Pada Jumat (28/2), sejumlah pengemudi ojol melakukn aksi di depan Gedung DPR RI. Mereka membawa sejumlah tuntutan, di antaranya adalah meminta agar ojek online dilegalkan secara hukum sebagai angkutan umum. 

Aksi ini diberi nama Tifosi 282, mereka mendesak DPR RI untuk melegalkan kendaraan motor menjadi transportasi khusus yang bersifat terbatas, dengan cara merevisi UU No 22 Tahun 2009.

Dikutip dari Detikcom, jubir aksi Tifosi 282, Lutfi Pramudya Iskandar Ikhwan, mengatakan,  “Revisi undang-undang nomor 22 tahun 2009 yang mengatur tentang LLAJ, itu yang pertama. Yang kedua kita minta agar angkutan-angkutan roda dua ini bisa dilegalkan jadi angkutan transportasi khusus yang bersifat terbatas.”

Di samping meminta agar ojol dilegalkan menjadi angkutan umum, mereka juga menolak wacana pembatasan kendaraan roda dua di jalan nasional yang dilontarkan Komisi V DPR RI. Mereka meminta Wakil Ketua Komisi V, Nurhayati Monoarfa, mundur dari jabatannya. Nurhayati diprotes karena mengusulkan motor tak boleh melintas di jalan nasional.

Jika biasanya dalam sebuah aksi ada utusan massa sebagai perwakilan pendemo masuk ke dalam gedung untuk audiensi langsung, dalam aksi ini massa ojol justru enggan mengutus perwakilannya. Mereka minta hal yang sebaliknya, menuntut perwakilan DPR RI untuk menemui langsung para demonstran dan memberi penjelasan mengenai apa yang telah dilontarkan oleh Nurhayati Monoarfa.

Pada awalnya suasana demo di depan gedung DPR ini berjalan kondusif. Hingga ada salah satu orator aksi berseru, “Turunkan Nurhayati!”. Dia meminta Nurhayati turun karena telah mengusulkan pembatasan kendaraan motor melintas di jalan nasional.

Massa sempat membalas dengan seruan yang sama, diikuti dengan lemparan botol. Namun kejadian yang sempat bersitegang itu tidak berlangsung lama. Koordinator aksi di mobil komando langsung meredakan keadaan dan menenangkan massa, seperti dilansir oleh Detikcom.

Peserta demo yang hadir bukan hanya berasal dari Jakarta saja. Mereka menggunakan jaket ojol sebagai identitasnya. Beberapa ada yang memakai rompi berwarna hitam bertuliskan asal serikat atau mewakili bendera komunitasnya, seperti dari Banten, Jawa Timur, Jawa Tengah dan daerah lainnya.

Jalan di sekitar lokasi demo juga ditutup. Hanya TransJakarta yang masih diizinkan melintas. Sementara itu, kendaraan lain yang ingin melalui Gedung DPR RI dialihkan ke Jalan Gelora dan Jalan Gerbang Pemuda Senayan.

Di sisi lain, para ojol yang tidak ikut demo saat itu terkena imbas sweeping dari kelompok ojol lainnya. Tak pandang yang sedang menunggu atau baru menurunkan penumpang, bahkan yang membawa penumpang pun diminta untuk tidak meneruskan perjalanannya.

Mereka yang membawa pelanggan diberhentikan dengan alasan untuk menghormati para ojol lain yang sedang berdemo. Beberapa ojol yang lewat pun akhirnya terpaksa menurunkan penumpangnya. Mereka tidak bisa berbuat banyak. Aktivitas sweeping ini dilakukan di sekitar Stasiun Palmerah.

Harapan para ojol tentunya agar persoalan ini ada titik terang. Yang berdemo tuntutannya didengar dan diwujudkan, yang memang ingin mencari nafkah untuk hari itu juga tak perlu ketakutan terkena sweeping. Agar semua merasakan ketentraman. Termasuk masyarakat lainnya sebagai pengguna jasanya.

Salam aspal…