Jutaan mitra ojek online di seluruh Indonesia ikut merasakan dampak pandemi Corona Covid-19. Pendapatan setiap hari yang bisa menghidupi diri dan keluarga di rumah, menurun secara drastis. Biasanya dalam sehari, ojol bisa mendapatkan 15-20 penumpang. Setelah penutupan sejumlah lokasi keramaian, pendapatan pengojek online menurun hingga 2 sampai 5 orang saja setiap hari.

Di Jakarta kondisinya lebih memprihatinkan setelah Pemprov resmi memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) hari ini, (10/4). Kebijakan PSBB ini berimbas pada hilangnya layanan ojol membawa penumpang dari aplikasi Gojek dan Grab Indonesia.

Bisa dikatakan dengan larangan mengangkut penumpang, maka pendapatan driver khususnya di wilayah Jakarta akan terhenti.

Melihat situasi ini, seharusnya pihak aplikator transportasi online memberi kelonggaran kepada para pengemudi ojek. Kelonggaran itu misalnya dengan menurunkan potongan setoran pengemudi ojek online atau ojol ke perusahaan dari semula 20 persen menjadi 10-15 persen.

Kenyataan yang terjadi sebaliknya. PT Gojek Indonesia hingga detik ini justru masih menerapkan berbagai macam potongan, dari potongan tidak menggunakan atribut, potongan transaksi, hingga tidak terealisasinya penundaan cicilan. 

“Aku kira lagi pandemi gini, potongan-potongan gituan di udahin dulu gitu setidaknya sampe pandemi kelar kan. Gimana nyari duitnya kalo potongan aja sebanyak ini. Kan jadi kasihan driver yang mata pencaharian utamanya disini. Kok tega banget ya gojek,”kata @PayIndrawan11 di akun Twitternya. 

Sebagai perusahaan “karya anak negeri”, Gojek seharunsya membuat kebijakan yang benar-benar dapat meringankan beban para mitra. Terutama bagi mereka kelompok miskin dan rentan miskin. 

Seperti yang dilakukan kompetitornya Grab baru-baru ini. Para mitra driver GrabCar mendapatkan keringanan penundaan pembayaran rental hingga Juni 2020, sebagai bagian dari stimulus dampak corona (COVID-19).