Istilah “bakar uang” sudah cukup lazim terdengar di kalangan startup. Strategi bisnis tersebut juga bukan hal yang dilarang untuk dilakukan. Selama kekuatan kapital tak terbatas, hal itu sah-sah saja untuk dilakukan. Sudah jadi rahasia umum juga bila dua perusahaan raksasa, Grab dan Gojek, melakukan strategi bisnis yang sama, dengan diskon tarif atau voucher untuk menarik pelanggannya. 

Kedua perusahaan ride-hailing tersebut kini menjadi raksasa di Asia Tenggara. Keduanya sama-sama ada dalam status Decacorn, sebutan bagi perusahaan yang bervaluasi di atas US$ 10 miliar. Gojek memiliki valuasi US$ 10 miliar, sementara Grab memiliki valuasi US$ 14 miliar.

Di samping itu, kedua perusahaan ini juga aktif mengumpulkan dana dari investor. Gojek sudah mengumpulkan dana lebih dari US$ 3,5 miliar, sementara Grab sudah mengumpulkan dana investor hingga US$ 9,1 miliar.

Dikutip dari Nikkei Asian Review, Pendiri dan CEO Grab, Anthony Tan mengatakan, bahwa Grab sudah mulai mencetak keuntungan di beberapa pasar yang lebih mapan di Asia Tenggara. Ia menambahkan, pendapatan Grab sudah meningkat dua kali lipat dari tahun sebelumnya. 

Sementara itu, dilansir oleh CNBC Indonesia, Co-founder dan Managing Patner Northstar, Patrick Walujo, mengatakan, ia tidak sepakat dengan adanya perang tarif dengan bakar uang yang dilakukan perusahaan ride-hailing. Menurutnya perang tarif menimbulkan persepsi buruk di masyarakat soal banting harga dan tidak ada kesejahteraan bagi driver.

Perang tarif dengan menerapkan diskon besar secara terus menerus boleh jadi akan menimbulkan persepsi buruk bagi masyarakat. Mereka bisa saja beranggapan harga dan tarif yang diberlakukan perusahaan tidak menyejahterakan mitra.

Pada dasarnya perang tarif antara Grab dan Gojek sudah mereda saat ada Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 348 Tahun 2019 yang mengatur tentang tarif ojek online.

Tarif ojol terdiri dari tarif langsung yang ditentukan oleh Kemenhub dan menjadi bagian dari mitra driver, serta biaya tidak langsung yang ditetapkan aplikator dengan besaran maksimal 20% dari total biaya order. Meski begitu, hingga kini belum ada aplikator, termasuk Gojek dan Grab, yang mengenakan tarif tidak langsung hingga 20% yang dibebankan keseluruhan kepada penumpang.

Mengenai hal tersebut, pengamat ekonomi, Bhima Yudhistira Adhinegara, ikut menanggapi. Ia menjelaskan bahwa tidak diterapkan tarif tidak langsung itu karena Grab & Gojek sedang kejar-kejaran untuk mendominasi pasar Indonesia. “Jika tarif dinaikan khawatir pelanggan akan berpindah ke aplikasi lain otomatis market share turun. Kalau market share turun otomatis valuasi pasti tergerus dimata investor”, seperti dikutip dari CNBC Indonesia.

Lalu bagaimana Grab dan Gojek meraih untung tanpa lagi menggunakan strategi “bakar uang”. Secara praktisnya tentu saja dengan mengurangi perang tarif, promo, cashback, dan tetek bengek lainnya. 

Tapi permasalahan selanjutnya adalah, siapa yang mau menggunakan layanan yang irit bahkan cenderung pelit, sementara masih ada layanan lain yang lebih royal dan menjaga pelanggan tetap loyal?

Semoga bila terjadi pada saatnya mereka benar-benar menyudahi perang tarif, masih ada hal lain yang ditawarkan pada pengguna. Karena ciri kompetisi yang baik salah satunya adalah melahirkan inovasi, bukan memunculkan monopoli.