Grab menggandeng perusahaan teknologi asal Jerman, Volocopter, untuk uji coba layanan taksi terbang di Asia Tenggara. Pada 2019 lalu, perusahaan penyedia layanan teknologi transportasi udara itu sudah uji coba taksi terbangnya di Singapura. 

Uji coba taksi terbang dilakukan di atas Marina Bay, Singapura. Penerbangannya berlangsung sekitar dua menit. Meskipun penerbangan masa depan diharapkan sepenuhnya otomatis, Volocopter ini masih diawaki oleh seorang pilot. 

Volocopter adalah salah satu dari beberapa perusahaan yang mengembangkan drone yang setara dengan helikopter, dan para pendukungnya mengatakan taksi terbang bertenaga listrik menawarkan alternatif yang lebih aman, lebih tenang, dan bebas emisi.

Bila landasan untuk helikopter disebut helipad, untuk Volocopter ini disebut VoloPort. Pesawatnya dapat lepas landas dan mendarat secara vertikal, seperti helikopter pada umumnya. 

Dengan desain beta yang didemonstrasikan ini dapat menerbangkan dua orang dan barang bawaannya untuk jarak kurang lebih 30 kilometer. Volocopter masih berharap dapat mencakup rute lalu lintas tinggi di kota-kota besar, seperti antara bandara ke pusat kota, dengan kecepatan hingga 110 km per jam.

Volocopter mengembangkan Electric vertical take-off and landing (eVTOL) sudah sejak 2011. Helikopter listrik ini juga sudah melakukan uji coba terbang sebelumnya di Stuttgart, Dubai, Helsinki, dan Las Vegas. 

Sementara itu, taksi terbang dapat menggunakan atap bangunan dan helipad. Hal ini juga mengurangi kepadatan pada jaringan transportasi umum darat yang sudah ada. Bagi sebagian orang mungkin taksi terbang berpotensi meringankan jalan yang macet dan membantu orang bergerak cepat di sekitar wilayah perkotaan. PBB memperkirakan, bahwa 68% dari populasi dunia akan tinggal di kota-kota pada tahun 2050, termasuk di kota-kota besar di Indonesia. 

Di lain sisi, seringkali teknologi yang muncul berkembang lebih jauh di depan dibanding peraturan pemerintah dan penerimaan publik, wabil khusus di Indonesia. Misalnya, hal memicu banyak pertanyaan tentang masalah-masalah seperti keselamatan, biaya, infrastruktur, hingga kemacetan baru di langit.

Kedua perusahaan, Grab dan Volocopter, masih mengevaluasi biaya yang tepat untuk layanan taksi terbang tersebut. Dikutip dari The Verge, CEO Volocopter, Florian Reuter, mengatakan, “Kolaborasi ini juga menawarkan potensi kerja sama yang jauh lebih besar yang akhirnya dapat memperluas mobilitas antar moda di udara.”

Sementara itu, CEO Grab Ventures, Chris Yeo, menyampaikan, bahwa kemungkinan pengembangan solusi mobilitas udara di perkotaan lewat kerja sama ini. Dikutip dari TechCrunch, “Mereka dapat memutuskan pilihan perjalanan berdasarkan anggaran, kendala waktu, dan kebtuhan lainnya dengan cara yang mulus.”

Volocopter baru menargetkan penerbangan komersilnya dimulai pada 2022. Dengan skema penumpang akan terbang dari VoloPort satu, ke VoloPort lainnya. Pada 2035, Volocopter telah menargetkan memiliki puluhan VoloPort di Singapura dan menangani 10 ribu penumpang per harinya.

Lalu kapan ini akan terwujud di Indonesia, di Jakarta khususnya yang kemacetannya seringkali mengubah sifat seseorang. Semoga saja bila saat itu tiba, kita semua sudah siap. Bukan hanya dari perusahaan, tapi pemerintah dan publiknya juga harus menyesuaikan dengan berkembangnya teknologi yang tak terbendung.