Memang banyak profesi dan industri yang tumbang dihantam badai pandemi Covid-19 ini. Kebijakan yang dikeluarkan pemerintah demi memutus rantai penyebaran virus ini juga di sisi lain menyulitkan banyak pihak. Meski bukan satu-satunya yang terdampak, tapi ojol adalah profesi yang cukup jadi sorotan menemui kesulitan.

Dua perusahaan besar yang menaungi para ojol ini juga saling berlomba untuk membantu mitranya dan menjaga roda perekonomian tetap berputar. Mereka mengeluarkan berbagai kebijakan demi melindungi para mitranya, memuaskan pelanggannya, sekaligus mengikuti instruksi pemerintah.

Namun demikian, tidak semua kebijakan yang dikeluarkan oleh perusahaan ride hailing ini membantu para mitranya. Gojek misalnya, menelisik lebih dalam alasan di balik kebijakan yang dikeluarkan olehnya, justru menimbulkan pertanyaan, mengapa begitu banyak driver Gojek yang mengalami sepi orderan? 

Sementara itu, di saat yang bersamaan masih ada driver yang dapat tutup poin dan bahkan mendapatkan tip yang sangat besar, karena sepengetahuan masyarakat bahwa driver ojol sedang membutuhkan bantuan di tengah masa pandemi ini.

Gojek ternyata memberlakukan sistem jagger/driver prioritas. Kebijakan itu hanya menolong segelintir saja. Dampak yang ditimbulkan dan dilihat oleh masyarakat saat ini justru semakin banyak driver Gojek yang semakin kesulitan dan tidak mendapatkan orderan.

Langkah yang diambil oleh Gojek ini dirasa tidak tepat. Sistem jagger yang digunakan hanya menolong driver prioritasnya saja, sementara di penjuru wilayah lain atau bahkan mungkin di area yang sama, sang mitranya justru sangat kesulitan.

Pengambilan kebijakan yang tidak merata ini menimbulkan sentimen negatif di masyarakat, bahkan oleh para mitranya sendiri. Sistem jagger dianggap sebagai bentuk ketidakadilan dan menjadi kanibal yang justru memakan mitra sesamanya sehingga tidak mendapat orderan.

Di sisi lain, perekrutan mitra baru juga tetap dilakukan, namun pemutusan sepihak kepada mitra juga dilaksanakan. Hal ini juga menimbulkan kebimbangan dari mitranya sendiri. Pemasukan menjadi semakin sedikit, karena persaingan semakin banyak. Ditambah lagi dengan dukungan sistem kebijakan jagger atau driver prioritas yang semakin membuat driver lain terjepit situasi.

Di tengah masa pandemi yang membuat semua menjadi sulit, alangkah eloknya bila Gojek bisa mengeluarkan kebijakan yang bisa membantu mitranya melewati badai panjang ini. Atau mungkin, bila memang sistem jagger yang mengedepankan driver prioritas ini tetap dipertahankan, maka sebaiknya jangan berharap banyak pada perusahaan.

Bagaimanapun, rasa kemanusiaan harus tetap di atas segalanya. Maka bagi para jagger atau driver prioritas, mari saling bantu bahu membahu melewati masa pandemi ini bersama-sama. Ringankan beban rekan-rekan sesama yang tidak seberuntung nasib para jagger. Karena berharap pada perusahaan justru semakin sulit, kita berharap saja pada rasa kemanusiaan yang masih tersisa. Semoga itu masih ada.