Bukan hanya kisah mengharukan, inspiratif, dan hal positif lainnya yang cepat menyebar dan memicu reaksi banyak orang. Kisah-kisah yang justru merugikan dari sisi driver atau pengguna juga banyak.

Belum dilayani kalau belum viral. Barangkali itu adalah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan situasi berbagai keluhan terkait ojek online yang berseliweran di media sosial. Pasalnya, setelah ramai diperbincangkan, mendapat banyak like, atau mungkin retweet, atau bahkan menambahkan komentar dengan cerita lain, pihak perusahaan pemilik ojek online baru menanggapi.

Kisahnya pun unik-unik, ada yang belum melakukan perjalanan tapi saldonya hilang. Ada juga istilah yang, para driver ojol menyebutnya “tuyul”.  Belum lama seperti marak diperbincangkan tentang kasus Aura Kasih dan Maia Estianty yang bermasalah dengan gopay-nya. 

Dan yang belum lama ini sedang marak adalah kasus permintaan OTP yang mengatasnamakan perusahan ojek online. Seperti yang disinggung oleh akun Twitter Judith Lubis @penguasahati, ia melapor ke akun Cyber Polri @CCICPolri bahwa ada pelecehan kepada anaknya yang disertai dengan meminta kode OTP sekaligus.


“Sebelumnya pelaku sangat melecehkan kami dengan mengirimkan voice mail dan kata-kata yg tdk pantas, setelah koordinasi dengan @CCICPolri baru pelaku langsung meminta maaf…”, tulis cuitan selanjutnya dari Judith Lubis pemilik akun @penguasahati.

Cuitan ini mendapat tanggapan dari netizen. Beberapa menyalahkan pihak Gojek yang menanganinya dengan lambat, hingga yang berkomentar mengenai penanganan data privasi yang dimiliki Gojek. Sang driver bisa melihat nomor ponsel pengguna dengan waktu yang lama sehingga bisa dihubungi lagi, sementara Grab tidak bisa melakukan hal itu dan cenderung jarang ad kasus seperti ini.

Dari akun @gojek24jam juga ikut berkomentar, “Modus kayak gini biasanya driver juga korban penipuan. Bicara kasar dan melecehkan itu udah ciri-ciri penipu”

Apa yang disampaikan dan dikeluhkan oleh pelanggan tersebut, tentu juga jadi keresahan kita selaku pengguna jasa, bahkan para driver selaku mitra dari perusahaan. Kode OTP atau One Time Password bukanlah hal yang bisa diberikan kepada siapapun dengan begitu saja. Kode tersebut bersifat rahasia, karena menyangkut data-data kita.

Semoga segera ada perbaikan yang signifikan dari pihak Gojek terkait kasus ini. Dan kerjasama dengan Cyber Polri dapat membantu menuntaskan asus penipuan semacam ini yang marak terjadi. Terlebih bukan hanya dirugikan secara materi, bahkan hingga melakukan pelecehan. Melakukan penipuan adalah satu hal, tapi disertai dengan pelecehan itu hal lain.

Baiknya kita bersama mendorong perusahaan-perusahaan penyedia jasa ojek online untuk terus meningkatkan pengawasannya terhadap para mitranya. Inovasi terus berkembang, tapi pengawasan berkurang juga bukan indikasi hal yang baik. Apalagi sudah menyangkut pelecehan. Ditambah lagi dengan bantuan dari Cyber Polri yang terus dimaksmalkan. 

Salam dari pinggir jalan…