapi lintas agamapun perlu dijalain. Sebab ia tak pernah tahu kapan ia akan membutuhkan pertolongan, dan tak pernah tahu siapa yang akan menolong. Barangkali dari kawan yang lintas agama.

Umar teringat seorang besar pernah berujar, bahwa tidak penting apapun agama atau sukumu, jika bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak akan tanya apa agamamu. 

Umar menghentikan pembacaan berita terkait pelarangan ibadah dan peryaan Natal. Semakin dibaca, membuatnya semakin sedih dan kesal. Ia kembali melihat situasi media sosial, beberapa kawannya yang melintas di linimasa dan terlihat sedang merayakan Natal, ia beri ucapan selamat.

Selamat Natal, semoga damai menyertai kita semua.