Merebaknya virus corona dalam beberapa pekan terakhir memukul hampir semua sektor. Perekonomian melambat, bisnis seret, saham jeblok, dan akhirnya usaha kecil masyarakat juga turut terkena dampaknya.

Tak terkecuali bagi para driver ojek online (ojol) yang sehari-hari bekerja di jalanan. Adanya virus Covid-19 ini turut mempengaruhi pendapatan mereka. Sudah beberapa hari ini, mereka mengeluhkan berkurangnya penumpang secara drastis.

Apalagi pemerintah baru-baru ini menghimbau masyarakat untuk bekerja dari rumah guna mengurangi penularan virus corona. Hal ini seperti disampaikan oleh Presiden Joko Widodo yang meminta warga bekerja hingga beribadah dari rumah masing-masing.

“Dengan kondisi saat ini, saatnya kita kerja dari rumah, belajar dari rumah, ibadah di rumah, inilah saatnya bekerja bersama-sama saling tolong-menolong dan bersatu padu, gotong royong,” kata Jokowi di Istana Kepresidenan Bogor, Bogor, Jawa Barat, Minggu (15/3/2020).

Arahan Presiden Jokowi tersebut langsung diikuti dengan kebijakan sejumlah kepala daerah yang meliburkan sekolah, kampus, instansi pemerintahan, dan sebagian perusahaan swasta. Istilahnya adalah ‘social distancing’ guna mendorong masyarakat secara sukarela menjaga jarak sosialnya.

Kebijakan ‘social distancing’ ini memang ada benarnya, dan sangat penting untuk mencegah penularan virus corona. Ini adalah tindakan yang bertujuan mencegah orang sakit melakukan kontak dalam jarak dekat dengan orang lain untuk mengurangi peluang penularan virus.

Social distancing bisa mengurangi risiko penyebaran corona karena virus ini menular antarmanusia melalui droplet (partikel air liur) saat penderita bersin atau batuk.

Dengan membatasi aktivitas berkumpul masyarakat, maka diharapkan penyebaran virus bisa terhambat, sehingga tidak menular secara luas. Sebuah langkah kebijakan yang logis.

Ojol Ikutan Anyep

Namun kondisi tersebut ternyata membawa dampak yang luas di masyarakat. Salah satunya bagi jasa ojek online atau ojol yang akhirnya ikut sepi orderan.

Pesanan dari konsumen yang semula ramai menjadi anyep dan pendapatan pun ikut turun. Hal ini logis saja sebab faktor permintaan (demand) menurun drastis dengan adanya anjuran kerja dan belajar dari rumah seperti ini.

Alhasil, sebagian dari mereka yang selama ini menggantungkan orderan dari kalangan mahasiswa dan pelajar harus gigit jari.

Hal ini seperti dialami oleh driver ojol Ade Irawan di Jakarta. Ia mengaku penumpang menurun dengan adanya kebijakan tersebut. Diapun terpaksa menambah jam kerja agar bisa mencapai target.

“Biasanya kerja pagi tuh, sudah bisa nutup poin. Paling siang berangkat lagi buat cari tambah-tambahan. PNS, anak sekolah, karyawan-karyawan itu kan paling banyak pakai jasa kita,” ujar Ade seperti dikutip dari merdeka.com, Selasa (17/3).

Sementara itu Zisco, pengemudi Grabcar, mengaku orderan yang masuk ke ponselnya nyaris setengah dari rata-rata order normalnya.

“Narik dari jam 10.00 pagi sampai siang biasanya dapat 10 orderan. Ini sampai jam 15.00 sore baru dapat 6,” keluh Zisco,

Namun Zisco telah menyadari akan adanya efek dari anjuran pemerintah soal kerja dari rumah. Karenanya agar pemasukan hariannya tidak menurun, dirinya menyiasati dengan menerima orderan pengiriman barang dan pengantaran offline.

Tak hanya di Jakarta saja, orderan yang sepi juga dialami oleh pengemudi ojol di daerah lain. Di Yogyakarta, misalnya.

Driver ojol Luthfi Aditya Kusuma mengaku, orderannya sepi setelah siswa dan mahasiswa diliburkan mulai pekan ini.

“Dampaknya turun drastis. Apalagi sekolah dan kuliah pada libur. Biasanya sehari dapat Rp 300 ribu sekarang ngumpulin Rp 200 ribu saja berat,” katanya, seperti dilansir dari tagar.id, Selasa (17/3).

Meski begitu, Aditya belum ada rencana berhenti bekerja walaupun hasilnya yang tidak sebanding. Pekerjaan ojol baginya adalah sumber penghasilan semata wayangnya. Terlebih lagi dia masih mempunyai tanggungan kredit sepeda motor termasuk biaya untuk menghidupi keluarga dan utang perbankan.

“Tetep on bid (bekerja). Mau bagaimana lagi orang angsuran gak diliburkan dan tetap berjalan, hehe…,” pungkasnya.

Epilog

Tak dipungkiri ini adalah fase sulit yang harus kita hadapi secara kolektif sebagai bangsa Indonesia. Serangan virus Covid-19 di tengah ekonomi yang melambat menjadi momok nyata hari-hari ini. Tak hanya bagi pemerintah, tetapi juga bagi masyarakat luas.

Tetapi tak ada ujian yang tak ada jalannya, begitu kata orang bijak. Pun dengan ujian kita hari ini. Meski berat, tetapi ini akan memperkuat imun dan solidaritas sosial kita.

Tak perlu mengeluh, tak perlu menyalahkan siapa-siapa, life must go on. Tetap waspada dan tak perlu panik.

Kita lebih kuat dari virus Covid-19 ini, dan bangsa kita telah teruji tabah menghadapi terjangan badai kehidupan. Yang terpenting, kita tak boleh menyerah. Oke?