Ada yang berbeda dari tarif salah satu layanan Gojek Indonesia, yakni GoRide. Beberapa costumer (CS) mengeluh karena tarif GoRide akhir-akhir ini lebih mahal dibandingkan aplikator lain. Ditambah lagi semakin minimnya promo yang diberikan penyedia layanan aplikasi. Pengguna Gojek Samsul Rahmadan melalui akun Twitter, beranggapan tingginya tarif GoRide karena penentuan rute (map) di sistem aplikasi Gojek yang tidak terupdate.

@gojekindonesia admin ini jalur untuk menghitung jarak diupdate dong! Sudah hampir sebulan GoRide jadi mahal begini. Aplikasi ‘sebelah’ (Grab) lebih murah soalnya,”tulis Samsul sambil menunjukkan screenshoot perbedaaan harga di dua aplikasi. 

Samsul yang biasanya mengandalkan ojek online sebagai sarana transportasi dari rumahnya ke Stasiun Pasar Minggu, merasa berbedaan harga GoRide dengan Grab terlalu jauh. Tarif GoRide dari Jl Anggrek Pasar Minggu menuju Stasiun Pasar Minggu sebesar 25.000 rupiah. Sementara tarif Grab dengan tujuan dan waktu pemesanan yang sama hanya 13.000 rupiah. 

Bisa jadi benar, penentuan rute jadi penyebab tingginya harga GoRide. Pasalnya dari screenshoot yang ditunjukan, Gojek mengambil jalur rute lebih jauh untuk sampai di titik pengantaran. Jarak Grab ini justru mengambil rute terdekat, dengan tarif lebih murah.

Keluhan soal rute juga disampaikan pemilik akun @myrmdhn. Bukan soal harga, myrmdhn ingin pengguna aplikasi bisa menentukan rute sendiri sehingga memudahkan driver saat penjemputan. “Gojek Indonesia kayaknya lebih asik kalo kita bisa nentuin rutenya. Kasihan drivernya sering kesasar, titiknya disitu rutenya kemana? Jadi bingung nantinya, walaupun udah dikasih catatan kadang suka bablas ngikutin rute yang ditentukan di map,” tulisnya. 

Pertanyaannya, mengapa kedua rute dan tarif antara layanan GoRide dengan GrabBike berbeda?

Gojek Indonesia pernah menjelaskan kalau peta yang ada di aplikasi Go-Jek, terintegrasi dengan Google Maps. Karenanya, rute yang diberikan didalam aplikasi merupakan rekomendasi langsung dari sistem Google Maps. Bisa jadi, meski rute yang diberikan sedikit lebih lama dan panjang, tetapi justru menghindari kemacetan. Benarkah demikian?

Pernyataan soal rute lebih jauh karena menghindari macet harus di cek kebenarannya. Contohnya seperti diutarakan Samsul Rahmadan, Gojek justru mengambil rute lewat Jl Simatupang menuju Stasiun Pasar Minggu Baru. Padahal, situasi Jl Simatupang arah Pasar Rebo selalu terjadi kemacetan saat jam pulang kerja. 

Menghitung kemampuan konsumen

Selain menyesuaikan aturan, tarif yang diberlakukan aplikasi ojol seharusnya tetap memperhitungkan kemampuan konsumen. Pengenaan tarif berdasar rekomendasi sistem Google Maps justru lebih mahal, dan belum terbukti menghindari kemacetan. 

Seperti diketahui, dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 348 Tahun 2019, tarif ojek online dibagi menjadi tiga zonasi. Zona satu terdiri dari Sumatera, Bali, serta Jawa selain Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Batas atas dan bawah tarif di wilayah ini berkisar Rp 1.850-Rp 2.300 per kilometer. Zona dua di Jabodetabek, dengan besaran tarif  Rp 2.000-Rp 2.500 per kilometer. Zona tiga yakni Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Kepulauan Maluku, dan Papua. Besaran tarif di zona tiga berkisar Rp 2.100-Rp 2.600 per kilometer.

Zona dua di Jabodetabek, dengan besaran tarif  Rp 2.000-Rp 2.500 per kilometer. Zona tiga yakni Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Kepulauan Maluku, dan Papua. Besaran tarif di zona tiga berkisar Rp 2.100-Rp 2.600 per kilometer. Sedangkan biaya jasa minimal di zona satu dan tiga Rp 7 ribu-Rp 10 ribu. Lalu, di zona dua, tarif untuk perjalanan kurang dari empat kilometer sekitar Rp 8 ribu-Rp 10 ribu.