Perubahan sistem dalam ojek online (ojol) tak selamanya menguntungkan mitra pengemudinya. Sebaliknya, hal itu kadang malah bisa merugikan dan menyulitkan kehidupan mereka.

Kondisi seperti itulah yang dialami oleh para pengemudi GOJEK saat ini, terutama terkait dengan sistem pemerataan orderan yang baru saja diterapkan perusahaan start up tersebut.

Alhasil, baru-baru ini tagar #GojekKenapa menjadi salah satu topik populer (trending topic) di Twitter. Para mitra pengemudi GOJEK banyak yang mengeluhkan sistem pemerataan order yang semakin menyulitkan kehidupan mereka.

Betapa tidak, akibat dari kebijakan tersebut akun yang sudah prioritas mendapatkan perlakuan yang sama dengan akun biasa. Padahal untuk mendapatkan standart akun prioritas itu tidaklah mudah.

Misalnya, pengemudi harus mau mengambil pesanan sejak pagi dan tidak memilih orderan. Pengemudi juga tidak boleh membatalkan pesanan, kecuali fiktif. Jika langkah-langkah ini dilakukan selama satu hingga dua minggu, akun pengemudi akan masuk prioritas.

Dalam sistem sebelumnya, akun prioritas seharusnya mendapatkan keistimewaan, terutama akan diutamakan ketika mendapat pesanan. Namun, sistem itu diubah menjadi pemerataan order.

Inilah yang merusak sistem yang sedang berjalan. Sekaligus mengecewakan para pengemudi GOJEK.

Tak hanya itu, sistem pemerataan orderan ini juga membuat para pengemudi bekerja lebih lama di jalan. Jika biasanya pengemudi bisa tutup point untuk mendapat bonus selama enam hingga delapan jam, sekarang mereka harus bekerja 12 jam.

Bahkan yang mengenaskan, ada juga pengemudi yang sama sekali tidak mendapatkan orderan selama sehari. Mereka hanya sibuk menunggu orderan saja.

Seluruh cerita di atas bukanlah karangan belaka. Melainkan kondisi nyata yang dialami oleh pengemudi GOJEK saat ini. Akun Twitter bernama @ryan_nus adalah salah satu korbannya.

Dalam curhatannya, dia mengeluhkan kondisi GOJEK yang semakin ‘tak manusiawi’ saat ini. Cuitannya ini sempat meramaikan jagat twitter dan turut mengunggah tagar #GojekKenapa.

Pengguna Twitter lainnya dengan nama @CandoelSlankers mengunggah tagar tersebut dan menyertakan foto tangkapan layar akun Gojek-nya. Foto itu menggambarkan dia sudah menyelesaikan sembilan perjalanan atau 100% dari total pesanan yang masuk.

Ia pun mendapat 12 poin. “11 jam 16 menit,” kata @CandoelSlankers menjelaskan berapa lama ia baru bisa mendapat sembilan orderan tersebut.

Akun lainnya @Mas_Abraa hanya mendapat satu order sejak pagi hari. “On bid subuh jam 5. Sampai sekarang hanya dapat segini (satu order senilai Rp 8 ribu),” kata dia dalam cuitan yang diunggah sekitar pukul 13.40 WIB.

Perubahan sistem yang diterapkan GOJEK di atas memang merugikan pengemudi. Skema ini pastinya sangat merugikan driver-driver lama, terutama yang sudah bekerja keras untuk menjadikan akunnya prioritas.

Hal seperti ini semakin menunjukan watak dari perusahaan tersebut yang berusaha mencari untung sebanyak-banyaknya dan eksploitatif dari keringat mitranya.

Kalau memang seperti ini, dimana katanya klaim memberdayakan mitra?