Namanya kabar burung, belum tentu jelas kebenarannya. Tapi kalau kabar itu berkaitan dengan bersatunya dua perusahaan decacorn, Grab dan Gojek, tentu jadi hal yang cukup mengagetkan banyak orang. Pasalnya, perusahaan ride-hailing yang terbesar di Asia Tenggara hanya mereka berdua.

Dengan kabar angin yang berhembus tentu bermuara pada ketakutan monopoli perusahaan. Sementara itu inovasi dan persaingan yang sehat justru jadi hal yang ditunggu-tunggu oleh konsumen.

Keduanya adalah perusahaan decacorn dengan valuasi lebih dari US$ 10 miliar. Grab dan Gojek dikabarkan tengah melakukan pertemuan dan pembicaraan untuk melakukan penggabungan. Kabar tersebut berhembus dan dilaporkan oleh media The Information.

Berdasarkan laporan itu, kedua perusahaan cukup sering melakukan pertemuan yang informal dalam dua tahun ke belakang. Pembahasan untuk menggabungkan keduanya disebut semakin sering dalam beberapa bulan terakhir.

Dalam laporan itu juga menyebutkan, bahwa Presiden Grab, Ming Maa dan CEO Gojek, Andre Soelistyo telah melakukan pertemuan pada awal Februari ini. Pertemuan itu juga dinyatakan sebagai tahap akhir dari pembahasan bersatunya kedua perusahaan ini. Dalam laporan yang sama juga disebut, bahwa keduanya masih jauh dari sepakat.

Berdasarkan sumber yang sama juga menyatakan, bahwa Gojek menginginkan pembagian secara 50:50 jika penggabungan ini benar terwujud. Meski begitu, kendala lain juga masih ditemui terkait valuasi masing-masing perusahaan yang berbeda. Meski sama-sama berstatus decacorn, tapi valuasinya berbeda. Grab sudah meraup sejumlah US$ 14 miliar, dan Gojek baru meraih US$ 10 miliar.

Bila kolaborasi kedua perusahaan itu benar terjadi, ada harga yang mesti dibayar. Keduanya mesti menghentikan perang harga untuk layanan transportasi online ataupun jasa pesan antar makanan yang telah dimiliki. Perang harga ini dituduh sebagai salah satu indikasi sumber perusahaan merugi.

Seperti dilansir oleh CNN Indonesia, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Johnny G. Plate, berharap konsolidasi perusahaan bisa mengembangkan ruang digital di Indonesia. Menkominfo mengatakan, “Kalau rencana itu kan aktifitas business to business ya. Yang pasti kita harapkan konsolidasi-konsolidasi dalam rangka menyemarakan bisnis diruang di ruang digital di Indonesia.”

Seandainya kesepakatan tersebut tercapai, memotong subsidi pengemudi dan meningktkan harga layanan adalah skema yang mungkin akan digunakan. Hal ini juga dapat dikatakan tindakan ilegal. Pemerintah di negara-negara tempat Grab dan Gojek beroperasi akan menjatuhi hukuman bagi kedua perusahaan dengan tuduhan kolusi.

Di lain sisi, inovasi yang terus diharapkan masyarakat yang mendapatkan manfaat, justru akan kabur. Inovasi umumnya lahir dari kompetisi yang sehat. Bila benar keduanya akan bergabung menjadi satu perusahaan, maka akan terjadi monopoli dan masyarakat tak lagi memiliki pilihan atas apa yang tersedia.

Sementara itu, pembenahan transportasi umum dari pemerintah juga terus digalakkan. Demi tersedianya sistem moda transportasi yang berkesinambungan. Dan kedua perusahaan tersebut justru dapat mengisi lubang kosong dari pemerintah.

Bila monopoli terjadi, bukan hanya tak dapat memilih, tapi perusahaan kompetitor yang baru akan memulai dan merintisnya, akan sulit untuk bergerak naik menyusul lawannya yang sudah ada dan lebih lama berkecimpung.