Beberapa hari yang lalu, beredar sebuah video seorang bocah yang tertabrak mobil saat sedang menyeberang jalan bersama ibunya. Dalam video itu menampilkan kisah heroic dari seorang anak yang mencoba menolong ibunya dan meluapkan amarahnya kepada pengemudi yang menabraknya.

Si bocah dan ibunya jatuh tersungkur. Namun si anak bergegas berdiri dan mencoba menolong ibunya bangun. Tidak berhenti sampai di situ, si anak tersebut melampiaskan kekesalannya pada pengemudi mobil dengan menendang bagian depan mobil tersebut dan marah sambil menunjuj-nunjuk si pengemudi, sebelum kembali berusaha sambil menangis dan membangunkan ibunya yang masih terduduk diam di aspal.

Kejadian tersebut sontak membuat jalan menjadi ramai, banyak yang menolong sang ibu. Si pengemudi juga mencoba bertanggung jawab atas hal itu dengan mencoba ikut membantu membangunkan si ibu dan membawa ke mobilnya untuk dibawa ke perawat lebih lanjut.

Video ini cukup banyak dibicarakan orang. Terutama aksi heroik yang dilakukan oleh si anak. KIsah ini tak luput juga dari perhatian Umar. Ia melihat video ini berseliweran di media sosialnya.

Kebetulan setelah melihat video tersebut, Umar mendapat penumpang seorang ibu sekaligus guru. Di perjalanan mengantar penumpangnya ke tempat tujuan, Umar berbincang tentang hal yang ada di video tersebut dengan penumpangnya.

“Bu, kebetulan tadi saya sebelum jemput ibu habis lihat video anak pakai seragam, kayaknya ma uke sekolah atau dijemput dari sekolah sama ibunya, terus ketabrak mobil. Si anaknya marah sampe nendang mobilnya buat belain ibunya. Saya sampai terharu juga lihatnya.”

“Oh ya? Saya belum lihat video itu, Mas. Di mana videonya ya?”

“Di medsos aja Bu tadi saya lihatnya.”

“Bukan, maksudnya kejadiannya di mana, Mas?”

“Oohh kirain saya lihatnya di mana hahaha. Maaf, Bu. Di China sih kejadiannya. Bikin hati saya tersentuh gitu, Bu.”

“Kirain di sini, Mas.”

“Bukan, Bu. Tapi saya salut sih sama mental anaknya. Berani gitu walaupun sambil nangis, tapi masih mau ngelawan dan bantuin ibunya.”

“Bisa jadi itu dia memang refleksnya, Mas, buat luapin marahnya karena ada yang menyakiti ibunya. Berarti itu hubungan sama ibunya dekat banget tuh.”

“Iya kayaknya ya, Bu. Jadi ada rasa pengen jadi pahlawan gitu tiba-tiba buat belain ibunya.”

“Itu di sekolah diajarin hal-hal kayak gitu nggak sih, Bu? Dulu saya sekolah belajar PPKn Cuma tenggang rasa, tanggung jawab, lapang dada, dll. Tapi kalau dihadapi sama kejadian yang spontan gitu juga bingung reaksinya harus gimana.”

“Ya kalau kaya gitu secara prakteknya sih nggak diajarin di sekolah, Mas. Yang paling menentukan emang di lingkungan keluarga sih dididiknya gimana. Karena nanti akan kelihatan di sekolah.”

“Kirain udah berkembang jauh gitu, Bu, sekolah. Jaman udah beda, tantangannya juga berubah, kirain ada selipan pelajaran apa gitu prakteknya yang bisa memperkuat mental. Soalnya kan kalau jaman saya sekolah dulu nggak diajarin tu kalau menghadapi kekalahan gimana caranya, kalau sedang menerima kemenangan atau angin keberuntungan lagi berhembus tu harus gimana. Yang kayak gitu kan penting juga tu, Bu, buat kehidupan sehari-hari.”

“Bener tuh, Mas, itu juga emang penting. Tapi kan kita kurikulumnya juga ganti-ganti terus. Jadi yang ini belum selesai, sudah ada lagi yang baru. Gitu terus.”

“Yah, nggak heran ya, Bu, makanya kita di situ-situ aja kayak jalan di tempat hehehe.”

Si ibu tidak membalas lagi omongan Umar. Setelah menurunkan penumpangnya, Umar masih berusaha menutup pembicaraannya,

“Wah, Bu, jadi kemana-mana ni ya obrolannya.”

“Eh nggak apa-apa,Mas. Terima kasih ya.”