Banyak orang hebat yang memiliki sikap terpuji ada di sekitar kita. Mereka bukanlah seorang tokoh ataupun pemimpin publik, tetapi memiliki keteladanan yang patut menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Dan, diantara mereka itu adalah para pengemudi GrabCar. Kita bisa temui inspirasi yang luar biasa dari keseharian mereka di jalan, baik dari sisi etos kerja, kejujuran, keberanian, hingga tanggung jawab.

Kisah inspiratif pertama datang dari Fajar Shiddiq, seorang driver Grab Car tuna rungu di Kota Bandung. Meski memiliki kekurangan fisik, Fajar ingin bekerja layaknya orang biasa.

Pemuda yang ramah senyum ini juga tidak pernah mengeluh dengan keterbatasannya. Dia memiliki semangat dan kemampuan agar hidupnya mandiri.

Oleh karena itu, Fajar berusaha bekerja untuk menghidupi diri sendiri dan membantu perekonomian orang tuanya. Menjadi pengemudi GrabCar adalah salah satu usahanya.

Fajar menjadi teman tuli pertama yang menjadi driver Grab di Bandung. Ia bersyukur karena seorang different ability (difabel) seperti dirinya ternyata diberikan kesempatan bekerja menjadi mitra pengemudi.

Setelah bekerja sebagai mitra GrabCar, Fajar mengaku mengalami perubahan, terutama keberanian untuk berkomunikasi.

“Dulu, waktu saya belum kerja di Grab, kadang-kadang saya merasa kurang percaya diri. Kalau bertemu orang juga khawatir salah ngomong, takut salah paham. Tapi setelah masuk Grab, saya jadi berpikir, tidak apa-apa. Meskipun saya tuli, saya tetap harus berani untuk berkomunikasi. Apalagi saya punya tanggung jawab agar customer selamat sampai tujuan, jadi saya harus berani,” tutur Fajar seperti dikutip tribunnews.com, Jumat (27/12).

Fajar biasanya bekerja mulai pukul lima pagi hingga Magrib. Dengan menjadi pengemudi seperti ini, ekonominya turut terbantu. Yang lebih penting lagi, kepercayaan diri serta martabatnya bisa dianggap setara selayaknya manusia lainnya.

Kemudian, hasil jerih payah dari bekerja ini dipakainya untuk keperluan sehari-hari, membantu orang tua, ditabung untuk menikah, dan membuat usaha lain.

Kerja keras Fajar layak diacungi jempol. Keren kan seorang Fajar ini?

Kisah inspiratif berikutnya berasal dari seorang Rabiatul Adawiyah, seorang pengemudi GrabCar di Medan, Sumatera Utara. Demi meraih cita-citanya, dia rela siang-malam bekerja sebagai driver GrabCar agar bisa melanjutkan kuliahnya.

Meski berpendidikan tinggi, Rabiatul tak pernah gengsi atau minder untuk “narik” GrabCar. Ia bahkan dikenal sebagai sosok yang sangat semangat mencari konsumen setiap harinya.

Rabiatul mengaku menjalani profesi ini agar dapat melanjutkan magister (S2) tanpa merepotkan orangtua dengan meminta uang kepada mereka. Inilah latar belakang dirinya menjadi seorang pengemudi GrabCar.

Terhitung, dalam sehari dia berhasil mendapatkan penghasilan paling sedikit Rp300 ribu dan paling banyak bisa mencapai Rp700 ribu.

“Saya mendapatkan paling minimal Rp300 ribu bersih setiap harinya, paling besar bisa sampai Rp700 ribu. Saya cuma berhenti kalau sedang makan ataupun salat. Makanya saya sering dijuluki Ratu Ngebid sama rekan-rekan driver lainnya,” ujarnya seperti dilansir dari CNNIndonesia, Rabu (15/01).

Menariknya, Rabiatul ini sebenarnya bukanlah orang yang hidupnya berkesusahan. Sebab, orang tuanya adalah seorang hakim di Pengadilan Agama. Ia menjadi driver GrabCar karena cita-cita untuk hidup sederhana dan mandiri.

Awalnya, dia pun mengaku mendapat penolakan dari keluarga yang sempat merasa malu terhadap profesinya sebagai seorang sopir Grab. Tetapi secara perlahan keluarganya dapat menerima dan mendukung profesinya tersebut.

Apalagi setelah melihat niat dan tujuan dirinya yang mulia agar menjadi anak yang mandiri dan tidak selalu bergantung pada orang tua.

Apa yang dilakukan oleh Fajar dan Rabiatul tersebut merupakan cerminan bahwa kisah hidup yang inspiratif bisa hadir dari mana saja, termasuk dari seorang driver GrabCar. Teladan itu pun juga bisa hadir dari sisi orang berpunya dan berkekurangan.

Apapun pekerjaannya itu bukan halangan bagi kita untuk menyebarkan semangat positif. Bekerja menjadi apa saja asalkan dijalani dengan etos kerja yang tinggi, tanggung jawab, dan keyakinan yang tinggi, pasti akan membawa dampak yang positif bagi diri dan lingkungan di sekitarnya.

Yang paling esensial, bekerja itu soal martabat. Dari sinilah eksistensi manusia itu dibentuk.