Dalam berbagai lapisan kehidupan, konsep kesetaraan gender masih menjadi barang langka di Indonesia. Mulai dari urusan hari-hari, hingga persoalan mencari rejeki, termasuk saat berprofesi sebagai pengendara ojek online. 

Pernahkah anda melihat pengendara ojek online seorang ibu-ibu? Rasanya tidak jarang. Atau adakah perasaan kaget saat memesan makanan melalui layanan Grab food, dan yang mengantarkannya adalah seorang driver perempuan? Barangkali juga cukup sering, atau beberapa kali.

Beberapa merasa risih, karena mendapat driver perempuan. Beberapa lagi justru mungkin jadi lebih tenang, karena sesama perempuan. Lalu bagaimana keamanan bagi para perempuan yang menjadi mitra Grab? Mengingat kasus pelecehan seksual masih cukup nyaring terdengar di telinga.

Pada Oktober 2019 lalu, Grab bekerja sama dengan Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), telah menggelar pelatihan anti kekerasan terhadap perempuan bagi mitra pengemudi perempuan, untuk layanan GrabFood dan GrabExpress untuk kawasan Jabodetabek.

Dikutip dari Suara.com, Neneng Goenadi, Managing Director Grab Indonesia, mengatakan, “Keamanan merupakan prioritas kami dan merupakan solusi yang kami tawarkan sejak Grab pertama didirikan 7 lahun Ialu. Sebagai everyday everything apps yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kegiatan masyarakat, kami terus berupaya memperluas komitmen keamanan kami ke seluruh ekosistem Grab. Mulai pengiriman makanan, logistik hingga pembayaran tanpa uang tunai.”

Grab menyadari bahwa kendala utama bagi perempuan untuk dapat sepenuhnya memanfaatkan peluang ekonomi digital saat ini adalah adanya kekhawatiran akan keselamatan pribadi mereka.

Pada dasarnya kerja sama antara Grab dengan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) dijalin sejak November 2018. Maka pelatihan pada Oktober 2019 lalu adalah kelanjutannya. Sesi edukasi gelombang pertama diikuti oleh 100 mitra pengemudi perempuan.

Sesi edukasi ini juga turut didukung oleh Forum Pengada Layanan Bagi Perempuan Korban Kekerasan (FPL), dan merupakan pembekalan untuk mengembangkan praktik terbaik dalam mencegah maupun menangani kekerasan seksual. Di samping itu juga bertujuan untuk membekali mitra pengemudi perempuan Grab terkait komitmen dan kebijakan pencegahan dan penanganan kekerasan seksual yang dimiliki Grab Indonesia. 

Sementara itu, Azriana Manalu, selaku Ketua Komnas Perempuan, menyatakan bahwa kemitraan strategis yang dijalani dengan Grab adalah sebuah wujud dari komitmen Komnas Perempuan dalam melibatkan sektor swasta untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman dan nyaman bagi pengemudi perempuan.

“Upaya penghapusan kekerasan seksual baik fisik maupun verbal adalah tanggung jawab semua pihak. Kami menyambut baik dan tentunya sangat mengapresiasi upaya yang dilakukan Grab selama ini dan masa mendatang demi meningkatkan keselamatan perempuan. Kami juga berharap pelatihan dan diskusi ini dapat menciptakan lingkungan kerja yang kondusif agar para mitra pengemudi, khususnya perempuan dapat bekerja dengan lebih semangat dan produktif tanpa ada rasa khawatir tentang keselamatan dan keamanan di tempat kerja dan perjalanan”, kata Azriana Manalu.

Sudah masuk 2020, mestinya ekosistem kerja menjadi semakin baik. Semua pihak yang terlibat, baik secara langsung atau tidak langsung, mestinya dapat mendorong agar keamanan dan kenyamanan bagi para pengemudi perempuan selalu terjamin.

Salam aspal..