Sebagaimana hari-hari raya lainnya, Hari Raya Natal yang dirayakan oleh umat Kristiani bisa menjadi simbol toleransi antar umat beragama di Indonesia. Beberapa peristiwa pada momen ini cukup menggambarkan kerukunan dan persaudaraan diantara kita, bangsa Indonesia.

Kisah toleransi seperti itu salah satunya ditunjukan oleh para punggawa ojek online (ojol). Di momen Hari Raya Natal yang menjadi ajang kegembiraan saudara-saudara kita yang beragama Kristen dan Katolik, mereka juga turut berbagi kebahagiaan dengan caranya masing-masing.

Seperti yang dilakukan oleh para driver ojol di Bandung. Puluhan driver ojol yang tergabung dalam sebuah komunitas ini turut membantu dalam kegiatan bersih-bersih Gereja menjelang perayaan Natal.

Hal ini seperti dilaporkan oleh akun Twitter @AlexChandil pada 23 Desember 2019 lalu. Kegiatan bersih-bersih bersama ini dilakukan dalam rangka bakti sosial guna memupuk persaudaraan diantara saudara lintas iman. Sebab, banyak dari para driver itu yang sebenarnya beragama Islam dan lainnya.

Apa yang dilakukan oleh para driver ojol ini pada dasarnya adalah sebuah kebaikan. Tak ada salahnya jika kita saling membantu, kan?

Kisah kebaikan lainnya juga sempat terekam dari driver ojol bernama Iwan Priok. Pada perayaan Natal tahun lalu, namanya sempat harum. Pasalnya, dia berniat tulus untuk siap mengantarkan umat kristiani pergi maupun pulang dari gereja selama hari Natal.

Dia menegaskan niatnya tidak didasari untuk cari popularitas, melainkan semata-mata untuk solidaritas sesama umat beragama.

“Saya muslim. Khusus tanggal 25 Desember 2018, order dari atau tujuan ke gereja ane gratiskan. Bukan maksud cari sensasi, atau mencari popularitas. Tapi ane cuma sekedar membantu saudara-saudara ane yang beragama Kristen agar dapat beribadah di hari Natal,” kata Iwan Priok yang diunggah akun Instagram @dramaojol.id sebagaimana dikutip dari akurat.co

Terlepas dari momen Natal, kita juga bisa mencontoh kebaikan dari driver ojol bernama Maman Sulaeman asal Jakarta ini. Dia kerap menggratiskan tarifnya kepada penumpang yang ingin beribadah. Misalnya, penumpang yang ingin ke gereja, pura, atau masjid.

“Kalau kebetulan dapat pelanggan mau ke gereja, saya gratisin, kalau waktu ngobrol-ngobrol terus dia bilang lagi puasa sunah, saya gratisin juga. Enggak peduli mau Islam atau Kristen, ya, sama saja,” ujarnya sebagaimana dikutip Kompas, 25 April 2018.

Tindakan mulai dari para driver ojol tersebut bisa menjadi teladan bagi kita. Sekecil apapun cara kita berbagi kebahagiaan kepada sesama pada dasarnya adalah sebuah kebaikan. Dan, setiap kebaikan pasti akan berujung pada kemuliaan.

Kita tentu saja sangat mengapresiasi tindakan para driver ojol di atas. Inilah yang dibutuhkan bangsa Indonesia saat ini, apalagi ketika masyarakatnya banyak yang bertikai atas nama agama atau identitas primordial lainnya.

Kisah-kisah di atas juga sangat mengulik sisi nurani kita. Dalam hidup ini, tindakan penuh toleransi, empati, dan persaudaraan akan menjadi pertanda bahwa kita masih hidup. Di sini, hati kita yang hidup, bukan sekadar raga saja. Justru seperti inilah (seharusnya) gambaran manusia seutuhnya itu.

Meski terkesan langka, tetapi sebenarnya kisah-kisah seperti di atas telah menjadi kepribadian utama dari masyarakat Indonesia, dimana kita sejatinya memang sudah beragam sejak asali dan bisa saling menghormati.

Toleransi dan kerukunan antar identitas yang berbeda pada dasarnya adalah budaya kita. Inilah tradisi baik yang perlu dilestarikan bergenerasi-generasi lagi.

Setuju?