Ojek online (ojol) dalam lima tahun terakhir telah menjadi ragam pekerjaan baru bagi sebagian warga Indonesia. Sejak booming pada tahun 2014 lalu, ribuan orang telah berbondong-bondong menjadi mitra ojol.

Tawaran penghasilan yang menggiurkan diakui menjadi motif dasarnya. Betapa tidak, seorang driver ojol bisa mengantongi jutaan rupiah dalam sebulan. Jumlah ini meningkat jauh dibandingkan menjadi ojek pangkalan biasa.

Intervensi teknologi dalam sebuah aktivitas bisnis konvensional (baca: ojek) memang telah mengubah lanskap aktivitasnya. Kini profesi ojek tidak lagi dipandang sebelah mata oleh masyarakat Indonesia.

Tetapi masa ‘bulan madu’ driver ojol yang berpenghasilan tinggi itu sepertinya mulai berakhir. Karena perlahan para driver ojol mulai mengeluh sepinya orderan. Hal ini tentu saja berdampak pada penghasilan mereka yang juga menurun.

Inilah yang dialami oleh Hasan, seorang driver ojol di Dayeuhkolot Bandung. Ia merasakan sepinya orderan dalam beberapa pekan ini.

Hasan yang biasanya menjalani pekerjaan sejak pukul 06.00 WIB, mengaku butuh waktu yang lama untuk bisa mendapatkan orderan penumpang. “Dua jam paling dapat satu orderan,” ungkapnya sebagaimana dilansir dari ayobandung.com, Minggu (26/01/2019).

Hal senada juga diakui Haris, yang juga sehari-hari narik ojol di sekitaran Bandung. Menurutnya butuh waktu lama untuk bisa tupo (tutup poin). Biasanya untuk bisa tupo dia hanya butuh waktu beberapa jam saja. Namun kini butuh waktu belasan jam untuk mengejar bonus.

Tak hanya di Bandung, orderan sepi juga dialami oleh para driver ojol di Semarang. Hal ini mereka rasakan sepanjang awal 2020 ini. Tak hanya penumpang, order pesan antar makanan juga berkurang drastis. Asumsi mereka kondisi ini terjadi karena banyaknya kampus yang libur.

“Biasanya jam segini sudah dapat lima order. Ini cuma satu,” jelas Anto, abang ojol di kawasan Banyumanik Semarang, seperti dikutip dari tagar.id, Kamis (23/01).

Kondisi serupa ternyata juga terjadi di Malang. Menjelang pergantian malam tahun baru lalu pengemudi ojol di sana juga mengeluh sepinya orderan.

Adi Sutrisno, driver ojol yang biasa mangkal di Jalan Bondowoso Malang mengaku orderan lagi sepi karena masa libur kampus. “Kalau masa libur sekolah atau kampus gini ya sepi, karena biasanya yang banyak order itu dari mahasiswa atau anak sekolah,” keluh Adi.

Bila dibandingkan dengan masa awal kemunculan ojol dulu, penghasilan para driver saat ini memang telah menurun drastis. Misalnya, seorang driver ojol di Jakarta pada medio 2014-2015 lalu bisa mendapatkan penghasilan Rp. 8-10 juta per bulan, kini tak bisa lagi seperti itu.

Kala itu, pendapatan sebagai supir ojek bisa sepadan dengan para pekerja kantoran. Namun kondisi tersebut sekarang mulai berbalik. Orderan mulai sepi, penghasilan turun, ditambah dengan minimnya perlindungan bagi driver.

Terlepas dari kondisi temporer seperti libur sekolah/kuliah, penurunan penghasilan para driver ojol ini sebenarnya sudah menjadi tren dalam beberapa tahun terakhir. Musababnya tak lain adalah membludaknya jumlah driver ojol saat ini.

Antara driver dan penumpang itu bisa diibaratkan seperti demand (permintaan) and supply (penawaran)dalam mekanisme pasar. Jika permintaan penumpang tetap, tetapi supply driver membludak, maka akan timbul ketidakseimbangan pasar. Alhasil, nilai driver akan perlahan menurun.

Di sisi lain, jumlah driver yang semakin bertambah menyebabkan persaingan makin ketat sehingga pesanan ojek pun makin sulit didapat. Ketua Presidium Gabungan Aksi Roda Dua (Garda) Igun Wicaksono mengakui adanya penurunan order sebesar 20-40% dalam beberapa tahun terakhir.

Asumsinya, sebelum driver membludak, seorang penumpang bisa membawa 10-15 penumpang sehari. Namun kini hanya bisa mendapatkan 5-6 orang saja. Hal ini tentu saja mengakibatkan pendapatan pengemudi juga terjun bebas.

Dulu dengan membawa 10 orang lebih penumpang sehari seorang driver bisa kantongi uang sampai Rp 250 ribu. Namun, sekarang dengan jumlah order yang menurun, maka pendapatannya pun juga turun ke kisaran Rp 100-150 ribu sehari.

Hitungan matematis sederhana di atas cukup mudah menjelaskan mengapa orderan ojol mulai sepi sekarang ini.

Sekali lagi, terlepas dari kondisi temporer karena kuliah yang lagi libur atau hal lainnya, penurunan order ojol itu memang nyata adanya. Tren ini dilatarbelakangi oleh kebijakan pihak aplikator yang terus membuka pendaftaran driver baru sehingga jumlah driver semakin lama tak terkendali.

Jika tak ada kebijakan baru yang membatasi jumlah driver ini dikhawatirkan nasib para ojol semakin tak jelas ke depannya. Alih-alih memberikan kemaslahatan, justru akan menambah beban.

Kondisi ini yang seharusnya diwaspadai oleh para driver dan pemerintah. Kita berharap semoga segera ada kebijakan yang memberikan win-win solution bagi setiap pihak.

Jangan sampai hal ini akan membawa ledakan masalah baru di kemudian hari. Setuju?