Selama ini, kita mengenal Grab sebagai perusahaan aplikasi penyedia jasa ojek online. Namun ternyata penyumbang transaksi terbesar perusahaan asal Singapura itu bukanlah dari Grab Bike atau Grab Car, melainkan dari Grab Food dan Grab Finansial.

Bahkan pertumbuhan dari kedua lini bisnis terakhir itu telah melebihi core bisnis awal Grab. Oleh karena itu, Grab kini menetapkan pengiriman makanan sebagai pilar utama untuk pertumbuhannya ke depan.

Menurut data perusahaan, sektor makanan dan jasa keuangan menyumbang lebih dari 50% gross merchandise volume (GMV). GMV ini merupakan total nilai transaksi di seluruh platform.

GrabFood menyumbang sekitar 20% terhadap total GMV Grab saat ini. Kontribusi ini naik signifikan dibanding periode sama tahun lalu, yang hanya di bawah 5%.

Selain itu, bisnis pengiriman makanan Grab juga mengalami pertumbuhan 5,2 kali dalam GMV tahun lalu, dan pertumbuhan jumlah pengguna aktifnya hampir tiga kali lipat.

Berdasarkan data tersebut, Grab kemudian mempersiapkan strategi untuk memperdalam penetrasi bisnis pengantaran makanan. Salah satunya dengan fokus menyediakan fasilitas Cloud Kitchen hingga layanan analisis penjualan bagi pedagang makanan tahun ini.

“Kami sangat banyak dalam tahap investasi dengan makanan, dan kami akan terus mengembangkannya. Kami percaya, pada akhirnya makanan akan membantu meningkatkan profitabilitas kami dalam jangka panjang,” Lim Kell Jay, Kepala Regional GrabFood, seperti dilansir dari WartaEkonomi, Rabu (8/1/2020).

Di Singapura sendiri, Grab sukses membuka lagi jaringan Cloud Kitchen baru-baru ini. Dalam layanan ini, pembeli memiliki pilihan takeaway dan makan.

Saat ini, jumlah Cloud Kitchen yang dioperasikan oleh Grab sudah tersebar di 50 di wilayah Singapura. Jumlah tersebut akan terus bertambah seiring dengan meningkatnya permintaan pasar.

Pilihan Grab untuk memperluas pasar di sektor kuliner ini bukanlah strategi yang keliru. Karena margin untuk bisnis ini memang cukup besar. Bahkan, berdasarkan keterangan dari Lim Kell Jay, margin dari pengiriman makanan ini lebih baik dari ride-hailing.

Untuk itu, berdasarkan apa yang diamati dari pasar lainnya, sangat mungkin bisnis pengiriman makanan ini yang akan dijadikan gacoan utama dari Grab, karena memang transaksinya lebih besar dan lebih profitable ketimbang ride-hailing.

Diakui atau tidak, bisnis pengiriman makanan dan jasa keuangan memang jadi bisnis yang menggiurkan di Asia Tenggara. Alasannya, karena tak terlalu banyak pesaing dalam bisnis pengiriman makanan ini, dan masih banyaknya masyarakat yang belum terjangkau layanan bank.

Dalam beberapa tahun terakhir Grab memang terlihat kian ekspansif di bisnis pengiriman makanan. Setelah mengambil alih Uber Asia Tenggara pada 2018, perusahaan Decacorn ini memperluas bisnis GrabFood ke enam negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand dan Vietnam.

Jika strategi di atas benar-benar diterapkan dengan baik, bukan mustahil apabila Grab akan menjadi perusahaan penyedia pengiriman makanan terbesar di Asia Tenggara, baik itu secara GMV maupun jejak geografis. Kuncinya pada perhitungan yang presisi dan eksekusi yang kontekstual.

Ini adalah ruang pertarungan bisnis yang akan ‘keras dan memanas’ ke depan. Asia Tenggara adalah ceruk pasar yang besar. Siapa yang memiliki strategi dan eksekusi yang apik pasti akan memenangkan persaingan. Tanpa itu, sebesar apapun perusahaan hanya akan menjadi abu.