“Yailah, gue kesiangan dah ni. Habis dah rejeki gue dipatok negara ayam”, Umar menggerutu sendiri sambil menunggu mesin motornya panas. Notifikasi pesan penanda ia harus jemput penumpang, atau antar barang, atau beli makan, tak kunjung masuk. 

Terlintas dalam pikirannya untuk jalan dan menunggu di dekat pemukiman atau apartemen. Siapa tahu ada yang berangkat lebih siang atau antar barang pun tak jadi soal. Bergeraklah Umar menuju sebuah apartemen di bilangan Pancoran.

Tak lama ia menunggu di sekitar gerbang depan apartemen, ponselnya memberi sinyal, ia dapat penumpang pertamanya menuju Cikini. “Saya sudah di pintu depan Mas”, tulis Umar dalam pesan singkatnya, yang biasanya hanya ia tulis “ok otw”. Sebentar kemudian, orang yang menjadi pelanggan pertamanya datang dan mereka berlalu meninggalkan rumah yang ditumpuk-tumpuk itu.

“Penglaris nih Mas. Saya baru keluar. Kesiangan. Masnya emang kesiangan juga apa emang biasa berangkat jam segini Mas?”, Umar membuka pembicaraan, saat itu jarum jam sedang ada di posisi 09.17.

“Kesiangan juga sih Mas. Biasanya saya 08.45 sudah berangkat. Tapi nyantai kok. Nggak ada jam kantor.” 

“Loh, kok nggak ada jam kantor gitu Mas?”

“Iya, cuma nanti pulangnya di atas jam 6 berarti. Dihitung 8 jam kerja aja Mas. Cuma ya biasanya juga pulang malam terus sih. Jadi sama aja hahaha.”

“Oh, enak juga ya. Saya juga nggak ada jam kerjanya Mas. Kalo mau dapat uang ya narik, kalo males juga ya nggak usah narik. Tapi nggak dapat uang hahaha.”

“Iyaa Mas.”

Setelah mendengar jawaban dari penumpangnya yang hanya mengatakan “iya”, Umar berpikir, bahwa kemungkinan besar ini orang tidak dengar apa yang ia bicarakan. Seringkali Umar menemui penumpang yang begitu, hanya menjawab “iya” saja. Entah karena tidak dengar, atau malas diajak obrol. Umumnya sih dugaan yang pertama.

Atas dasar itu pula Umar memperlakukan penumpangnya dengan menahan ego bicara dan memaksimalkan pendengaran agar ia juga dapat cerita lebih banyak. Toh secara letak pun mulut si penumpang lebih dekat dengan telinganya, ketimbang Umar harus agak menengok saat bicara, agar gelombang suara sampai ke telinga penumpang. Oleh sebab itu Umar lebih sering bertanya.

“Sudah lama tinggal di apartemen itu Mas?”

“Belum ada setahun Mas.”

“Kenapa nggak cari yang lebih dekat sama kantor Mas?”

“Wah, mahal Mas. Ini juga karena lebih dekat sama kantor istri aja.”

“Oohh sudah berkeluarga ya Mas?”

“Iya Mas baru nikah.”

“Tinggal di apartemen gitu enak nggak sih Mas? Bukannya jadi nggak kenal tetangga ya?”

“Yaa sama aja kayak ngekost Mas. Kalo sama tetangga ya jarang ketemu kan biasanya sama-sama kerja.”

“Iya, saya suka bayangin gitu kalau tinggal di situ apa enaknya nggak kenal tetangga.”

“Tapi nggak kenal tetangga ada bagusnya juga Mas, nggak nambah beban dengar omongannya. Kan biasanya ada aja yang komentarnya usil hahaha.”

“Bener Maaasss, beneeerrr. Emang ada aja sih yang diomongin.”

“Hahaha tapi ya yang baik juga ada.”

“Iyaa itu juga bener Mas.”

“Nah kalau kayak gitu ada RT atau RW nggak tu Mas?”

“Kalau itu sih kayaknya nggak ada deh Mas. Tapi ada semacam paguyuban penghuninya gitu. Ya mungkin jadinya mirip-mirip RT/RW gitu lah.”

“Hoo gitu yaa. Mungkin sama kali ya Mas.”

Setelah itu masih banyak pertanyaan yang tersimpan di pikiran Umar, tapi ia mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih jauh. Nanti saja, pikirnya, kalau dapat penumpang lagi yang lain yang tinggal di apartemen. Siapa tahu ceritanya berbeda dan bisa dapat gambaran lebih luas.