Jika usulan tarif batas bawah ojol disahkan, mungkinkah para pengemudi ojol akan kembali ke masa kejayaannya pada saat awal profesi ini mulai jadi tren? Sekitar 4 atau mungkin 5 tahun lalu, banyak cerita mengenai kesejahteraan pengemudi ojek online yang memiliki penghasilan jauh di atas rata-rata pegawai lainnya.

Hal itu juga sempat mendorong tren beberapa pegawai yang keluar dari kantornya, lalu memutuskan untuk alih profesi sebagai pengemudi ojek online. Dengan iming-iming penghasilan yang lebih besar, bahkan bisa meraup hingga puluhan juta per bulannya.

Sebentar kemudian, pemerintah mulai mengatur tarif batas ongkos ojek online. Ditambah lagi dengan mulai berkurangnya bonus-bonus yang diberikan oleh perusahaan. Cerita-cerita kesejahteraan itu sesaat menghilang ditelan bumi.

Mengutip pemberitaan dari Detikcom, Direktur Angkutan Jalan Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Ahmad Yani mengungkapkan, driver ojol mengusulkan tarif batas bawah menjadi Rp 2.500 per km dari sebelumnya Rp 2.000 per km. Namun usulan kenaikan ini hanya untuk zona Jabodetabek.

Kenaikan iuran BPJS Kesehatan juga diduga menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan tarif batas bawah untuk ojek online. Saat ini persoalan tarif masih dalam proses pembahasan awal. Selain itu, pemerintah juga meminta pandangan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) sebagai wakil masyarakat.

Selain ojek online, taksi online juga memiliki potensi mengalami kenaikan tarif batas bawah. Hal ini juga didorong karena sudah sejak 3 tahun terakhir tarif batas bawah taksi online tidak mengalami perubahan. 

Bagaimana dari sisi konsumen? Apakah para pelanggan setia jasa ojek online atau taksi online akan lari dan berpaling ke transportasi lainnya? Dikutip dari Detikcom, pengamat transportasi, Djoko Setijowarno, menilai, kenaikan tarif ini berpotensi mengurangi jumlah penumpang. Pasalnya selama ini masyarakat yang menumpang ojol membandingkan tarif yang lebih murah antara ojol dan angkutan umum.

Di samping itu, perkembangan angkutan umum seperti bus gratis, bus TransJakarta, bus antar kota hingga kereta commuter line, MRT hingga LRT semakin membaik pelayanannya. Ini akan menjadi persaingan yang mungkin sebentar lagi bisa membuat masyarakat beralih ke transportasi masal sepenuhnya.

Di lain sisi, indikasi ini semakin menunjukan bahwa kegiatan perihal transportasi publik semakin membaik. Masyarakat atau para pengguna disuguhkan banyak pilihan untuk mobilitasnya sehari-hari, alih-alih berpikir membeli kendaraan baru.

Persoalan kekhawatiran mengenai pelanggan yang lari, kedua perusahaan ride-hailing itu tak perlu berlebihan. Pasalnya masyarakat Jabodetabek juga umumnya sudah cukup ketergantungan dengan keberadaan jasa yang mereka tawarkan.

Grab dan Gojek difungsikan bukan hanya untuk transportasi semata, tapi untuk urusan mengisi perut dan mengantar barangpun tetap akan dibutuhkan. Pasarnya sudah ada dan terbentuk, sebab kebutuhannya juga beragam dan mereka bisa menawarkan jasa yang belum bisa disediakan oleh pemerintah.

Saling mengisi kekosongan adalah kunci maju bersama. Oleh sebab itu, tak perlu saling sikut dan khawatir. Tapi jika dengan jalan tengah dan kebijakan semua bisa kembali kepada kesejahteraan, siapa yang tidak ingin, sih.