Seperti diketahui, Grab didirikan oleh Anthony Tan dan Tan Hooi Ling pada 2012. Berawal dari keluhan seorang teman soal layanan taksi di Malaysia, Tan menggagas konsep ride sharing, yang dinamai My Teksi. Aplikasi ini kemudian dikenal sebagai GrabTaxi di negara lain.

Tan meluncurkan Grab Taxi dengan modal 25 ribu dollar AS atau Rp 358 juta. Bisnis tak selalu berjalan mulus. Begitu juga yang dialami Tan dan Ling saat merintis GrabTaxi. Mereka mendapat banyak penolakan dari perusahaan taksi untuk bekerja sama.

Setahun kemudian Grab mulai berkembang. GrabTaxi berhasil masuk ke pasar Filipina, Singapura, dan Thailand. Selanjutnya, pada 2014, GrabTaxi melebarkan sayapnya ke Vietnam dan Indonesia. Pada tahun yang sama, Tan dan Ling mulai ingin mengembangkan bisnisnya. Tak lagi sekadar bekerja sama dengan perusahaan taksi, Tan menggandeng perusahaan rental mobil atau orang pribadi yang ingin menjadikan mobilnya sebagai kendaraan bisnis untuk bergabung di GrabCar. Akhirnya, GrabCar resmi beroperasi pada Juli 2014.

Empat bulan kemudian, tepatnya pada November 2014, Grab mulai membuka layanan GrabRide. GrabRide merupakan layanan transportasi online yang menggunakan jasa ojek motor. Kini, layanan ini menjadi jasa transportasi paling populer di Jakarta yang identik dengan kemacetan.

Memasuki 2015, Grab tak lagi hanya jadi jasa transportasi. Perusahaan ini juga mulai menyediakan layanan pengantaran barang. Dengan nama GrabExpress, Grab membantu masyarakat Indonesia, Vietnam, Malaysia, dan Singapura yang ingin mengantarkan paket ke kerabat. Pada tahun ini pula muncul layanan GrabHitch.

Pada bulan Januari 2016, Grab mulai memasuki dunia fintech dengan layanan GrabPay. GrabPay menjadi satu-satunya jasa pembayaran digital di Asia Tenggara yang memiliki akses terhadap lisensi e-money di enam negara ekonomi raksasa ASEAN. Masih di tahun yang sama, pengguna mulai bisa menikmati layanan GrabFood.

Ekspansi GrabFood berkembang pesat baik di Indonesia maupun di seluruh Asia Tenggara. Tahun 2017 berhasi menembus pasar Myanmar dan Kamboja. Selain itu Grab juga memiliki beberapa partnership dan perkembangan bisnis baru. Seperti GrabCoach, GrabShuttle, JustGrab, P2P fund transfer, GrabRewards, merchant payments, dan bekerja sama dengan Kudo.

Ada juga GrabVentures dan GrabFresh yang membantu pengguna untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari, dan GrabWheels di Singapura. Namun, gebrakan paling besar yang dilakukan Grab pada 2018 adalah mengakuisisi Uber. 

Sekarang ini Grab sudah menjadi Everyday Everything Super App dengan berbagai layanan yang diberikan kepada masyarakat pengguna.

“Bukan hanya itu saja, mitra pengemudi juga sudah menjadi super app di mana mereka juga bisa berbelanja di situ [paltform] sehingga bisa mendapatkan benefit-nya,” kata President Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata.

Grab sebagai Super App terkemuka di Asia Tenggara, menawarkan solusi sehari-hari dengan layanan transportasi, pengiriman barang dan makanan, pembayaran mobile, dan hiburan digital. Dengan filosofi platform terbuka, Grab menyatukan para mitra untuk membuat hidup lebih baik bagi semua pengguna di Asia Tenggara. 

Ridzki menambahkan meski sudah beralih menjadi super app, ride hailing tetap memberikan kontribusi utama kepada perusahaan. Kontribusinya bukan hanya dalam bentuk pendapatan tetapi juga menjadi enebler bagi bisnis-bisnis Grab lainnya. 

“Contohnya dalam bisnis GrabFood untuk pengantarannya membuatkan ride-hailing atau bisnis Grab Express juga butuh ride-hailing,”pungkasnya.