Belakangan ini ramai konten prank Youtuber yang bikin resah para driver ojek online (ojol). Sebagian besar menganggap aksi iseng tersebut justru merugikan para pengemudi. Maraknya prank berbau pesanan (order) fiktif membuat waktu mereka terbuang percuma dan berpotensi menurunkan penghasilannya.

Anehnya pembuat konten Youtube merasa ‘prank ojol’ hal yang biasa dan hiburan belaka. Mereka tidak memikirkan dampak psikologi dan sosial yang terjadi di masyarakat. Grab dan Gojek telah memberikan peringatan keras pada pengguna aplikasi terkait hal ini. Begitu juga dengan netizen ikut mengecam. Namun, konten prank tetap marak diunggah di Youtube.

Pengemudi ojol mitra Grab, Umar, mengaku ia pernah terkena ulah keisengan pemesan makanan melalui aplikasi Grab Food. “Ada order makanan, saya antar sesuai titik lokasi, pas sudah sampai mau hubungi yang pesen malah di-cancel. Kan bikin kesel yak!,” kata Umar mencerikan pengalamannya, Kamis (12/12).

Meski tujuannya menghibur, prank seperti ini dapat memengaruhi psikologis pengemudi ojol. Pengemudi ojol hanya dianggap sebagai objek kejahilan para pembuat konten video. Meskipun dalam beberapa video pengemudi ojol diberi uang, tapi membuat orang ketar-ketir sebelumnya itu bukan hal lucu. Apalagi kalau yang dipertaruhkan adalah uang dan profesi.

Banyak driver yang sekarang jadi was-was. Mereka berkali-kali mengubungi pemesan untuk memastikan ordernya bukan prank atau fiktif. Nah, yang rugi kan bukan cuma dirver ojol, pengguna juga jadi repot. Harus rajin angkat telpon agar abang ojol merasa secure mengambil pesanan.

Kalo sudah begini, apakah para pendulang adsense youtube itu mau bertanggung jawab? Tentu tidak. Jangan dianggap remeh dampak psikis yang dialami driver ojol. Prank yang melewati batas tentu berbahaya. Bisa mengancam jiwa seseorang.

Marak Order Fiktif

Kanal youtube makin banyak dinikmati anak muda usia 15 – 24 tahun. Pemikirannya masih mudah dipengaruhi oleh apa yang dilihat dan diamati. Bisa jadi mereka mengikuti atau menirukan prank ojol yang dilakukan Youtuber. Meski belum ada penelitian soal ini, tapi maraknya order fiktif sangat meresahkan driver ojol.

INDEF pernah membuat riset mengenai order fiktif ojek online. Hasilnya menunjukan bahwa 42% mitra pengemudi yakin bahwa di Gojek paling banyak terjadi order fiktif. Sekitar 28% lainnya mengatakan order fiktif juga terjadi di Grab.

Hasil riset yang dilakukan INDEF ini berdasarkan riset mereka kepada para driver Grab dan Gojek serta temuan lainnya. Melibatkan 516 orang responden mitra pengemudi kendaraan baik roda dua dan roda empat dengan metode non-probability atau convinient sampling.

Maraknya orderan fiktif membuat manajemen penyedia jasa ojek online Grab dan Gojek turun tangan. Keduanya menegaskan bakal menindak tegas pengguna Grab yang terbukti melakukan order fiktif.

Marketing GrabFood & New Business, Grab Indonesia, Ichmeralda Rachman mengimbau pelanggan untuk menghargai kerja keras mitra pengemudi dalam menjalankan pekerjaannya. Sementara, jika ada mitra Grab yang menerima order fiktif, Grab menyediakan jalur khusus komunikasi untuk mitra pengemudi GrabFood. Hal itu untuk memudahkan investigasi dan proses ganti rugi jika terbukti sesuai SOP.

Tentu bukan ganti rugi yang diharapkan driver. Mereka ingin masyarakat menghargai waktu dan kerja keras para pengemudi. Mengutamakan kemanusiaan diatas segalanya. Jika ingin memberi bisa dilakukan dengan cara yang baik. Tidak perlu membuat prank-prank yang menimbulkan dampak negatif dan kerugian.

Salam aspal…