Bagi sebagian orang, Jakarta adalah impian. Tempat mengadu nasib, menawarkan kehidupan yang lebih layak, dengan segala kemegahan yang dimilikinya. Dibangun dengan harapan, meski kadang harus terima bila pada akhirnya dihancurkan oleh kenyataan.

Ibu kota dengan segala infrastruktur yang tersedia, baik yang telah tersedia atau tengah dibangun, memiliki ragam masalah dengan tingkatan yang berbeda-beda. Bahkan urusan napas segar juga bisa menjadi kendala di kota yang sempat dikenal dengan nama Batavia pada zaman penjajahan.

Jakarta krisis ruang terbuka hijau. Masyarakatnya yang menetap, singgah, atau beraktivitas di Jakarta, kehilangan tempat untuk duduk-duduk santai di segarnya suasana taman. Menurut data Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta, jumlah Ruang Terbuka Hijau (RTH) menyentuh angka 3.131, dengan dibagi lagi menjadi beberapa kategori: taman kota, taman lingkungan, taman interaktif, termasuk jalur hijau pinggir jalan.

Jika dipecah lagi berdasarkan wilayah, hanya Jakarta Pusat yang memiliki RTH paling banyak, dengan 913 RTH. Sementara itu Kepulauan Seribu hanya memiliki 5 RTH, jumlah yang paling sedikit untuk Kawasan Provinsi DKI Jakarta.

Secara persentase, jumlah RTH di Jakarta masih di bawah 10%. Bukanlah angka yang ideal untuk ukuran kota yang menjadi wadah aktivitas perekonomian sekaligus pusat pemerintahan. Idealnya Jakarta memiliki 30% RTH dari luas wilayahnya.

Banyaknya RTH bukan hanya memberi imbalan berupa udara segar, tapi ia juga bisa menangkis polusi dan dan berfungsi sebagai kawasan penyerapan air, mengingat persoalan lain di Jakarta yang juga mudah menjadi perhatian: macet dan banjir.

Sementara itu, dilansir oleh Tirto.id, tentang sebuah jurnal penelitian Environmental Science and Technology (2010), yang meneliti 1.252 orang di Inggris yang diminta melakukan beragam aktivitas di alam terbuka, seperti bersepeda, berkebun, memancing, atau hanya jalan-jalan saja. Hasilnya terbukti dapat memperbaiki mood dan kesehatan mental.

Peneliti menggunakan The Rosenberg Self Esteem Scale untuk mengukur suasana hati dan kesehatan mental. Kelompok usia yang memilik perubahan terbesar ada di bawah 30 tahun. Sementara itu efek perubahan semakin berkurang seiring pertambahan usia. Orang yang umurnya sudah lebih dari 70 tahun paling sedikit mengalami perubahan mood dan kesehatan mental.

Berdasarkan pengamatan ini, peneliti merekomendasikan aktivitas di ruang terbuka hijau sebagai terapi bagi orang-orang yang memiliki persoalan kesehatan mental. Selain itu, untuk menata kesehatan mental sejak dini, anak-anak perlu berinteraksi dan berkegiatan di luar ruangan.

Untuk itu, kiranya perlu pemerintah untuk mengakomodir penambahan ruang terbuka hijau di sebuah kota. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menganggarkan 140 miliar untuk merevitalisasi taman yang sudah ada, di antaranya Taman Puring, Taman Langsat, Taman Tebet, Taman Tugu Tani, dan Taman Mataram. Meski begitu, dalam hal penambahan ruang terbuka hijau, pemerintah seringkali menemui kendala, terutama dalam hal pembebasan lahan. Dan menghirup udara segar akan tetap jadi hak masyarakat yang mestinya terakomodir dengan baik.

Di lain sisi, dengan bertambahnya ruang terbuka hijau atau taman-taman, maka bertambah pula daftar rekreasi. Lokasi itu bisa menjadi alternatif piknik warga yang murah meriah. Bisa juga dimanfaatkan sebagai tempat untuk sebentar melepas penat. Atau bahkan mungkin sedikit rebahan di atas rumput untuk sekadar meluruskan pinggang setelah berjibaku dengan kemacetan.

Bahwa kota besar bukan hanya perkara beton, ia juga butuh banyak pohon. Dan infrastruktur tak mesti melulu dibangun tanpa memperhatikan infrakultur.