Sejak kebanjiran pada awal 2020, Umar memiliki kekhawatiran terhadap hujan. Meski di beberapa elemen, hujan memang membawa kebaikan, tapi bagi mereka yang terkena dampak banjirnya, hujan menjadi salah satu hal yang mesti diantisipasi, karena menolaknya jelas tak mungkin. Sehebat-hebat manusia merekayasa cuaca, jika memang sudah waktunya turun, hujan tak pandang bulu.

Kali ini mendekati Imlek, yang Umar khawatirkan bukan perayaannya, tapi curah hujannya. Menurut cerita orang-orang yang ada di sekelilingnya, Imlek identik dengan hujan. Ditambah lagi dengan bumbu cerita jika turun hujan pada saat Imlek tiba, maka hoki yang didapat juga lebih besar. Hujan dijadikan salah satu pertanda hoki atau ciong. 

Tapi juga rasanya tak adil bila Imlek dijadikan sasaran pertanda turun hujan, lalu tergiring ke arah pernyataan yang lebih rasis. Sementara itu, masyarakat Tionghoa di Indonesia sudah bermain petak umpet untuk merayakan Imlek sejak masa penjajahan Belanda.

Imlek baru kembali dirayakan secara terbuka sejak masa penjajahan Jepang. Melalui keputusan Osamu Seiri No. 26 Tanggal 1 Agustus 1942, pemerintah pendudukan Jepang menjadikannya sebagai hari libur resmi. Itu adalah pertama kalinya dalam sejarah Tionghoa di Imlek di Indonesia menjadi hari libur.

Pada masa pemerintahan presiden Sukarno, Imlek tetap dirayakan. Kendala mulai dijumpai ketika Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14 Tahun 1967 dikeluarkan oleh Presiden Soeharto. Soeharto melarang segala hal yang yang berhubungan dengan Tionghoa, mulai dari kepercayaan, keagamaan, adat istiadat, hingga perayaan Imlek.

Inpres tersebut baru dicabut ketika Gus Dur menjadi presiden, lalu Megawati Soekarnoputri melanjutkannya dengan mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2002 yang menjadikan Imlek sebagai hari libur Nasional.

Sejak itu pula kemeriahan Imlek kembali terasa hingga saat ini. Ornamen warna merah kerap menghiasi berbagai tempat-tempat publik. Pertokoan juga ramai dengan menjual pernak-pernik Imlek, dan Barongsai kembali meliuk-liuk di muka umum.

Serupa tradisi perayaan Lebaran, masyarakat Tionghoa juga mengenakan pakaian baru, yang biasanya didominasi warna merah. Mereka percaya akan pentingnya penampilan dan sikap baru yang optimis menyongsong masa depan.

Warna merah mencolok yang identik dengan Imlek juga sebenarnya sarat makna. Dikisahkan bahwa di negeri Tiongkok sana, ada raksasa yang bernama Nian. Raksasa itu sangat rakus, ia bisa melahap apapun, mulai dari hasil panen, hewan ternak, hingga manusia. Untuk menanggulanginya, para penduduk menyiapkan semacam sesajen di depan rumah mereka. 

Namun kejadian yang tak disangka adalah Nian lari ketakutan ketika bertemu dengan seorang bocah yang mengenakan pakaian berwarna merah. Penduduk berkesimpulan bahwa Nian takut dengan warna merah. Maka dihiasilah rumah-rumah penduduk dengan pernak-pernik berwarna merah. 

Ada pula kisah lain yang menceritakan bahwa Nian pergi saat bambu-bambu milik penduduk terbakar dan mengeluarkan suara letusan yang mengakibatkan sang raksasa ketakutan. Maka saat musim semi tiba, penduduk mulai menyulutkan mercon.

Hingga kini tradisi tersebut masih awet. Menghiasi rumah dengan warna merah dan menyalakan mercon menjadi bagian dari perayaan tahun baru, atau dikenal dengan nama Guo Nian yang berarti “menyambut tahun baru”, atau secara harafiah itu berarti “mengusir Nian”.

Sementara itu, makanan yang identik dengan perayaan Imlek juga beragam. Mulai dari kue lapis legit dan ikan bandeng yang dianggap melambangkan rezeki. Mie adalah menjadi makanan yang wajib ada karena disimbolkan sebagai panjang umur. 

Imlek di kalangan orang-orang sekeliling Umar sering dijadikan sasaran sebagai pendatang hujan. Padahal memang letaknya saja yang jatuh bertepatan dengan musim penghujan di Indonesia. Padahal di negeri asalnya, Imlek adalah perayaan yang ada di musim semi.

Selamat Tahun Baru Imlek bagi yang merayakan. Selamat berlibur bagi yang tidak merayakan.

Gong xi fat chai.