Artis dangdut Iis Dahlia tengah menjadi sorotan publik. Ia banyak dibicarakan khalayak karena ucapannya yang kontroversial terkait ojek online (ojol).

Mengapa bisa begitu? Ternyata pemicunya adalah ucapan Iis Dahlia pada Rabu (18/12) lalu.

“Eh laki gue itu pilot, bukan sopir ojol. Yang sudah selesai nganterin penumpang, terus ada yang berbaik hati penumpangnya ngasih tip. Bukan begitu. Enggak seperti itu,” kata Iis Dahlia.

Ucapan Iis Dahlia ini dianggap membandingkan pilot dengan ojol. Apalagi ditambahi dengan konotasi yang merendahkan terkait uang tip.

Alhasil, para pengemudi ojek online pun tersinggung dengan perkataan artis tersebut. Driver ojol yang tergabung dalam Gabungan Aksi Roda Dua (Garda) Indonesia, menyampaikan ketersinggungan mereka.

Para driver ini mengancam akan melayangkan somasi kepada Iis jika tidak menyampaikan permohonan maaf.

“Rencananya seperti itu (akan mensomasi), kami dari Gabungan Aksi Roda Dua (GARDA) menunggu klarifikasi dan permintaan maaf terbuka dari artis ID yang telah menyinggung profesi driver ojol,” ujar Igun Wicaksono ketua Garda, sebagaimana dikutip dari Dream.co.id, Jumat, 20 Desember 2019.

Menurut Igun, para driver ojol merasa tersinggung dengan pernyataan Iis soal pemberitaan tip tersebut. Mereka juga kesal dengan ucapan artis dangdut itu yang menyeret profesi driver ojol dalam kasus yang dialami suaminya.

Tak menyangka akan berbuntut panjang, Iis pun memberikan klarifikasi atas ucapannya. Ia merasa tak sedang menyinggung perasaan para driver ojol, tetapi merespon pembicaraan warganet yang memelintir kasus suaminya.

Satrio memang menjadi pilot pesawat Garuda dari Prancis menuju Bandara Soekarno-Hatta Tangerang yang membawa motor Harley Davidson milik Ari Askhara, direktur Garuda Indonesia. Sejak itulah nama Satrio terus dikait-kaitkan dengan kasus yang menjadi sorotan masyarakat luas itu, sehingga Iis Dahlia turut meluapkan kekesalannya.

Iis pun merasa telah berbicara sesuai fakta. Karena dalam kenyataannya, para driver ojol sering mendapatkan tip dari para konsumennya. Di sisi lain, ketika suaminya yang berprofesi sebagai pilot disebut menerima tip, langsung saja dia tak terima. “Emang suami gue sopir ojol?” begitu kira-kira logikanya.

“Saya ngomong seperti ini karena ada netizen yang mengatakan, menuduh suami saya dapat tip. Lantas saya bilang, seperti yang saya bilang itu. Bukan apa-apa, dan fakta, kan? Kalau supir ojol fakta, kalau pilot tip itu fitnah,” ungkap Iis Dahlia.

Pikiran yang Diskriminatif

Masalah utama dari polemik Iis Dahlia dan driver ojol ini sebenarnya terletak pada soal “pemaknaan pekerjaan” dari sisi sang artis dan para penggelutnya.

Iis mungkin tak merasa merendahkan profesi ojol dari pernyataannya tersebut. Dari ucapannya itu mungkin juga tak ditemui kata-kata yang menghina, tetapi kita harus ingat bahwa di dalam teks selalu ada konteks. Inilah yang perlu dipahami secara luas.

Karena dalam kajian linguistik, sebuah “bahasa” (language) itu tidak pernah berdiri sendiri. Bahasa sebagai kumpulan tanda adalah kesatuan dari “penanda” (signifier) dan “petanda” (signified).

Penanda ini adalah aspek material dari bahasa, yaitu apa yang dikatakan atau didengar dan apa yang ditulis atau dibaca. Sedangkan petanda adalah gambaran mental, pikiran, atau konsep. Jadi, petanda adalah aspek mental dari bahasa.

Untuk lebih memperjelasnya, Roland Barthes, semiolog cum filsuf Perancis, menerangkan bahwa bahasa itu selalu mengandung asumsi-asumsi dari suatu masyarakat tertentu dalam waktu tertentu. Artinya, selalu terdapat interaksi antara teks dengan pengalaman personal dan kultural penggunanya.

Karena faktor inilah, maksud dari Iis Dahlia dan penerimaan para driver ojol bisa berbeda. Tetapi kita bisa mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memaknai hal-hal (things) tersebut. Ini yang kemudian disebut sebagai kajian semiotika.

Hal itu pula yang kemudian mendorong Barthes (1977) untuk melihat bahwa di dalam teks itu selalu terdapat ‘tatanan pertandaan’ (“order of signification”) yang mencakup denotasi (makna sebenarnya sesuai kamus) dan konotasi (makna ganda yang lahir dari pengalaman kultural dan personal).

Dengan begitu, kita harus memahami bahwa di dalam setiap teks (pernyataan, kalimat, atau kata) selalu terdapat dua makna yang melekat di dalamnya, yakni secara denotatif (literal) dan konotatif (pemaknaan atau pengandaian). Ini pula yang perlu diperhatikan dalam menilai pernyataan Iis Dahlia di atas.

Iis mungkin bisa membantah bahwa dirinya tak hendak menyinggung perasaan siapapun, termasuk dengan membanding-bandingkan profesi pilot dan driver ojol. Tetapi dari pernyataannya itu, sebenarnya menyiratkan satu cara pandang (dan mungkin sebagian kita) yang masih menganggap rendah pekerjaan driver ojol.

Pekerjaan ojol masih dianggap sebagai kelas dua oleh masyarakat kita. Padahal kalau dihitung-hitung pekerjaan ini tak ada salahnya. Dari segi penghasilan pun juga bisa dihitung di atas upah minimum. Mungkin karena aspek informalitas dan ‘kesan sosial’ sebelumnya yang mendorong orang memandang sebelah mata.

Disadari atau tidak, alam bawah sadar kita memang terbiasa mengklasifikasi ragam jenis pekerjaan “orang sukses” dan “kurang sukses”. Baginya, pilot adalah pekerjaan mulia, sedangkan menjadi driver ojol itu tidak sebaik yang pertama. Perbandingan inilah yang menciptakan adanya kesan merendahkan pada pekerjaan tertentu.

Inilah sebenarnya pangkal dari pikiran yang diskriminatif terhadap suatu pekerjaan tertentu. Padahal, semua profesi itu pada dasarnya sama, hanya status sosial yang mengkonstruksinya sehingga terlihat ada yang ‘prestige’ dan ‘non-prestige’.

Padahal dalam perjalanan sejarah, status sosial ini selalu berubah dan tak pernah ajeg. Karena ada satu pekerjaan yang dulu prestige, tetapi sekarang tidak, dan atau sebaliknya. Kita bisa membahasnya panjang-lebar di lain kesempatan.

Tapi dari kasus Iis Dahlia ini kita selayaknya bisa belajar, bahwa membandingkan suatu pekerjaan dengan pekerjaan lain atas dasar pikiran yang diskriminatif sebenarnya tak akan membawa manfaat apapun. Akan lebih baik apabila kita saling berkolaborasi. Toh, hidup ini singkat dan kita saling membutuhkan satu sama lain, kan?