Kehadiran ojek online (ojol) diakui atau tidak telah menjadi kebutuhan yang melekat bagi warga Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Kemudahan yang ditawarkannya tak dapat dipungkiri.

Berbekal smartphone, kita sudah bisa menuju ke tempat yang dituju tanpa ribet. Apalagi ditambah dengan berbagai promo ‘bakar duit’ aplikator. Hal ini menyebabkan ojek online bisa lebih murah dari moda transportasi lainnya.

Namun di balik berbagai kemudahannya, ojek online tak dipungkiri juga menambah kemacetan di Jakarta. Tidak hanya di jalanan, tapi kemacetan juga terjadi di tempat-tempat keramaian, seperti stasiun dan pusat perbelanjaan.

Kemacetan ini memang masalah yang kompleks. Mengatasinya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Mesti dibutuhkan kebijakan yang komprehensif dan melibatkan banyak stakeholder untuk menanganinya.

Meski sepintas terlihat susah dikendalikan, tetapi kemacetan sebenarnya bisa dikurangi di titik tertentu. Hal ini membutuhkan sebuah penataan teknis, misalnya.

Terkait ini, PT Kereta Api Indonesia (Persero) bisa dijadikan contoh yang baik. Mereka akan merenovasi empat stasiun di DKI Jakarta untuk meningkatkan integrasi antar-moda. Dalam renovasi ini mereka memasukan rencana untuk penambahan jalur penumpang dan pembangunan titik antar-jemput ojek online (ojol).

Executive Vice President PT KAI Daop 1 Jakarta, Dadan Rudiansyah menyatakan, pihaknya akan memberikan lokasi khusus untuk ojek online (ojol) dan pangkalan di empat penataan stasiun di Jakarta. Stasiun tersebut, antara lain Juanda, Senen, Sudirman, dan Tanah Abang.

Dia menyebut penataan beberapa stasiun itu guna memberikan kemudahan transportasi serta mengedepankan kepentingan penumpang. Khususnya para pengguna KRL commuterline ataupun kereta jarak jauh.

“Pengguna di empat stasiun tersebut dapat dengan mudah untuk menjangkau moda transportasi lanjutannya lainnya. Seperti MRT, Transjakarta hingga angkutan lain seperti bajaj, ojek online dan pangkalan serta angkutan perkotaan,” kata Dadan, seperti dikutip dari Liputan6.com, Minggu (1/3/2020).

Stasiun Tanah Abang rencananya akan memiliki titik penurunan dan pengambilan penumpang ojol di depan hall bawah stasiun arah Jalan Jatibaru. Itu bersamaan dengan area parkir (sementara) ojek pangkalan hingga tempat pemberhentian bajaj.

Untuk Stasiun Sudirman, area ojolnya masih dilakukan penataan bersama Pemprov DKI Jakarta dan PT MRT. Sebab kawasan stasiun itu akan dilakukan penataan ulang untuk jalur keluar masuk penumpang serta perpanjangan area hall.

Tujuan ini adalah untuk mengarahkan penumpang lebih mudah menuju area pedestrian yang akan berlanjut ke moda lanjutan.

Kemudian, Stasiun Pasar Senen rencananya juga menyediakan area khusus ojol. Selain itu flow keluar masuk penumpang juga akan ada perubahan.

Selanjutnya, Stasiun Juanda akan menyedikan lahan khusus ojol dan ojek pangkalan yang sebelumnya terpusat di kawasan ruko arah Masjid Istiqlal. Selanjutnya akan direlokasi ke lahan bawah jalur rel layang Stasiun Juanda arah utara atau arah Jakarta Kota.

Renovasi stasiun yang menyediakan area khusus bagi pengemudi ojol ini patut diapresiasi. Dengan adanya penataan seperti itu, kemacetan di sekitar stasiun tersebut bisa sedikit dikurangi.

Adanya kemacetan di sejumlah titik adalah niscaya, tetapi mengurainya dengan kebijakan teknis yang masuk akal juga sangat mungkin. Yang tak diperlukan adalah menyalahkan satu pihak, misalnya pengemudi ojol, tanpa memberikan satu solusi untuk mengatasinya.

Karena menumpuknya pengemudi ojol di satu titik, bukanlah karena satu sebab tunggal. Salah satunya dipengaruhi oleh faktor supply dan demand yang tidak berimbang.

Jumlah pengemudi yang lebih banyak dibandingkan potensi penumpang menjadi penyebab pengemudi ojek online lebih sering mangkal pada sejumlah titik keramaian dan menyebabkan kemacetan.

Jakarta atau kota lainnya pada dasarnya adalah rumah bersama. Jika ada suatu permasalahan harusnya dicari solusi, bukan sekadar nyinyir terhadap satu pihak saja. Apa yang dilakukan oleh PT. KAI ini patut dicontoh institusi lainnya.