Grab terus berupaya untuk mengoptimalkan layanannya. Dengan memanfaatkan kecerdasan buatan dan teknologi big data, Grab terus menyempurnakan kepuasan pelanggannya. Grab mengakui telah mengumpulkan data puluhan terabyte per harinya dari beragam aktivitas atau fitur yang digunakan oleh mitra atau pelanggannya. 

Melalui kecerdasan buatan itu, Grab bisa mengetahui data mengenai jarak yang telah ditempuh oleh seluruh mitra pengemudinya. Dikutip dari KataData, Managing Director Grab Indonesia, Neneng Goenadi, mengatakan, “Dengan Artificial Intelligent (AI), data yang diolah agar keamanan dan kepuasan konsumen Grab lebih Baik.”

Dalam sumber yang sama, Neneng juga menyebutkan angka terkait jarak yang telah ditempuh oleh mitra Grab mencapai 420 juta kilometer per pekan. Jarak ini bahkan lebih jauh dari rentang bumi-matahari-bumi.

Analisa peta perjalanan adalah salah satu dari fitur Grab yang memanfaatkan kecerdasan buatan dan teknologi big data. Dengan memanfaatkan data perjalanan mitra pengemudi Grab, sistem pemetaan Grab ini mampu memprediksi jalur yang paling efektif untuk ditempuh, sehingga mampu untuk memberi saran rute perjalanan. Hal ini juga mempengaruhi penentuan harga perjalanan.

Selain itu, ada pula fitur heatmap untuk mitra pengemudi. Melalui heatmap ini, Grab mampu mengetahui, memantau, memetakan, hingga menghitung permintaan layanan di lokasi tertentu. Hal ini juga dapat dimanfaatkan untuk menghindari titik kemacetan.

Dilansir KataData, Neneng Goenadi mengatakan, “Kami juga bekerja sama dengan pemerintah untuk menertibkan titik macet karena penumpang dan pengemudi. Misalnya, kami mengubah titik jemput di aplikasi Grab di beberapa titik keramaian, agar pengemudi dapat menunggu di lokasi yang telah kami sediakan guna mengurangi kemacetan.”

Penggunaan kecerdasan buatan dan teknologi big data juga membantu Grab untuk melahirkan inovasi demi inovasi. Grab Kitchen dan fitur Saran Perjalanan adalah fitur-fitur yang hadir dengan memanfaatkan kedua teknologi tersebut. 

Di samping itu, Grab juga membuka diri bagi mahasiswa untuk melakukan riset untuk studinya berbekal data yang sudah tersedia. Tentunya hasil dari riset tersebut diharapkan bisa segera diterapkan, dengan pendampingan dari tim riset dan pengembangan milik Grab.

Hal ini dilakukan juga untuk meningkatkan daya saing mahasiswa Indonesia di kancah global, mengingat jaringan riset dan pengembangan Grab ada di delapan negara. Selain itu, hal ini juga dapat membuka jalan bagi inovasi baru yang akan lahir dengan ide dan penerapan yang lebih segar.

Di tataran global, Grab menanam investasi sejumlah US$ 150 juta, atau senilai dengan 2,13 triliun rupiah, untuk mengadopsi kecerdasan buatan. Sementara itu dana yang dikeluarkan Grab untuk implementasi kecerdasan buatan ini sekitar US$ 100 juta. Selain digunakan untuk memperkuat layanannya, digunakan pula untuk mencegah kecurangan (fraud). Kecerdasan buatan juga dimanfaatkan untuk memproses bahasa secara alami.

Dengan dukungan dari beragam teknologi big data dan kecerdasan buatan yang dimiliki Grab, tentu saja harapannya ini dapat membantu mitranya, dan masyarakat lain sebagai pengguna. Bukan saja dalam hal penggunaan layanannya, tapi secara keseluruhan, baik langsung maupun tidak langsung.