Perkembangan teknologi pada dasarnya memudahkan kehidupan kita. Termasuk dalam bertransaksi.

Jika dulu orang jual-beli harus dalam bentuk tunai (cash), sekarang metode pembayarannya bisa bermacam-macam. Mulai dengan kartu kredit, e-wallet, uang elektronik, hingga terakhir adanya PayLater. Semua itu bisa memudahkan transaksi dimana saja dan kapan saja.

Kemudahan bertransaksi itu juga ditawarkan oleh perusahaan ride hailing seperti Gojek. Selain uang elektronik dalam bentuk GoPay, Gojek juga menawarkan fitur PayLater bagi para penggunanya.

Bak kartu kredit, Gojek PayLater akan menalangi pengguna pembayaran tagihan seluruh layanan Gojek. Dikutip dari situs resmi Gojek, fitur PayLater ini memudahkan para penggunanya membayar seluruh tagihan (layanan Gojek) satu kali sebulan.

Selain itu, fitur PayLater tidak hanya dapat digunakan untuk membayar tagihan layanan Gojek saja. Namun, fitur ini juga dapat digunakan untuk membayar tagihan di merchant rekanan Gojek.

Sepintas terdengar indah, bukan? Tapi ternyata kenyataannya tidak seindah dan semudah yang dibayangkan itu, guys!

Yang jelas, PayLater yang disediakan Gojek ini seperti menjerat customernya. Sebab, fitur tersebut bisa langsung terpasang sebagai metode pembayaran utama, tanpa ada konfirmasi sebelumnya kepada pengguna. Alhasil, banyak orang yang tidak sadar tiba-tiba memakai fitur PayLater ini.

Hal ini seperti yang dialami oleh akun Twitter @kennardij pada 10 April lalu. Dia protes karena merasa tidak menggunakan PayLater tapi tiba-tiba menggunakan fitur tersebut.

“saya melakukan transaksi bli2 dan membayar dengan gopay. tanpa saya sadari, aplikasi @gojekindonesia otomatis memilih paylater daripada kredit gopay.”

Masalahnya, biaya bulanan untuk PayLater Gojek ini tidak sedikit, yaitu mencapai Rp 50 ribu per bulan. Bayangkan kalau kamu cuma memakai untuk beli makan atau barang dengan harga di bawah Rp 100 ribu, pasti akan terasa kan?

Inilah yang dikeluhkan oleh akun Twitter @Afutami.

“UX @gojekindonesia sedemikian rupa sampe make Paylater tanpa sadar (kirain GoPay). Tiba-tiba lihat tagihan bayar fee 49 ribu padahal cuma untuk bayar 90 ribuan. Apa bisa dibuat ada tombol konfirmasi sebelum bayar dengan Paylater?”

Kalau diakumulasikan setahun, PayLater Fee ini juga relatif gede banget, yakni mencapai Rp 600 ribu. Angka itu tentu lebih tinggi bila dibandingkan dengan biaya bulanan kartu kredit yang “hanya” sekitar Rp 125-250 ribu/tahun. Wow!

Hal ini terang saja memberatkan konsumen, lantaran sudah tidak ada konfirmasi terlebih dahulu, kemudian ditambah dengan biaya fee-nya yang cukup besar. Inilah mengapa PayLater Gojek disebut seperti memaksa, atau menjerat customernya

Masalahnya lagi, kasus tidak sengaja membayar menggunakan PayLater Gojek seperti di atas ternyata tidak dapat ditangguhkan dengan alasan sudah ada term & condition yang disepakati oleh customer. Padahal, kita tahu ketentuan seperti itu biasanya ditempatkan tersembunyi dan seolah agar diabaikan oleh penggunanya.

Kalau begini terus, customer yang paling apes. Dan aplikasi yang menanggok untung paling banyak.

Kasus ini harusnya menjadi pembelajaran bagi publik agar lebih sadar dan berhati-hati dengan fitur PayLater Gojek. Memang terdengar memudahkan, tapi harus waspada agar tidak terjebak oleh sebuah aplikasi.

Juga harusnya menjadi masukan untuk Gojek sebagai (katanya) “Aplikasi Karya Anak Bangsa” agar lebih menghormati pilihan customernya. Seperti itu harusnya bisa diberikan tombol konfirmasi, bukan langsung main pasang “default” aja.

Kita tahu, saat ini memang lagi zaman susah. Tapi jangan begitulah cara mainnya mencari duit. Harusnya kita bisa bertransaksi secara fair, kan?