Beberapa hari yang lalu, ada sebuah tanggal yang dianggap cantik: 12 Desember. Tanggal tersebut dimanfaatkan oleh beberapa perusahaan, terutama yang berkaitan dengan belanja online, bikin diskon besar-besaran. Motivasinya hampir tentu meraup keuntungan sebanyak-banyaknya dalam waktu yang singkat.

Pelakasanaan banting harga atau gratis ongkir, atau hal yan sejenisnya, bukan hanya di 12.12 saja. Tentu akan lebih ciamik jika sebelumnya ada rangkaian 11.11, boleh jadi 10.10, 9.9, bahakan jika memungkinkan dimulai dari hitungan 1.1.

Di samping perusahaan atau pedagang yang memanfaatkan fitur online ini untung, tanggal-tanggal yang dianggap cantik semacam itu juga memicu adrenalin berbelanja ke level selanjutnya. Terlebih yang mudah termakan oleh rayu manis iklan.

Umar adalah salah satunya. Ia rela tidur lebih malam di hari sebelum tanggal itu tiba, demi membeli perlengkapan sehari-hari atau perabotan penunjang kehidupan. Atau bahkan hingga hal-hal yang dianggap bisa memperbaiki penampilannya. Kategori tersedia, jika arah pencarian dalam sebuah aplikasinya dicari suatu barang, begitu dibuka lagi akan menyodorkan terus barang itu hingga kepikiran.

Sudah cukup lama Umar memperhatikan beberapa kawan seprofesinya, “kok banyak banget ya ojol pake sepatu yang memang terlihat khusus untuk naik motor. Apa beli juga ya?”, pertanyaan sederhana yang muncul dipikirannya. “tapi kok kayaknya kurang keren kalau di kaki gue ya.”, adalah kalimat lanjutan yang membuatnya bimbang.

Dua hari menjelang tanggal 12 Desember itu tiba, ia mencari sepatu tersebut di beberapa platform belanja online. Dibuka platform satu, dicarilah sepatu itu, ditutup platformnya. Buka platform lain, melakukan hal yang sama, ditutup kembali.

Satu hal yang tidak disadari Umar, semakin ia membuka dan melihat sepatu, ia akan disodorkan terus iklan atau jenis sepatu lain yang serupa. Beberapa menit menjelang 12 Desember. Ia sudah siap berburu sepatu yang membikin ia bingung. Sudah ditetapkan ia akan membeli jenis sepatu ini, tinggal tunggu waktunya harga turun saat detik pertama pergantian hari dimulai. Namun rencananya buyar karena ia ketiduran.

Jam 6 pagi Umar bangun dengan rasa kesal. Ketika dicek, harganya sudah naik. Pembelian ditunda, karena harga naik, dan waktunya narik.

Penumpang pertama yang Umar dapat, langsung jadi sasarannya untuk curhat. Meski sebenarnya penumpangnya tak terlalu mempedulikan hal tersebut. Ditambah lagi, waktu masih pagi, namun Umar juga tak peduli. Minimal bisa melampiaskan kekecewaannya melalui cerita walau hanya sedikit.

“Mas, 12.12 nggak belanja Mas? Biasanya kan ramai tu ya orang pada mau belanja online. Kadang saya juga suka dapat orderan antar barang dari belanja online.”, Umar membuka pembicaraannya.

“Sudah, Mas. Semalam saya beli barang yang dibutuh aja. Kebetulan saya beli sepatu buat olahraga.”

“Waahh, saya juga sudah niat mau beli sepatu, Mas. Eh saya ketiduran. Begitu dicek lagi, harganya sudah berubah lagi. Akhirnya nggak jadi saya beli tu sampe sekarang.”

“Hahaha saya juga pernah kayak gitu, Mas.”

“Iya saya kesel deh. Soalnya saya udah pikirin itu sejak 2 hari lalu mau beli sepatu itu. Lumayan dipakai buat kalau lagi narik aja gini, malah ketiduran.”

“Udah gitu nih Mas, kalau saya cari barang sesuatu di online gitu ya, kok tampilannya malah jadi kayak paling banyak !@#$%^&*()_+=-)(*&^%$#@!”

“Hahaha iya, Mas.”, saut penumpang yang padahal tidak mendengar jelas kalimat Umar.

“Iya, Mas, kenapa itu ya?” saut Umar yang juga sama tidak pahamnya peracakapan mereka samai di mana.

“Oh gitu, Mas.”, jawab penumpang yang semakin membuat percakapan ini tidak jelas.

 “Tapi sekarang belanja online tu pada manfaatin tanggal-tanggal cantik juga ya, Mas. Saya kira Cuma demo yang kayak gitu. Atau jangan-jangan rangkaian demo juga terinspirasi dari belanja online?” Umar masih kekeh mempertahankan obrolan, namun penumpang menyudahnya dengan jawaban singkat, “wah kalau itu saya nggak tahu, Mas.”