Salah satu transportasi online terkemuka, Grab, bakal meluncurkan armada mobil listrik dan motor listrik untuk melayani pelanggan di Indonesia. Dalam uji coba Januari ini, Grab menyiapkan 20 unit motor dan mobil listrik hasil kerjasama dengan produsen mobil Hyundai, Astra Honda Motor (AHM) dan Gesits.  

Uji coba ini sejalan dengan komitmen yang dibuat oleh SoftBank dan Grab, di mana SoftBank menginvestasikan US$ 2 miliar ke Indonesia melalui Grab, untuk membangun ekosistem EV (electric vehicle) Indonesia dan untuk mendukung tujuan pemerintah mencapai 2 juta unit kendaraan listrik pada tahun 2025.  

Belum dipastikan lokasi penempatan untuk 20 armada pilot tersebut. Namun secara logis penempatan dari mobil-mobil listrik ini cocok di tempat-tempat yang mungkin traffic-nya cukup tinggi, kemudian bisa dilakukan pengisian baterai. Beberapa hal yang cukup logis seperti di mal, perkantoran, dan tidak tertutup untuk bandara. 

Pengembangan kendaraan listrik oleh Grab diharapkan mampu mengubah wajah Indonesia karena akan menurunkan pencemaran udara dan biaya transportasi yang ditanggung masyarakat. 

”Kendaraan bermotor listrik (KBL) ini jangan menjadi sesuatu yg hanya mengikuti sebuah tren, tetapi harus benar-benar kita bisa jadikan sebagai salah satu bentuk inovasi teknologi yang bisa merubah lifestyle kita semua. Grab menjadi salah satu pemimpin untuk melaksanakan inovasi teknologi dengan cepat dan penerapan kendaraan bermotor listrik di indonesia.” kata Hammam Riza, Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), seperti dikutip di laman Grab.com

Kedepannya, Grab berencana akan memperluas ekosistem kendaraan listrik di Indonesia dengan kerjasama dengan pemerintah, mitra seperti produsen mobil, perusahaan listrik negara—dalam hal ini PLN.

PLN bangun 167 SPKLU 2020

Tentu upaya Grab dalam mengembangkan trasnportasi ramah lingkungan di Indonesia tak sendiri. Perusahaan setrum plat merah, PLN, juga berencana akan menambah 167 unit SPKLU untuk mobil listrik di seluruh Indonesia. 

Pembangunan SPKLU mobil listrik ini akan dikerjakan sambil menunggu peraturan turunan dari Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai untuk Transportasi jalan. Perpres kendaraan listrik ini dibutuhkan agar penggunaan kendaraan listrik bisa lebih terakselerasi.

General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Jakarta Raya Ikhsan Assad, salah satu regulasi yang ditunggu adalah detail pengaturan soal tarif yang dikenakan untuk SPKLU. Sebab, sampai saat ini pengaturan soal tarif masih berlaku untuk Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPLU) yang biasa digunakan untuk pengisian motor listrik dan keperluan umum lainnya, seperti kebutuhan listrik pedagang dan event di sekitar SPLU.

“Tarif SPKLU belum ditetapkan. Tarif SPLU memakai tarif multiguna Rp 1.644 per kWh,” kata Ikhsan.

Adapun, hingga akhir 2019, SPLU yang tersebar di Jakarta tercatat sebesar 1.922 unit. Dari jumlah itu, sepanjang tahun lalu PLN mejual listrik dari SPLU sebanyak 2,47 juta kWh dengan pendapatan total sekitar Rp 3,9 miliar.

Adapun untuk SPKLU mobil listrik, saat ini terdapat delapan unit di Jakarta. Yakni 3 unit di PLN UID Jakarta Raya, dan masing-masing satu unit di PLN UP3 Bulungan, Senayan City dan PLN Pusat yang dimiliki oleh PLN.

Sepanjang 2019, total pemakaian listrik di SPKLU mobil ini tercatat sebesar 47.732 kWh.