Ada yang baru bagi pengendara motor di Jakarta sejak akhir pekan lalu. Pasalnya, per 1 Februari 2020 lalu, tilang elektronik diberlakukan kepada seluruh pemotor yang melintasi jalanan ibukota.

Sejumlah kamera ETLE (Electronic Traffic Law Enforcement) disiapkan untuk merekam sepeda motor yang melakukan pelanggaran lalu lintas. Saat ini, telah ada 57 kamera yang tersebar di sejumlah ruas jalan arteri atau jalur khusus Transjakarta.

Sistem kerja dari tilang elektronik ini sebenarnya mirip dengan tilang konvensional. Bedanya polisi kini menggunakan intervensi teknologi sebagai sarana pengawasan, sehingga peran manusia bisa disubstitusikan.

Saat terjadi pelanggaran, kamera ETLE akan menangkap gambar kendaraan bermotor. Setelah itu, hasil tangkapan gambar dikirim langsung ke pusat data TMC Polda Metro Jaya.

Petugas akan memverifikasi jenis pelanggaran pengendara motor yang tertangkap kamera ETLE dan mengidentifikasi nomor pelat nomor. Apabila sudah terverifikasi jenis pelanggarannya, petugas akan menerbitkan surat konfirmasi.

Surat konfirmasi, tilang elektronik akan dikirim ke alamat pengendara motor yang melanggar selambat-lambatnya tiga hari setelah pelanggaran dilakukan. Di sini pelanggar diberikan waktu 7 hari setelah pengiriman surat konfirmasi untuk klarifikasi jika ada kekeliruan dalam proses tilang.

Klarifikasi dari pemilik kendaraan dapat dilakukan melalui situs web http://www.etle-pmj.info, melalui aplikasi yang nantinya dapat diunduh melalui Play Store, atau mengirimkan kembali belangko konfirmasi yang telah diisi kepada kepolisian.

Bagi pemilik kendaraan yang kena tilang elektronik bisa mengklarifikasi jika saat itu kendaraannya dikendarai orang lain, atau kendaraan itu sudah bukan lagi miliknya namun belum dilakukan balik nama oleh pemilik yang baru.

Pelanggaran yang Disanksi

Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Fahri Siregar mengatakan, ada 4 jenis pelanggaran yang bisa tertangkap kamera ETLE, yakni penggunaan ponsel, penggunaan helm, menerobos traffic light, dan melanggar marka jalan.

Adapun, denda tilang yang diterapkan untuk pelanggar mengacu pada Undang-Undang Nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

1. Penggunaan ponsel

Pengendara sepeda motor yang menggunakan ponsel saat berkendara melanggar Pasal 283 UU Nomor 22 Tahun 2009. Pelanggar diancam kurungan penjara maksimal 3 bulan atau denda Rp 750.000.

2. Penggunaan helm

Pengendara motor yang tidak menggunakan helm melanggar Pasal 106 ayat 8. Pelanggar diancam hukuman penjara maksimal 1 bulan atau denda Rp 250.000, seperti tertuang pada Pasal 290 UU Nomor 22 Tahun 2009.

3. Menerobos traffic light dan melanggar marka jalan

Pengendara motor yang nekat menerobos traffic light dan melanggar marka jalan melanggar Pasal 287 Ayat 1. Pelanggar diancam hukuman penjara maksimal dua bulan atau denda Rp 500.000.

Bagaimana dengan Ojek Online?

Penerapan tilang elektronik ini sempat membuat khawatir para pengemudi ojek online (ojol), terutama terkait dengan pasal penggunaan handphone di jalan.

Sebab pekerjaan mereka memang terkait erat dengan smartphone, dan penggunaan gawai di jalan itu seperti tak terhindarkan. Misalnya, untuk menerima orderan atau memeriksa peta jalan via google maps.

Jika itu dilarang, lantas seperti apa batasannya?

Terkait dengan ini, seorang pengemudi ojol sempat menanyakannya kepada Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Metro Jaya kala mensosialisasikan pelanggaran ETLE di Simpang Sarinah, Thamrin, Jakarta Pusat.

“Kan kami ojol nih Bu maaf nih ya, terus kalau kami lihat Google Maps atau peta di aplikasi bagaimana? Langsung kerekam terus ditilang?” tanyanya, seperti dilansir Kompas.com, pada Senin (3/2/2020).

Petugas yang berada di lokasi tersebut lalu menjawab, jika pengemudi terlalu terpaku dan kelihatan memegang ponsel, maka akan terekam ETLE. Tilang pun tak terhindarkan untuknya.

Tetapi jika memantau google maps, asalkan handphone-nya tidak dipegang atau ditaruh di dashboard motor, maka itu bukanlah sebuah pelanggaran hukum. Tentu saja, syaratnya pengemudi tetap waspada dengan laju di jalan.

Kemudian, jika ada orderan yang masuk, sebaiknya pengemudi ojol menepikan motornya di pinggir jalan. Termasuk jika ingin membalas chat, ataupun menelepon konsumennya.

Terkait kebingungan sebagian pengemudi ojol ini, pihak Dirlantas Polda Metro Jaya berjanji akan terus mensosialisasikan aturan yang berlaku ini.

Penerapan aturan tilang elektronik ini juga ditujukan untuk meminimalisasi penggunaan handphone di jalan. Harapannya agar angka kecelakaan lalu lintas itu bisa berkurang.

Yang jelas, aturan tilang elektronik ini bukan bermaksud untuk menyulitkan pengendara motor, tetapi lebih sebagai langkah preventif agar tidak terjadi kecelakaan, dan untuk meningkatkan keselamatan berkendara di jalan.

So, aturan hadir bukan untuk dilanggar ya. Yuk, tertib berlalu lintas di jalan.