Hadirnya perusahaan ride hailing beberapa tahun ini, seperti Grab dan Gojek, telah menciptakan satu entitas sosial baru di masyarakat Indonesia. Mereka itu adalah para pengemudi ojek online (baik yang menggunakan motor atau mobil) yang tersebar di seluruh Indonesia.

Meskipun hadir dari dorongan kebutuhan ekonomi (baca: pekerjaan), pengemudi ojol ini lambat laun menjadi satu kelompok tersendiri. Jalinan kerjasama dan persaudaraan akhirnya tumbuh diantara mereka.

Dari singgungan pekerjaan di jalanan itu akhirnya memunculkan perasaan solidaritas diantara para pengemudi ojol. Bentuk solidaritas sosial ini bisa terlihat dari adanya organisasi ojol, aksi sosial hingga demontrasi yang menggerakkan ribuan driver.

Solidaritas merujuk pada buku Teori Sosiologi Klasik dan Modern (1994) karya Doyle Paul Johnson merupakan suatu hubungan antara individu dan atau kelompok yang berdasar pada moral dan kepercayaan yang dianut bersama, serta pengalaman emosional bersama.

Solidaritas yang dipegang ini biasanya berupa, kesatuan, persahabatan, rasa saling percaya yang muncul akibat tanggung jawab bersama, dan kepentingan bersama diantara para anggotanya.

Pengertian akan solidaritas ini juga diperjelas oleh sosiolog Emile Durkheim. Menurutnya, solidaritas adalah perasaaan saling percaya antara para anggota dalam suatu kelompok atau komunitas.

Singkatnya, jika orang saling percaya maka mereka akan membentuk persahabatan, menjadi saling menghormati, terdorong untuk bertanggung jawab, dan memperhatikan kepentingan bersama. Inilah bahan bakar dari solidaritas diantara para pengemudi ojol.

Dari Komunitas, Aksi Sosial, hingga Demonstrasi Ojol  

Kalau diperhatikan, solidaritas para pengemudi ojol ini banyak wujudnya. Tak hanya soal tolong menolong di jalanan saja, melainkan juga berwujud paguyuban/organisasi, aksi sosial hingga demonstrasi ojol.

Sebuah komunitas ojol di Bekasi yang bernama Unit Reaksi Cepat (URC) ini bisa menjadi salah satu contohnya.

Perkumpulan yang didirikan sejak tiga tahun lalu ini memiliki jiwa solidaritas yang tinggi. URC membantu semua pengemudi motor yang tertimpa kecelakaan lalu lintas, membantu rekan-rekan yang kendaraannya bermasalah, dan bahkan memberikan mereka tempat beristirahat di basecamp, serta memberikan arahan mengenai area-area yang rawan kejahatan di Bekasi.

Tak hanya itu saja, Komunitas URC di Bekasi juga pernah menggalang bantuan untuk korban gempa bumi Lombok yang terjadi beberapa waktu lalu. Bersama dengan 125 komunitas lainnya, mereka turun ke jalan untuk menggalang bantuan.

Dalam waktu tiga hari saja, URC dkk telah berhasil mengumpulkan dana sebanyak Rp 55 juta. Bantuan tersebut kemudian disalurkan melalui salah satu stasiun televisi swasta, dan ditujukan untuk membantu pendirian sarana sosial, seperti puskesmas, rumah-rumah ibadah, dan sekolah di lokasi bencana.

Solidaritas sesama driver ojol ini juga pernah dirasakan oleh Wiwin, seorang driver ojol wanita yang pernah mengalami kecelakaan di Jakarta. Kecelakaan itu lumayan parah kejadiannya hingga ia harus kehilangan kakinya dan diamputasi.

Beruntungnya, Wiwin memiliki rekan-rekan yang solid, para driver ojol itu secara rutin gentian membesuk dirinya ke rumah sakit hingga sembuh total.

Aksi solidaritas ini pun tak henti di situ saja, setelah diperbolehkan keluar dari rumah sakit, para driver ojol ini pun konvoi alias iring-iringan untuk mengawal Wiwin pulang ke rumah. Wiwin pun mengaku terharu atas dukungan lebih dari cukup yang ditujukan padanya tersebut.

Selain membantu sesama rekan kerja, driver ojol memang kerap kali melakukan aksi sosial yang membuat kita takjub. Salah satunya, pada Bulan Ramadhan lalu, komunitas ojol di Cibinong, Jawa Barat, membagi-bagikan takjil di jalanan.

Aksi sosial ini sempat direkam oleh akun @dramaojol.id yang lalu beredar viral. Banyak netizen yang membajiri unggahan tersebut dengan pujian, salah satunya berkata seperti ini, “salut banget sama para driver ojol, meskipun pendapatan mereka tidak seberapa tapi rela bagi-bagi takjil di jalanan.”

Terakhir, solidaritas para pengemudian ojol ini juga bisa bersifat politis. Misalnya terlihat saat mereka menggelar unjuk rasa di depan Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Rabu (15/01/2020).

Dalam demonstrasi tersebut, para pengemudi ojol menuntut tiga hal kepada pemerintah, yaitu penyesuaian tarif, legalitas status mereka, dan penutupan pendaftaran pengemudi baru di kawasan yang sudah banyak pengemudinya. Beberapa tuntutan tersebut merupakan kepentingan bersama mereka.

Solidaritas sosial adalah nilai-nilai positif yang muncul dari aktivitas jalanan para pengemudi ojol. Dengan adanya solidaritas ini, mereka berusaha menjadi kelompok yang signifikan dalam masyarakat. Inilah konsekuensi logis dari adanya kumpulan sosial.