PADA Minggu lalu pemerintah pusat menghimbau masyarakat untuk bekerja dan beraktivitas dari rumah (work from home) guna mencegah penularan virus corona. Kegiatan yang kita kenal social distancing ini diikuti dengan kebijakan masing-masing daerah meliburkan siswa sekolah, dan menutup beberapa tempat keramaian. 

Bagi mereka yang bisa mengerjakan pekerjaan dari rumah memang tidak mempersoalkan, namun bagi mereka yang mengais rezeki di lapangan tentu berbeda persoalannya. Seperti driver ojek atau taksi online misalnya. 

Demi keluarga sebagian dari mereka tetap mencari nafkah meski resikonya tinggi. Ada juga yang memilih menonaktifkan aplikasi untuk berkumpul keluarga dirumah. 

“Bikin dilema ini. Mau narik kondisinya lagi begini. Sekolah libur, kantor-kantor juga ada yang libur. Saya memilih off dulu beberapa hari, sambil pantau-pantau situasi,” kata driver ojek online, Umar. 

Berbeda dengan Asep, driver Grab Diah Harum memilih untuk tetap melayani costumer. Kebutuhan keluarga dan angsuran jadi alasan ia tak mengikuti anjuran Presiden Joko Widodo. Namun Demikian, Diah mengatakan akan terus mengikuti pola hidup sehat dengan cuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer.

“Kalau antar makanan, misal di hotel saya cuci tangan dan pakai hand sanitizer. Berbagai tempat juga ada alat pengukur suhu tubuh, jadi saya tidak terlalu khawatir,” jelas Diah. 

Orderan ‘Anyep’

Dua hari sejak himbauan kerja dari rumah, banyak dari para pengemudi ojol yang mengeluhkan sepinya orderan atau biasa mereka sebut ‘anyep’. 

“Satu kata dah, anyep pokoknya,” ungkap Agung, salah satu ojol yang meluapkan kesalnya, lantaran penghasilannya jauh berkurang. Agung, yang sudah beberapa tahun belakangan mengais rezeki jadi ojol tak kuasa menutupi kekecewaannya karena hingga jelang siang hari hanya dapat 3 pelanggan.

“Saya ke luar narik dari set 6 pagi, tapi baru dapat 3 orderan. Biasanya sih dapat 9 order-an sebelum jam 12 siang. Di jam segini biasanya udah dapat 120 ribu,” ucapnya.

Perlu kelonggaran operator

Merespon situasi ini, Pengamat Transportasi, Djoko Setijowarno, mengatakan perlu adanya pemotongan persentase pendapatan operator untuk tetap memberikan kesejahteraan pada mitra kerja. 

“Tarif naik, tapi  ada virus corona saat ini, membuat pelanggan pun berkurang. Maukah aplikatornya (memangkas persentase tarif)?.”kata Djoko seperti dikutip dari merdeka.com

Saat ini, lanjutnya, tiap argo yang ditagihkan kepada pelanggan tidak sepenuhnya jadi hak pengemudi. Dari tarif tersebut dipotong sebanyak 20 persen untuk perusahaan aplikasi. 

“Ini bisa jadi solusi. Pemerintah tidak memiliki wewenang untuk mengatur, akan tetapi bisa menghimbau,”pungkasnya.