Kesedihan terasa bukan hanya oleh para penggemar olahraga basket, tapi seluruh dunia yang pernah tahu namanya ikut merasa kehilangan, ketika Kobe Bryant meninggal pada Senin (27/1). Legenda LA Lakers tersebut mengalami kecelakaan helikopter yang juga menewaskan putrinya, Gianna Bryant, di California. 

Tak terkecuali kesedihan yang ikut dirasakan oleh Umar saat ia tahu kabar bahwa salah satu legenda basket NBA meninggal. Umar bukan anak basket, ia juga bukan penonton setia NBA, tapi ia tumbuh di penghujung era Michael Jordan dan memasuki masa keemasan Kobe Bryant. 

Umar salah satu penggemar olahraga. Pengetahuannya tentang beberapa cabang olahraga terpapar dari ayahnya, yang sejak dahulu berlangganan koran GO dan Bola. Hampir semua informasi tentang olahraga dilahap olehnya. Tak terkecuali basket.

Ayahnya pernah membelikannya baju basket Chicago Bulls, bertuliskan nama Jordan di belakangnya. Tentu saja bukan merchandise yang asli. Seiring pertambahan usia dan informasi perkembangan basket yang ia dapatkan dari koran, Umar mulai menginginkan baju LA Lakers dengan bertuliskan nama Bryant di belakangnya.

Umar tak pernah benar-benar menekuni olahraga basket. Meski nyatanya memang ia tak pernah benar-benar menekuni olahraga apapun. Cita-citanya menjadi atlet kandas semua. Tapi nama Bryant selalu terdengar nyaring. 

Ketika berada di SMA, Umar cukup sering bermain basket saat jeda istirahat. Hanya sekadar iseng saja bersama teman-temannya. Bukan untuk gaya-gayaan tentunya. Menurutnya basket adalah olahraga yang cukup mahal. Sepatunya saja mahal. Ayahnya tak mampu membelikannya sepatu basket yang bagus. Bukan tidak ada uangnya, tapi anggarannya memang bukan hanya untuk membelikan anaknya sepatu basket.

Akhirnya Umar hanya sekadar bermain-main saja pada jam istirahat atau saat pelajaran olahraga. Menurutnya aturan basket cukup rumit. Tapi bukan berarti tidak bisa meliuk-liuk atau bergaya ala pemain basket NBA, kan?

Kadang hanya lempar bola saja dari dekat ring. Kadang bermain 3 on 3. Kadang juga ada pertaruhan dalam permainan itu. Dan tentu saja ia berkhayal bahwa dirinya adalah Kobe Bryant.

Saat itu nama LA Lakers melambung tinggi. Terlebih saat ia memiliki kawan duet “raksasa” bernama Shaquille O’Neal. Kemudian Shaq memutuskan untuk pindah, namun Bryant tetap bertahan. Selama 20 musim ia bertahan di LA Lakers sejak 1996 hingga pensiun pada musim 2015-2016.

Seiring berkembangnya zaman, teknologi bisa dalam genggaman, dan informasi seolah tak terbatas. Umar lebih terpapar dengan beberapa cabang olahraga yang dahulu ia hanya lihat dari koran atau televisi. Informasi yang dahulu hanya ia lihat secara mingguan, kini tak terbatas melalui media sosial yang bisa mendekatkan yang jauh, namun di satu sisi menjauhkan yang dekat.

Tak terasa pada 2016 idolanya itu memilih pensiun. Kiprahnya di dunia basket meninggalkan banyak inspirasi bagi generasi muda yang ingin mengikuti jejaknya. Kobe Bryant bukan hanya berpengaruh di bidangnya, tapi juga di bidang-bidang lainnya. Itu terbukti dengan banyaknya orang yang merasa kehilangan, meski tak bersentuhan langsung dengan basket.

Selamat jalan, Kobe Bryant.