Saat ini komunitas driver ojek online (ojol) bermunculan bak jamur di musim hujan. Tak hanya di Jabodetabek saja, melainkan juga di wilayah lain seantero Indonesia.

Kehadiran komunitas ojol ini dilatarbelakangi oleh banyak faktor, mulai dari tongkrongan yang sama, rute yang kerap dilewati, hingga dorongan solidaritas atas sesama ojol.

Lantas, sebenarnya untuk apa sih para driver ojol itu membentuk komunitas atau paguyuban?

Keberadaan komunitas atau paguyuban ojol ini diyakini membawa manfaat tertentu bagi para driver ojol. Kelompok ini bisa dianggap sebagai base atau rumah bagi mereka. Bahkan, bisa menjadi identitas bagi driver ojol tertentu.

Yang pasti, keberadaan komunitas atau paguyuban ojol ini berguna untuk mempererat silaturahmi dan menambah jaringan pertemanan. Ini diakui oleh Samuel (27), salah satu anggota ‘Driver Grab UKI Cawang’.

Sebagaimana dikutip dari Kumparan, dia mengatakan komunitasnya itu dibentuk atas dasar solidaritas sesama driver ojol. Sebab, keberadaan sebagai driver ojol sebelumnya mendapat penolakan keras dari ojek pangkalan.

Namun, usai ketegangan dengan opang itu hilang, kini komunitas driver ojol lebih kepada masalah solidaritas. Selain itu, komunitas juga dijadikan sebagai tempat untuk berkoordinasi saat berada di lapangan.

Sebab komunitas ini sudah terkoneksi dengan seluruh komunitas driver ojol di seluruh Jabodetabek. Dengan adanya komunitas ini, silaturahmi dan solidaritas para driver semakin guyub.

Manfaat lain dari adanya paguyuban atau komunitas ojol ini adalah untuk mengatasi gangguan di jalan, mulai dari mogok hingga kecelakaan. Sebuah komunitas ojol di Bekasi yang bernama Unit Reaksi Cepat (URC) ini bisa menjadi contohnya.

Perkumpulan yang didirikan dua tahun lalu ini memiliki jiwa solidaritas yang tinggi. URC membantu semua pengemudi motor yang tertimpa kecelakaan lalu lintas, membantu rekan-rekan yang kendaraannya bermasalah, dan bahkan memberikan mereka tempat beristirahat di basecamp, serta memberikan arahan mengenai area-area yang rawan kejahatan di Bekasi.

Keberadaan komunitas atau paguyuban ojol juga berguna untuk saling menjaga keamanan para driver di jalan. Terlebih untuk perempuan yang berprofesi sebagai driver ojol.

Seperti yang dituturkan Nuri, seorang driver ojol wanita yang kerap beroperasi di sekitaran Gegerkalong dan Dago. Dia mengatakan, selama lebih dari satu tahun bekerja, dirinya sudah merasakan beberapa kali keisengan penumpang pria.

Untuk itu, dia memutuskan bergabung dengan komunitas driver bernama GOBS di Bandung. Hal ini dinilainya dapat menjadi pencegah tindakan yang tidak menyenangkan terhadap driver perempuan seperti dirinya.

Bukan hanya dapat dimintai tolong ketika ada hal-hal yang tidak menyenangkan, adanya komunitas ini juga dapat saling mengandalkan satu sama lain ketika masing-masing anggota tengah mendapat kendala teknis, dan sebagainya.

Tak hanya berguna untuk para ojol saja, adanya berbagai komunitas ini juga berdampak positif pada masyarakat luas. Karena mereka juga kerap melakukan kegiatan sosial untuk membantu sesama, seperti bakti sosial, penggalangan dana bantuan, dan lain sebagainya.

Komunitas URC di Bekasi, misalnya, pernah menggalang bantuan untuk korban gempa bumi Lombok yang terjadi beberapa waktu lalu. Bersama dengan 125 komunitas lainnya, mereka turun ke jalan untuk menggalang bantuan.

Dalam waktu tiga hari saja, URC dkk telah berhasil mengumpulkan dana sebanyak Rp 55 juta. Bantuan tersebut kemudian disalurkan melalui salah satu stasiun televisi swasta, dan ditujukan untuk membantu pendirian sarana sosial, seperti puskesmas, rumah-rumah ibadah, dan sekolah di lokasi bencana.

Senada dengan itu, Komunitas pengemudi Grabbike kawasan Stasiun Tanah Abang juga pernah menggalang dana untuk membantu membiayai pengobatan pengemudi Grabbike, Ichtirayul Jamil (21), yang ditabrak sopir angkot. Mereka menggalang dana guna meringankan beban sesama driver yang mengalami musibah.

Solidaritas, saling membantu, dan bermanfaat terhadap sesama adalah nilai-nilai positif yang muncul dari adanya komunitas atau paguyuban ojol. Hal ini tentu patut diapresiasi, karena ternyata berkomunitas bagi para ojol tak hanya bermanfaat bagi dirinya saja, melainkan juga untuk masyarakat luas.

Keren, kan?