Jajaran Ditreskrimum Polda Metro Jaya baru saja menggerebek beberapa merchant (gerai) fiktif GoFood di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Dalam penggerebekan tersebut diamankan puluhan orang yang diduga menjalankan aksi penipuan ini.

Penggerebekan itu sendiri dilakukan oleh Tim Opsnal 2 Unit 2 Jatanras yang dipimpin oleh AKP. M. Iskandarsyah pada 20 Februari 2020 lalu. Namun, video mengenai aksi penyergapan itu baru beredar di Youtube melalui akun Jacklyn Choppers pada 8 Maret 2020.

Polisi sebelumnya telah mengintai tiga tempat, yaitu Warung Seblak Mama Sherly, Warung Nita, dan Warung Srikandi yang terletak di Cikarang. Berdasarkan informasi dari masyarakat, ketiga gerai itu diduga menjadi merchant fiktif GoFood.

Setelah diselidiki ternyata memang benar. Tempat tersebut dijadikan markas atau tempat kumpul pengemudi Gojek yang menjalankan aksi tipu-menipu.

Setidaknya diamankan 23 Pelaku dari ketiga warung fiktif itu. Adapun barang bukti yang diamankan berupa mesin spot scan Gojek, ratusan simcard baru, puluhan HP berbagai merk, laptop, buku catatan harian dan bon orderan fiktif.

Saat ini polisi tengah mengembangkan penyelidikan guna membongkar jaringan merchant sekaligus order fiktif ini.

Para pelaku akan dijerat dengan tindak pidana penipuan dan atau manipulasi data melalui media elektronik atau pasal 378 KUHP, dan pasal 35 UU No.19 Tahun 2016 tentang ITE

Modus Merchant Fiktif

Merchant (gerai) fiktif menjadi modus baru dalam sindikat penipuan yang memanfaatkan aplikasi Gojek. Praktik penipuan ini selalu bergandengan dengan adanya konsumen dan orderan fiktif pula.

Singkat kata, pelaku membuat gerai fiktif, sekaligus pemesannya. Kemudian driver mengambil orderan tersebut, dan mendapatkan poin dari sana. Ketiga rantai tersebut dijalankan oleh sindikat atau orang yang sama.

Sehingga mulai dari pemesan, driver Gojek dan merchant-nya adalah satu komplotan yang saling bekerja sama.   

Sebagai gambaran seperti ini, jika customer fiktif memesan makanan seharga Rp 25.000, maka ia membayar voucher seharga Rp 15.000 dan ia cukup membayar Rp 10.000.

Sementara Gojek tetap mentransfer Rp 15.000 sekaligus pajaknya ke rekening restoran fiktif. Setiap satu kali transaksi, pemiliki restoran mendapatkan keungtungan Rp 6.000.

Jika dalam sehari bisa 100 kali transaksi, bisa lebih dari Rp 600 ribu yang didapat pelaku. Biasanya selain memanfaatkan voucher diskon, pelaku order makanan juga mendapatkan point dari order fiktif ini.

Praktik tersebut sama sekali tidak merugikan konsumen, namun merugikan Gojek selaku penyedia layanan aplikasi GoFood. Seperti kabar yang beredar Gojek rugi hingga 500 juta atas penipuan di Cikarang tersebut.

Jika dari satu kasus saja rugi sebegitu banyak, lantas berapa total kerugian dari modus penipuan seperti ini? Yang jelas, Gojek pasti rugi banyak.

Inilah yang sepertinya belum bisa diantisipasi dan masih dicari jalan pemberantasannya oleh aplikasi ride-hailing tersebut.

Bukan Cuma Sekali

Sialnya, modus penipuan seperti itu tidak hanya terjadi sekali saja seperti di Cikarang. Sebelumnya, juga pernah terjadi di Malang, Jawa Timur.

Jajaran Polda Jatim bersama Polres Malang juga pernah membongkar sindikat merchant fiktif pada Oktober 2019 lalu. Modus kasus tersebut sama persis yang terjadi di Cikarang.

Kemudian, 7 pelaku juga diamankan oleh Tim Reskrim Polres Depok pada November 2019 lalu. Aksi penipuannya hampir mirip dengan memanfaatkan voucher GoFood.

Dengan begitu, dalam beberapa bulan ini penipuan yang menggunakan aplikasi Gojek semakin banyak dan berkembang modusnya.

Hal ini patut dicermati agar kita semakin waspada dengan segala aksi penipuan tersebut. Karena bukan tak mungkin justru kita yang akan menjadi korban penipuan berikutnya dengan memanfaatkan celah dalam aplikasi ojek online tersebut.

Jangan lengah ya!

sumber gambar: mediakonsumen.com