Istilah order fiktif, atau yang biasa dikenal di kalangan para pengemudi ojol dengan sebutan ‘opik’, barangkali sudah menjadi hal yng umum didengar. Ternyata ada hal yang lebih merugikan lagi, yaitu gerai fiktif.

Gerai fiktif tersebut merugikan pihak Gojek hingga ratusan juta. Ini baru kasus yang ketahuan. Diunggah oleh akun YouTube Jacklyn Choppers, video tentang Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap para pelaku gerai fiktif dan orderannya. Dalam video itu, polisi meringkus para pelaku yang terlibat, dari mulai yang memiliki gerai, hingga para pengemudi Gojek yang terlibat.

Dalam deskripsi di akun YouTube-nya, polisi yang memiliki hobi terhadap motor custom itu menuliskan bahwa ini adalah perkara tindak pidana penipuan dan atau manipulasi data melalui media elektronik / pasal 378 KUHP dan pasal 35 UU RI NO.19 TAHUN 2016 TTG ITE Pasal 378.

Sementara itu, disebutkan pula tentang rentang waktu kejadian yang ternyata sudah cukup lama, sejak 11 September 2019 hingga 13 Januari 2020. Tempat kejadian berada di kawasan Cikarang. 

Dalam deskripsi video itu juga dituliskan, bahwa pada Kamis, 20 Februari 2020, Tim Opsnal 2 Unit 2 Jatanras, dipimpin oleh AKP. M. Iskandarsyah, bersama dengan Tim Tindak Subdit Jatanras, melaksanakan patroli di wilayah hukum Polda Metro Jaya, yaitu di wilayah Cikarang Barat.

Pada saat dilaksanakan patroli, Tim Gabungan mendapatkan informasi dari masyarakat mengenai adanya gerai (merchant) fiktif, yang melaksanakan orderan makanan via Go-food. Selanjutnya tim merapat ke lokasi dan menemukan kegiatan tersebut, serta melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap pelaku gerai (merchant) fiktif dan pelaku driver yang mengambil orderan.

Setelah dilaksanakan pengecekan dan koordinasi dengan pihak Gojek, ditemukan Laporan Polisi yang telah dibuat oleh pihak Gojek sebagai korban yang dirugikan.

Polisi dengan penampilan nyentrik ini juga menuliskan keterangan dalam deskripsi video yang diungghanya, dari tiga tempat yang diduga sebagai gerai fiktif, Warung Seblak Mama Sherly, Warung Nita dan Warung Srikandi, diamankan 23 pelaku. Di samping itu berikut barang bukti, seperti mesin spot scan Gojek, ratusan simcard baru, puluhan ponsel berbagai merek, laptop, buku catatan harian, dan bon orderan fiktif.

Selanjutnya para pelaku dibawa ke Polda Metro Jaya, untuk melakukan penyidikan lebih lanjut. Kasus semacam ini memang cukup meresahkan. Selain kasus ini merugikan pihak Gojek, ini juga bisa berimbas pada para pengemudi Gojek lainnya.

Dalam kolom komentarnya, beberapa netizen juga ikut menyuarakan kegelisahannya atas kasus-kasus serupa. Seperti yang ditulis oleh akun YouTube dengan nama Kosasih Sunanta, “Mantab pak jack. Berantas terus sindikat pelaku order fiktif yang sangat merugikan pengusaha. Bogor pun byk tapi blm ada yg membuat laporan dan tindakan. Bravo Polda Metro Jaya”.

Sementara itu, komentar dengan hal senada juga ditulis dalam kolom komentar video tersebut. Akun dengan nama ari ari mengatakan, “Cuma yg pada mangkal doang pak polisi yg ditangkepin yg pada maen d dalem rumah masing2 ga d tangkep.Saya driver onlein sering kena order fiktik kl LG narik. Tolong basmi secara merata”.

Dukungan juga banyak mengalir untuk tim kepolisian. Akun dengan nama Petria Ganteng menuliskan, “Bravo buat bang Jack dan team Polda…berantas terus penipuan aplikasi yg jadi korban driver gojek yg g tau apa2 kena Putus mitra……👍👍👍💪💪 semoga sehat selalu..bang jack”.

Dari kasus ini, bukan hanya Gojek saja yang merugi, tapi kasus ini banyak merugikan pengemudi lain yang terkena imbasnya. Urusan putus mitra, karena akunnya bukan digunakan oleh sang pemilik menjadi hal yang lazim.

Kasus yang tidak dituntaskan sebelumnya oleh Gojek justru menambah daftar panjang lahirnya kasus-kasus lain yang merugikan banyak pihak dan tentunya Gojek itu sendiri. Kini, “Selalu Ada Jalan”, sebagaimana sebuah tagline yang selalu digunakan Gojek untuk beragam materi promosi dan kampanye, terdengar berbalik seperti senjata makan tuan, karena selalu ada jalan pula untuk para penipu bila tidak dituntaskan kasusnya.