Tidak ada perayaan khusus untuk tanggal 23 Desember 2019. Satu-satunya alasan yang membuat tanggal ini jadi perhatian barangkali karena posisinya yang terjepit. Jatuh pada Senin, sementara Selasa hari libur untuk cuti bersama, dan Rabu untuk Hari Natal.

Umar tak mengenal hari kejepit. Baginya, tak semua bisa mendapat keistimewaan libur. Lagipula ia tidak sedang berlibur. Istirahat juga sudah dirasa cukup setelah seharian rebahan di rumah pada Minggu. Libur terlalu lama pun bisa mengganggu pemasukan.

Seperti biasanya Umar berkeliling saja, tergantung ke mana arah tujuan penumpang. Sampai di tempat tujuan satu, sesekali diselingi dengan pesanan makanan. Lanjut lagi dengan penumpang berikutnya dan tujuan yang berbeda. Begitu seterusnya.

Di satu waktu setelah istirahat makan siangnya.Umar mendapat penumpang dengan tujuan ke stasiun Sudirman. Sang penumpang membawa tas yang biasa terpampang logo tempat fitnes ibu kota dan membawa ransel yang juga terisi penuh.

“Mau ditaro di depan satu tasnya Bang?” Umar menawarkan keringanan untuk si penumpang, mengingat bawaan si penumpang terlihat sesak.

“Boleh, Bang. Titip satu tas di depan ya.” Si penumpang menyambut baik penawaran dari Umar. Toh itu memudahkannya.

“Penuh banget tasnya, Bang, mau pulang kampung?” Umar mencoba membuka obrolan.

“Iya, Bang, mau pulang kampung.” SI penumpang menjawab pertanyaan basa-basi dari Umar.

“Wah, beneran mau pulang kampung toh. Di mana kampungnya, Bang?”

“Simalungun, di Sumatera Utara.”

“Apa, Bang? Simalungun?”

“Iya, Simalungun. Jarang dengar, ya?”

“Iya, Bang, baru kali ini saya dengar. Biasanya seringnya Medan aja kalau Sumatera Utara.”

“Yaa kan Sumatera Utara luas, Bang. Dan nggak semua bisa dibilang batak.” 

“Iya bener tu, Bang. Ada kawan saya gamau dibilang Batak. Maunya Karo. Ada lagi yang mau dibilangnya orang Toba.”

“Haha iya memang gitu. Agak rumit jelasinnya. Saya juga belum paham sepenuhnya.”

Umar berusaha mengalihkan pembicaraan ke topik lain, alih-alih bertanya lebih dalam, si penumpangnya pun sudah mengonfirmasi tak mengerti sepenuhnya soal keturunan dan perbedaan dalam Batak.

“Berarti libur panjang sekalian tahun baru di kampung, Bang?”

“Iya nih. Sudah 3 tahun nggak pulang kampung.”

“Lama juga ya. Sudah berapa lama di Jakarta, Bang?”

“Baru 5 tahun di Jakarta. Tahun kemarin mau pulang kampung, tapi nggak jadi. Baru sempat tahun ini.”

“Wah asik dong, cuti, liburan, ketemu keluarga.”

“Iya Bang, kebetulan sisa cuti masih banyak, mau Natalan dan tahun baru di kampung. Kangen orang tua.”

“Semoga semuanya pada sehat-sehat ya, Bang.”

“Amiinn. Terima kasih, Bang.”

“Tapi ini jalanan kayaknya lebih sepi ya, Bang.” Kali ini giliran si penumpang yang menghidupkan obrolan.”

“Iya betul Bang. Dari pagi ini nggak terlalu macet kok. Biasanya kan Senin pagi ampun-ampunan deh. Ini tumben nih sampe jam segini nggak terlalu macet. Sudah banyak yang liburan kali ya Bang.”

“Iyaa orang Selasa – Rabu libur lagi.”

“Atau ya pada banyak yang bolos juga kali orang kerja haha”

“Yaa mungkin karena nanggung kali Bang.”

“Ini abang mau naik kereta ke bandara ya?” 

“Iya, Bang.”

“Kenapa nggak dari Manggarai aja Bang?”

“Dari sini lebih nyaman Bang.”

“Iya sih, bagus stasiunnya. Manggarai kepenuhan.”

Sebentar kemudian, mereka tiba di tempat tujuan.

“Hati-hati di jalan ya Bang. Selamat Natal. Selamat berkumpul sama keluarga.”

“Oh, iya, Bang. Terima kasih ya.”