Meski banyak pelajaran yang bisa dipetik bukan hanya dari makan bangku sekolah, tapi pendidikan tetap menjadi salah satu hal yang cukup diperhitungkan dalam hubungan sosial. Bahkan pendidikan bisa membuat orang berlomba-lomba agar tetap bisa mengenyamnya. Banyak cerita tentang orang tua yang berharap dan berusaha sekeras apapun agar anaknya tetap bisa sekolah. 

Suatu waktu beredar sebuah cerita yang mengisahkan seorang sarjana lulusan sebuah kampus di Jerman, yang mengambil jurusan Fisika Nuklir, lalu setelah kembali ke Indonesia lama tidak mendapat pekerjaan.

Lalu si sarjana tersebut memilih profesi sebagai driver ojol. Banyak komentar netizen yang mengutuk tentang kesiapan lapangan pekerjaan di negara kita, tapi tak sedikit juga yang menyayangkan hanya menjadi driver ojol. Oh, tunggu sebentar kawan, driver ojol juga bukan pekerjaan yang bisa direndahkan. 

Pendidikan adalah hal penting. Kiranya sedikit yang tidak sepakat. Tapi mendapat pekerjaan yang diidamkan selama masih di bangku sekolah itu hal lain. Setiap orang pasti pernah memimpikan untuk memiliki pendidikan setinggi mungkin. Meski hidup tak selalu berbanding lurus. Kadang ia bisa sebercanda itu.

Cerita lain datang dari Muhammad Reviansyah, seorang driver ojol yang berhasil menyelesaikan pendidikan sarjananya di Universitas Negeri Jakarta pada 2018 silam. Ia mengambil program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. “Selain tukang bubur naik haji, ada juga kok tukang ojek jadi sarjana…”, tulisnya dalam sebuah caption foto yang diunggah di akun Instagramnya.

Pada 2019 lalu juga jagat maya diramaikan dengan cerita dari sebuah utas yang viral di Twitter, yang dibuat oleh akun @gizayeolsung. Utas itu bermula dari selebrasi wisuda yang digelar di Universitas Diponegoro. Ia menceritakan seorang perempuan yang akrab dipanggil Lele, seorang juniornya di Fakultas Hukum Undip.

Diceritakan bahwa Lele bukanlah mahasiswi biasa, ia ikut dalam organisasi debat yan aktif. Menurut cerita tersebut, Lele sudah bekerja sebagai driver ojol sejak semester 5. Ia mengambil profesi itu untuk membantu perekonomian keluarga.

Kisah-kisah yang digambarkan tersebut seolah memberi pesan bahwa memang pendidikan adalah hal yang penting. Kawan-kawan driver ojol lain yang sempat putus sekolah, atau tidak bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi jadi tertunda karena biaya, jika memang memiliki tekad yang bulat untuk melanjutkan pendidikannya, pasti akan tercapai.

Seperti Universitas Paramadina misalnya, yang baru saja membuka sebuah program Pendidikan Untuk Semua dengan harga khusus bagi para driver ojol yang ingin melanjutkan kuliah. Tersedia untuk program S1 atau S2. Ada potongan uang masuk dan angsuran khusus untuk para driver online.

Syarat dan cara mendaftarnya juga cenderung mudah. Berstatus sebagai driver ojol aktif, dan melampirkan copy ID ojol yang masih berlaku pada saat mendaftar. Pendaftarannya dibuka online dengan mengunjungi http://admission.paramadina.ac.id. Bisa juga melalui telepon atau WhatsApp ke 0815-9181190. Potongan uang masuknya bahkan hingga 100% dan biaya kuliah mulai dari 1.850.000 per bulannya. Batas pendaftarannya hingga 30 April 2020.

Bagi yang ingin mencari informasi di kampus-kampus lain juga dipersilakan. Asal rajin dan niat mencari informasinya, program serupa akan dijumpai. Atau mungkin bahkan ingin mencoba melalui jalur beasiswa LPDP ke luar atau dalam negeri. Tak ada salahnya dicoba. Toh yang menikmati hasilnya tetap diri kita sendiri. Dan yang menentukan, juga masing-masing individunya sendiri.