Buroq, Sekedar Jadi Lelucon?

Buroq, aplikasi transportasi yang belakangan ini menarik perhatian para warganet. Nama merek Buroq jadi perbincangan karena menyamai sesosok makhluk tunggangan, yang membawa Nabi Muhammad dari Masjid al-Aqsa menuju Mi’raj ketika peristiwa Isra Mi’raj.  Kereta Kencana adalah salah satu layanan yang bisa digunakan untuk memesan kendaraan roda empat lewat aplikasi ini.

Selain itu pengguna bisa melakukan pesanan Buroq-ojek (ojek motor), dan layanan Hidangan Surga untuk memesan makanan. Seperti transportasi lain yang menggunakan pembayaran digital, Buroq juga menyediakan metode pembayaran Buroq Pay. Udah canggih lah!

Yang menarik, ternyata Buroq merupakan aplikasi karya Pondok Pesantren Kedunglo Al Munadhdhoroh yang ada di Bandar Lor, Mojoroto, Kota Kediri. Digagas oleh KH. Abdul Latif selaku pengasuh pesantren.

Buat warga Jakarta yang ingin mencoba mengendarai Buroq harap bersabar. Baru tersedia sekitar 70 armada yang beroperasi di Ibukota.

“Kabar gembira untuk kita semua, lebih dari 70 armada Buroq telah dikerahkan di daerah Jakarta. Jangan lupa diniatkan baik, biar perjalanan barokah,” tulis akun resmi Buroq di Twitter.

Lelucon Warganet

Kemunculan Buroq mendadak viral. Foto pengemudi ojol yang memakai jaket hijau kuda terbang dibagikan dengan komentar-komentar lucu. Termasuk komentar warganet di aplikasi Google Play.

“Bagus Appnya Min. Saya pesan untuk teman saya bener2 sampe Neraka dalam waktu 2 menit. Dan Sekarang saya sudah ada di batas Alam semesta, memang sih 30 menit. Tapi ternyata setelah Alam semesta yang Hitam ini ada Putih2 min. WoW. Terbaik,” tulis akun Famela Edriatos.

“Aplikasi ojek online termantul .. bayangin saya diantar menuju surga dan bertemu dengan 70 bidadari .. ketika anda membaca ulasan ini pasti anda tidak percaya .. tapi itu benar benar nyata ! WOW .. terima kasih buroq sekarang saya tidak jomblo lagi,” tulis akun Deni Kurnia.

“Alhamdulillah. Kini ada jalan untuk menunaikan ibadah haji ke tanah suci . (Subang – Mekah) Cuman. Rp 7000; driver nya ramah di jalan sambil di kasih bimbingan mansik haji” tulis Iqbal Dikri mahali.

Yang menjadi pertanyaan, apakah Buroq sebagai pemain baru mampu melawan dominasi Grab dan Gojek?

Atau upaya yang dilakukan Buroq membuat niche market—segmen pasar khusus—hanya akan sekedar menjadi lelucon warganet? kemudian tumbang seperti pendahulunya.

Belajar dari Pendahulu

Buroq harus memetik pelajaran dari kegagalan pendahulunya. Sebut saja Blu-Jek, Ojek Syari, LadyJek, Topjek, Ojek Kampung, Ojek Argo, Call Jack, Pro-Jek dan sebagainya. Rintisan transportasi berbasis aplikasi tersebut tak terdendar lagi. Mereka kalah bersaing dengan Grab dan Gojek yang telah menguasai pasar ojek daring.

Perang harga dan promosi gencar pesaing besar (Grab & Gojek) membuat ojek-ojek online bermodal kecil langsung merosot . Pesanan mendadak anjlok, pengemudi mereka memilih pindah. Ada yang berusaha bertahan dengan memberikan promo serupa, namun ketika promo dicabut pesanan langsung anjlok.

Untuk bisa bersaing, paling tidak Buroq harus mendapatkan suntikan modal.

Pengamat Transportasi dari Unika Semarang Djoko Setijowarno pernah mengatakan, untuk bisa bersaing, tergantung kreativitas dari pemain baru. Tapi itu pun lagi-lagi tergantung dengan permodalan dari si investor.

Buroq harus membuat sebuah terobosan. Tidak mungkin bisa bertahan jika hanya mengikuti pakem yang sudah ada. Dominasi Grab dan Gojek terlalu kuat di industri transportasi online. Berhentilah bereforia dengan lelucon warganet.

Salam aspal…