Umar dan Kepercayaan Diri

Menjelang tenggelamnya matahari, kota sedang sibuk, jalanan penuh, bukan hanya sesak karena kendaraan, tapi bising klakson juga ikut menyumbang keriuhan. Di beberapa titik terlihat deretan para pekerja dengan muka cemas sambil sesekali menengok layar hape, lalu membuang pandangan ke jalan, menengok hape lagi, dan sorot matanya betah di sana untuk sementara.

Di sisi lain, barisan pasukan aspal yang umumnya berkendara roda dua ikut menghiasi jalanan dengan helm dan jaket hijau. Salah satu dalam pejuang aspal bernama Umar. Seperti rekan-rekan seprofesinya, di jam-jam sibuk pengosongan Gedung pencakar langit, Umar sudah siap menangkap penumpang.

Tak lama ia menunggu di sekitar gedung-gedung perkantoran, notifikasi masuk sebagai tanda bahwa ada calon penumpang yang menunggunya. Sebelum tancap gas, ia menyempatkan diri untuk mengetik “ok tunggu” pada aplikasi obrolan yang tersedia, meski sang penumpang tidak menulis pesan apapun.

“Atas nama Rizka, atas nama Rizka”, Umar berteriak sebab banyak orang berjejer dan menunggu di trotoar. Lalu Rizka menjawab panggilan Umar sambil datang menghampirnya. Umar memberikan helm dan mempersilakan Rizka naik ke kuda besinya, “ayo mbak, kita kemon!”. Tanpa respon apapun, Rizka naik ke motor dan siap menuju rumah.

 “Mbak, nanti saya lewat jalan tikus gitu ya. Soalnya di perempatan lampu merah ujung macet banget.”, ujar Umar.  

“Oke, Mas, terserah aja yang penting sampai.”, Rizka menjawab kalimat dari Umar.

Demi mengusir bosan di perjalanan, Umar mencoba bangun obrolan dengan penumpangnya. Mulanya ia bertanya soal pekerjaan, “kerja di mana, Mbak?”

“Di bank, Mas.” Rizka hanya menjawab singkat.

“Ooh di bank. Teller ya, Mbak?”, Umar berusaha membuat agar obrolannya tak putus.

“Bukan, Mas. Marketing”, namun Rizka masih menjawab dengan singkat. Sebenarnya ia cukup malas meladeni obrolan di motor. Namun Umar masih tetap berusaha menacari celah agar obrolannya cair, dan perjalanan tidak terasa.

“Sudah kerja berapa lama, Mbak? Ada 3 tahun?”

“Ini masuk tahun keenam, Mas.”

“Wah, lumayan lama juga ya. Sudah empuk dong ni kursinya ya Mbak?”

“Hahaha seempuk-empuknya, tetap pegal juga Mas.”

“Yaa setidaknya sudah banyak pengalaman kerja, sudah banyak yang dilewati ya Mbak. Nggak kaya saya nih gini-gini aja hahaha.”

“Yaa kan kita sama-sama cari uang dan kerja Mas, Cuma beda profesinya aja. Yang penting nggak mencuri.”

“Bener tu Mbak. Tapi saya kalua lihat teman-teman lama saya sekarang sudah pada jadi orang semua Mbak. Sudah pada sukses. Saya nggak berani datang ke reunion Mbak. Malu Cuma ngojek.”

“Loh, kenapa Mas? Kan uangnya halal, sama aja kerja juga.”

Rizka yang mulanya menanggapi Umar seadanya, mulai mendekatkan kepala dan menjulurkan telinga ke arah depan, meski terhalang helm, ia berusaha mendengar tiap kalimat yang diucapkan Umar.

“Iya Mbak, tapi tetap beda rasanya. Kalau saya lihat tu di medsos kawan-kawan saya tu ada yang jadi sales mobil, sudah sukses. Ada yang usaha punya agen gas dan gallon sendiri, sudah sukses juga. Ada juga yang kerjanya ke luar negeri mulu. Ada wartawan yang meliput olahraga apa aja, jadi dia sering kemana-mana gitu Mbak. Saya mah di sini-sini aja hahaha.”

“Yah, Mas, medsos mah jangan jadi patokan. Kan yang kita tahu ga sepenuhnya. Siapa tahu masalahnya mereka lebih berat.”

“Bener Mbak. Cuma saya ngerasanya kok kawan-kawan saya sudah sampai di tahapan jauh gitu, sementara saya di sini-sini aja. Kadang lihatnya senang, sudah pada sukses. Kadang juga saya iri dan minder Mbak. Makanya saya @#$%^&*()!?/<-+=&^%”

“Hah, gimana Mas?”

“Iyaa makanya saya kalau diajak ketemu kumpul-kumpul reunian gitu nggak pernah mau Mbak. Malu sama diri sendiri.”

“Wah jangan gitu Mas, masa gara-gara Cuma lihat di medsos teman-temannya Mas sudah keliatan sukses terus silaturahmi jadi putus juga.”

“Bukan gitu Mbak, saya takut nggak nyambung aja gitu. Kan sudah beda dunianya bukan sekolah lagi.”

“Iya tapi kalua memang Namanya teman lama sih harusnya pada ngerti situasinya yang sekarang.”

“Iya sih Mbak. Ngomong-ngomong sudah mau sampai ni Mbak. Padahal masih seru ngobrolnya saya masih mau curhat hahaha.”

“Ya siapa tau nanti lain kali ketemu lagi Mas.”

“Susah Mbak, kan yang ngojek bukan Cuma saya hahaha.”

Rizka tidak membalas kalimat Umar. Ada diam sesaat, dan tak lama kemudian tiba di tujuan. Setelah menurunkan Rizka di tempat. Umar berniat menyudahi petualangan mencari rupiah hari itu. Ia merasa hari ini mesti disudahi dengan pulang ke rumah dan beristirahat. Di jalan pulang, bayang-bayang kesuksesan kawan-kawan sekolahnya dulu masih mengikuti.