Umar dan Garuda

Setelah pagi berjibaku dengan kemacetan kota mengantar penumpang ke berbagai tujuan, Umar berniat mengambil jeda untuk istirahat di sebuah warung kopi. Baru saja niat terbesit, notifikasi di aplikasinya berbunyi. Ia urung niat melipirnya, “tanggung deh ni ah satu lagi aja baru abis itu istirahat.”

Ia jalan memasuki gang-gang yang umumnya diisi oleh indekos sambil tengok kanan-kiri mencari alamat di mana ia harus menjemput penumpangnya. Tak lama berselang, dijumpainya seorang pria di depan indekos dan menanyakannya, “Mas Umar, ya?”

“Betul, Mas.” Umar menepi.

Sambil berjalan keluar dari gang, Umar melontarkan pertanyaan kecil, “Jam segini baru jalan, masuk siang ya Mas?”

“Iya Mas kebetulan lagi agak siang jalannya. Jalan pagi juga sama aja nyampenya siang.” Jawab si penumpang.

“Iya sih Mas bener juga. Berarti nggak ada jam kantornya tu ya kalua jalan siang gini? Atau nanti pulangnya agak malam juga?”

“Iya Mas, kalau jalan agak siang gini nanti saya pulangnya juga jadi agak malam. Pokoknya biasanya dihitung 8 jam kerja.”

“Oohh gitu, asik juga ya Mas bisa fleksibel gitu jamnya. Kalau boleh tau kerja di mana Mas?”

“Di media Mas.”

“Wah wartawan Mas?”

“Yaa bisa dibilang begitu lah kira-kira.”

“Sekarang lagi ramai tu ya Mas berita soal Dirut BUMN itu. Saya ngikutin tu beritanya. Lihat-lihat di Twitter. Udah mah nyelundupin motor, nyeleweng pula.”

“Hahaha iya Mas. Emang lagi rame soal itu.” 

“Saya baca juga tu Mas di Twitter ad arame banget bukan cuma berita motornya, tapi berita hubungannya sama pramugarinya. Sembarangan banget ya duit negara dipake buat operasi plastik lah, jalan-jalan lah, kacau Mas.”

“Oiya Mas?” 

“Iya Mas. Banyak tu twitnya saya liat sampai bersambung gitu. Ceritanya soal si perempuan simpenannya itu. Kalau udah pada di atas gitu suka pada nggak tau diri ya. Gimana perasaan istri sama keluarganya tu ya?”

“Ya kita kan juga nggak tau keluarganya gimana Mas.”

“Iya sih, tapi itu tetep jadi semena-mena sama karyawan lainnya Mas. Karena merasa diamanin Dirut, si perempuannya jadi semena-mena juga sama karyawan lainnya. Efeknya kan jadi kemana-mana Mas.”

Si penumpang tak menjawab apapun. Ia hanya berusaha mendengar dan menyimak dari apa yang diceritakan oleh Umar.

“Saya nggak abis piker Mas, pakai uang negara loh.” Umar masih melanjutkan obrolannya. Ia sudah kadung menggebu.

“Ya sejenis korupsi sih Mas.”

“Iyalah, pantesan BUMN jarang untung. Itu langsung dipecat ya Mas?”

“Iya langsung dicopot jabatannya.”

“Yaa sekalian sama yang pramugarinya itu lah kalau bisa. Soalnya salah satu racunnya juga kan dia sebenernya.”

“Tapi tetap intinya ya si pelakunya lah Mas. Kalau dia kan Cuma bumbunya aja, meskipun tetap merugikan banyak pihak juga.”

Obrolan mereka terhenti di situ. Tak lama kemudian perjalanan mereka selesai dan sampai ke tujuan. 

Seperti niatnya di awal, setelah menurunkan penumpang, Umar segera mencari warkop untuk istirahat sejenak. Setibanya di warkop, ia memesan segelas kopi hitam sambil mengunyah gorengan. Di sudut warkop ada televisi yang sedang menyiarkan berita. Beritanya membahas soal Garuda.

“Kalau sudah gini, negara isinya jadi cuma dia doang.” Umar bergumam dalam hati sambil mengalihkan pandangannya ke tampah yang berisi gorengan, mengambil pisang goreng, seruput kopi, dan menghiraukan isi suara berita yang bersumber dari televisi di sudut warkop.