Wilayah Jabodetabek dilanda banjir sejak pergantian tahun kemarin. Sejumlah daerah terendam air mulai dari mata kaki hingga setinggi rumah.

Kondisi ini tentu mempengaruhi kehidupan masyarakat. Pasalnya, banjir telah menghambat akses mobilisasi warga.

Tak ayal hal ini juga berpengaruh pada aktivitas para driver ojok online (ojol). Mitra pengemudi kesulitan mengambil pesanan karena banyak jalanan yang terendam banjir.

Padahal, jika mitra tidak mengambil pesanan dalam jumlah dan pada waktu tertentu, biasanya akan dikenakan sanksi berupa penghentian akun sementara (suspend). Inilah yang mereka khawatirkan sejauh ini.

Oleh karena itu, Gabungan Aksi Roda Dua (Garda) berharap Gojek dan Grab tidak memberikan sanksi kepada mitra pengemudi ojek online, lantaran tak mengambil pesanan. Sebab, mitra pengemudi memang kesulitan mengakses jalan di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) yang terendam banjir.

“Kami mengimbau aplikator, khususnya Gojek dan Grab untuk selama dalam kondisi bencana banjir ini tidak melakukan suspensi maupun putus kemitraan kepada para pengemudi yang tidak dapat mengambil order,” kata Ketua Presidium Nasional Garda Igun sebagaimana dikutip katadata.co.id, Kamis (2/1).

Kekhawatiran para pengemudi ini akhirnya dijawab oleh perusahaan aplikasi penyedia jasa ojek online, meskipun tidak secara tegas berkaitan dengan masalah yang dihadapi oleh para mitra pengemudi di lapangan.

Dalam pernyataan resminya, Vice President Corporate Communications Gojek Kristy Nelwan mengatakan meskipun aplikasi tetap berjalan seperti biasa, tetapi tidak menutup kemungkinan adanya hambatan di beberapa titik lokasi.

“Kami sampaikan bahwa aplikasi Gojek tetap beroperasi seperti biasa dengan catatan adanya kemungkinan hambatan lapangan di titik-titik lokasi yang terdampak banjir,” tutur Kristy seperti dikabarkan oleh bisnis.com, Kamis (2/1).

Selain itu, guna memastikan keamanan dan keselamatan pelanggan dan mitra, dia menyatakan pihaknya siaga memantau serta memberikan bantuan logistik bagi para mitra yang terkena dampak bencana banjir.

Senada dengan itu, Public Relations Assistant Marketing Manager Grab Indonesia Satrya Pinandita mengatakan, layanan transportasi Grab berjalan normal meskipun banjir.  

“Kami juga mengimbau kepada mitra pengemudi dan pelanggan untuk senantiasa mengutamakan keselamatan diri di manapun, termasuk saat berkendara,” kata Satrya seperti diberitakan Katadata.

Kekhawatiran pengemudi ojol di atas bukanlah isapan jempol. Pasalnya, dalam kondisi banjir seperti ini permintaan pesanan masih tetap tinggi. Apalagi sebagian warga tidak bisa keluar rumah sehingga banyak mengandalkan ojol.

Tetapi masalahnya, tidak semua jalan itu bisa dilalui oleh para driver. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya banyak dari mereka yang lebih memilih untuk membatalkan pesanan.

Kondisi ini seperti yang dialami oleh driver Grab bernama Herman di kawasan Kemang Jakarta. Ia mengaku, ada beberapa pesanan yang ia tolak karena akses jalan menuju lokasi terendam banjir.  

Hal serupa dilakukan oleh mitra pengemudi Gojek Muhammad Zaki (24 tahun). Ia menyelesaikan 11 pesanan dari biasanya sekitar 20. Ada lima yang dibatalkan, karena warungnya tutup.

Saking takutnya, bahkan banyak pengemudi ojol yang mematikan aplikasinya. Iwan Susanto, driver ojol yang biasa beroperasi di wilayah Kemang Jakarta Selatan, misalnya. Ia mengatakan sudah 2 jam mematikan aplikasi ojeknya.

“Saya gak mau ambil risiko karena banyak jalan banjir, 2 jam saya matiin aplikasi jadi narik gak pake aplikasi kaya opang (ojek pangkalan) aja. Hari ini aja ada 55 orderan masuk saya angkut cuma 8,” kata Iwan, seperti dikutip dari gridoto, Rabu (1/1).

Melihat berbagai keresahan di atas, memang sudah sepantasnya apabila pihak aplikator berlaku bijaksana dengan memberikan sedikit kelonggaran kepada para mitra pengemudi. Yang jelas, tak perlu ada sanksi suspend di tengah kondisi banjir seperti ini.

Apabila dirasionalisasikan, kondisi di atas termasuk dengan force majeur dimana ini soal kedaruratan. Dalam situasi seperti ini, seyogianya kita juga berlakukan hukum kedaruratan. Termasuk untuk kebijakan suspend bagi pengemudi ojek online.

Misalnya, dengan memberikan kelonggaran saksi suspend sampai beberapa hari ke depan. Toh dalam situasi normal, kebijakan itu bisa diterapkan lagi.

Hal itu dirasa lebih adil dan bijaksana daripada memukul rata kebijakan dalam setiap kondisi.