Saat diluncurkan pertama kali oleh Nadiem Makarim, Gojek hanyalah sebatas layanan ojek dengan penumpang yang ditopang wadah digital. Keunggulan lainnya pada masa itu, Gojek menyediakan masker dan penutup kepala untuk para penumpangnya.

Beberapa waktu kemudian, Gojek terus berkembang ke pengantaran barang dan pembelanjaan di supermarket. Kurang dari lima tahun berikutnya, produk mereka pun bermunculan, mulai dai GoCar, GoFood, GoSend, dan Go -Go lainnya.

Seiring dengan popularitasnya, Gojek pun mengusung jargon “Karya Anak Bangsa”. Melalui akun YouTube-nya, Gojek pernah membuat materi video pada 2016 dengan mengusung tema “Kembali Ke Merah Putih”.

Dalam video tersebut, bos besar Gojek, Nadiem Makarim, berpidato singkat dan secara terang-terangan berencana membajak pengemudi ojek dari perusahaan saingannya pada waktu itu, Grab dan Uber.

Alih-alih mendapatkan simpati publik, kampanye jargonistik tersebut justru dicecar oleh warganet. Dan tak lama kemudian, mereka akhirnya memutuskan untuk menurunkan video tersebut.

Publik mungkin tahu, jargon dengan sentimen nasionalisme seperti itu tak lain hanyalah usaha ‘jualan’ semata. Yaitu, upaya merebut perhatian konsumen, dan ceruk pasar dari para kompetitornya. That’s all.

Hipokrisi Gojek

Sekilas jargon nasionalisme yang diusung oleh Gojek itu membawa angin segar bagi publik. Karena seolah ada perusahaan unicorn yang “asli” dari Indonesia, sehingga segenap bangsa patut berbangga, dan wajib menggunakannya sebagai ekspresi jiwa nasionalisme.

Tapi benarkah demikian?

Meski dibalut dengan jargon nasionalisme, sebagai sebuah perusahaan, Gojek sebenarnya justru banyak menunjukan sisi kebalikannya. Dalam urusan bisnis tak ada urusan soal nasionalisme.

Misalnya, Gojek butuh waktu hingga dua tahun untuk memberikan dukungan bahasa Indonesia pada aplikasinya. Tolong dicatat, dua tahun untuk menambahkan fitur berbahasa Indonesia.

Hal ini tentu saja aneh bila dikaitkan dengan jargon nasionalisme. Harusnya apabila Gojek benar-benar nasionalis, komitmen berbahasa Indonesia itu mutlak disajikan.

Karena kita ingat, salah satu medium menyebarkan nasionalisme sejak zaman pra-kemerdekaan itu adalah melalui bahasa Indonesia. Bukan english.  

Dari hal yang paling mendasar seperti itu, Gojek sudah kedodoran atas kampanyenya sendiri. Skor 1-0.

Kemudian, dari sisi pendanaan dan kepemilikan saham, Gojek sebenarnya juga tidak menganut sepenuhnya paham nasionalisme. Pasalnya, mereka menerima aliran dana dari mana saja, baik negara ataupun organisasi, asalkan bisa menambah modal dan meningkatkan laju bisnisnya.

Adapun penyuntik dana di balik Go-Jek, menurut data Crunchbase, antara lain NSI Ventures dan Sequoia Capital. Namun sayang, nilainya tidak diketahui.

Disadur dari Tech in Asia pun mengungkapkan hal yang sama, NSI Ventures dan Sequoia Capital merupakan pemodal dari Go-Jek.

NSI Ventures adalah perusahaan pemodal ventura (venture capital firm) yang berkantor pusat di Singapura. Sementara Sequoia Capital merupakan venture capital firm yang berlokasi di Menlo Park, California, Amerika Serikat.

Dengan begitu, meski tidak detail nilainya, tapi bisa dipastikan bahwa kepemilikan saham Gojek tidak murni 100% dari Indonesia. Hal ini sebenarnya umum dalam dunia bisnis, bahwa aliran modal dan pendanaan itu memang lintas batas negara.

Makanya sangat aneh apabila ada perusahaan start up meramu jargon nasionalisme dan “karya anak bangsa”. Mereka seolah menafikan kenyataan globalisasi yang memang borderless bagi aliran modal dan manusia.

Untuk hal ini, Gojek lagi-lagi keok. Skor 2-0 atas kampanyenya sendiri.

Selain soal pendanaan dan kepemilikan saham, dewan direksi Gojek juga tidak diisi sepenuhnya oleh Warga Negara Indonesia (WNI).

Sebelumnya, perlu diketahui bahwa sangat sulit untuk melihat siapa saja yang menjadi dewan direksi dan komisaris dari sebuah perusahaan start up. Umumnya, mereka merahasiakan susunan tersebut, termasuk Gojek.

Namun, sebuah bocoran dari firma konsultasi investasi Momentum Works yang berasal dari berkas yang diserahkan Go-Jek kala pengumpulan dana terkini, mengungkap susunan Dewan Direksi dan Dewan Komisaris Go-Jek. Data per November 2018 itu menunjukan bahwa pucuk pimpinan Gojek terdiri dari warga Indonesia dan sejumlah orang asing.

Menurut keterangan Momentum Works yang dikabarkan oleh Deal Street Asia, pendiri dan CEO Gojek, Nadiem Makarim, masuk dalam susunan Dewan Direksi Gojek. Ia juga memegang 4,81% total saham Gojek dengan jumlah 58.416 lembar.

Pendiri Gojek lain yaitu Kevin Aluwi yang juga menjabat sebagai Chief Information Officer, masuk pula dalam susunan Dewan Direksi. Dia memiliki 205 lembar saham.

Dewan Direksi Gojek yang lain adalah Andre Soelistyo, Antoine de Carbonnel, Hans Patuwo, Monica Lynn Mulyanto dan Thomas Kristian Husted. Antoine de Carbonnel adalah Chief Commercial Officer dan Andre Soelistyo posisinya Presiden Go-Jek.

Dari sumber yang sama, Nadiem juga menjadi ketua Dewan Komisaris Gojek. Totalnya adalah 9 orang anggota di Dewan Komisaris. Mereka ini menjadi wakil dari para investor yang menanamkan dananya pada Gojek.

Selain Nadiem, sosok lain yang menjadi anggota Dewan Komisaris Go-Jek adalah Jeffrey Perlman selaku Managing Director, Head of Southeast Asia, Warburg Pincus, kemudian George Raymond Zage III dari Farallon Capital Asia, lalu Hotak Chow selaku Principal Capital Group, ditambah Kusumo Martanto yang adalah CEO BliBli.com dan COO GDP Venture serta Zhaohui (Jeffrey) Li dari Tencent Investment.

Lalu ada Pandu Patria Sjahrir selaku Director Toba Bara kemudian Pradyumna Agrawal yang menjabat Director Temasek dan terakhir Prijono Sugiarto selaku President Director Astra International.

Dari posisi C-level, terbukti bahwa Gojek tidak nasionalis-nasionalis amat. Kalau memang benar nasionalis, masak mereka menggunakan orang asing-aseng untuk jabatan sepenting itu sih?  

Skor bertambah menjadi 3-0 atas telaknya hipokrisi Gojek.

Hanya Gimik

Kampanye nasionalisme yang diusung oleh Gojek pada dasarnya adalah “gimik”. Lema ini, menurut KBBI, adalah gerak-gerik tipu daya aktor untuk mengelabui lawan peran.

Secara umum, istilah ini merujuk kepada pemanfaatan kemasan, tampilan, alat tiruan, serangkaian adegan untuk mengelabuhi, memberikan kejutan, dan menciptakan suatu suasana, atau meyakinkan orang lain. Di sini mungkin maksudnya bukan untuk menipu secara literal, tetapi usaha untuk membius kesadaran orang agar mudah percaya.

Dalam dunia marketing, gimik menjadi salah satu strategi pemasaran suatu produk dengan menggunakan cara-cara yang tidak biasa agar cepat dikenal dan banyak diminati.

Gimik juga dapat merujuk pada fitur produk yang membuatnya lebih menarik tetapi tidak penting untuk fungsi produk, dimana tujuan akhirnya adalah untuk meningkatkan penjualan produk.

Jargon “Karya Anak Bangsa” yang mengusung sentimen nasionalisme itu tepat menyasar hal tersebut.

Karena sebagai sebuah perusahaan, faktanya Gojek tidak nasionalis-nasionalis amat. Dia sebenarnnya berjalan sebagaimana bussines as usual.

Udah gitu aja.