Umar dan Pelecehan Seksual

Selepas mengantar penumpang ke tempat tujuan, rintik hujan mulai berlomba-lomba menyentuh bumi. Umar merasa belum waktunya berteduh, belum deras. Tak lama kemudian, air tumpah dari langit, hujan deras, terpaksa ia berteduh dulu di depan sebuah bengkel yang sudah tutup. Pengendara roda dua lainnya juga mulai berteduh. Ada yang menepi sambil mengambil mantel hujan, ada yang hanya berdiri dengan tatapan kosong, ada yang mengganti sepatunya dengan sandal jepit.

Umar membawa jas hujan di bawah jok motornya, tapi ia memilih untuk berteduh. Bisa sembari istirahat, pikirnya. Di sebelah Umar, ada seorang pemuda kisaran usia 30an, berpenampilan cukup rapi, mengenakan pantofel dan tas selempang. Ia memulai pembicaraan dengan Umar untuk meminjam korek api.

“Ada korek api, Bang?”

“Ada ni, cuma rokoknya yang abis.”, jawab Umar sambil berharap ia dipersilakan untuk mengambil sebatang.

“Ini, Bang, ambil aja. Tukeran hehe.”

“Wah, bener nih? Terima kasih, lho.”, sautan yang terdengar sambil cengar-cengir mewakili isi hati Umar yang gembira, bahwa akhirnya ada yang menawarkan sebatang rokok.

“Nggak bawa jas hujan, Bang?”, Umar melontarkan basa-basi yang sebenarnya tidak terlalu perlu, tapi sebagai tambahan terima kasih, obrolan kan bisa jadi perlu, pikir Umar.

“Kebetulan nggak ni, Bang, kelupaan. Kemarin abis dijemur di rumah belum dimasukin ke jok motor. Mau diterusin jalan, tapi deras. Bawa laptop soalnya.”

“Hooo. Saya bawa jas hujan sih, tapi mau neduh aja dulu, sambil istirahat.”

“Narik dari pagi, Bang?” Si pemuda juga mencoba agar obrolannya tidak mati.

“Iya dari habis subuh saya sudah keluar. Ini juga rencananya sih cari tarikan yang searah pulang aja. Biar sekalian.”

“Sudah berapa lama, Bang, jadi ojol gini?”

“Lumayan, Bang, udah tahun keempat deh ni.”

“Tadi siang saya baca-baca berita online gitu, Bang. Ada kasus pelecehan seksual gitu sama pengendara online di Malang. Mobil sih, bukan motor. Kalau motor gitu ada kasus-kasus serupa nggak sih, Bang?”

“Oohh iya saya lihat juga berita itu. Mau digebukin massa gitu ya.”

“Ya ada lah, Bang. Motor nggak terhindarkan juga dari kasus kayak gitu. Gimana orangnya sih kalau itu kan. Mau di mobil, di motor, bisa jadi hewan aja tiba-tiba. Saya juga kesal soalnya. Kalau gini kan seolah-olah driver jadi rata gitu semua, mau mobil, mau motor. Padahal kan nggak semuanya.”, sambung Umar dengan nada bicara yang agak keras.

“Nah itu ada hukumannya nggak sih, Bang, kalau dari kantornya atau perusahaannya? Dipecat gitu, misalnya?”

“Iyalah ada hukumannya. Itu bisa dipecat atau di-banned seumur hidup, Bang. Trus namanya tu jadi black list gitu, jadi nggak bisa daftar ojek online lagi di Grab atau di Gojek. Kalau sudah kayak gitu, siapa yang rugi coba? Ya pelakunya lah. Selain ngerugiin orang lain, dia ngerugiin dirinya sendiri juga. Nafsu sesaat, susah selamanya. Saya sih ogah.”

“Iya bener sih, Bang. Emang harus langsung tegas hukumannya. Kalau nggak, ya nggak kapok-kapok. Biar bisa jadi contoh buat yang lain juga.”

“Iya emang, Bang. Biar yang lain tu juga pada mikir perlakuan kayak gitu bisa ngerugiin banyak orang.”

Masih belum puas melampiaskan kekesalannya terhadap kasus pelecehan seksual tersebut, Umar menambahkan komentarnya,

“Makanya ni jadi laki-laki, kalau sekolah itu jangan cuma kepalanya yang di atas yang dibikin pinter. Yang bawah juga perlu dididik biar nggak sembarangan lampiasin hawa nafsu.”

“Hahaha bener, Bang, bener. Setuju.”

Hujan mulai mereda, beberapa pengendara yang menepi mulai menghidupkan motornya dan melanjutkan perjalanan lagi. Begitu pula dengan Umar.

“Bang, saya duluan ya. Mumpung reda. Terima kasih rokoknya.”, ujar Umar.

“Oh iya, Bang. Saya juga mau jalan lagi nih. Hati-hati ya, Bang.”