Meski saling membutuhkan satu sama lain, tetapi hubungan antara driver dan penumpang ojek online (ojol) kadang tidak baik-baik saja. Percekcokan hingga adu mulut bisa saja muncul di tengah jalan karena adanya kesalahpahaman.

Masalahnya, kadang percekcokan itu justru membuat driver ojol mengalami kerugian besar. Bahkan yang terparah, akun driver yang bersangkutan bisa kena suspend permanen, yang artinya pemutusan kemitraan dari pihak aplikator.

Kejadian seperti ini baru saja dialami oleh seorang driver mitra Grab Bike. Tak disebutkan lokasinya, seperti dilaporkan oleh akun Twitter @PenjahatGunung pada Minggu (04/1/2020), ada seorang driver Grab yang tersuspend akunnya setelah ribut dengan penumpangnya.

Pangkal masalahnya bermula ketika si penumpang tiba-tiba meminta untuk membatalkan pesanannya ketika pengemudi tiba di lokasi. Alasannya karena tarif yang dibebankan kepadanya dianggap terlalu tinggi.

Padahal soal tarif itu, driver Grab tidak pernah mengaturnya. Semua ditentukan oleh aplikasi.

Penumpang itu pun meminta abang ojol untuk meng-cancel pesanannya. Tetapi, si driver tetap kekeh tidak mau karena sudah sampai di lokasi dan sudah diklik pick-up sehingga tidak bisa dibatalkan.

Alhasil keributan pun tak terelakkan. Adu mulut terjadi hingga mengundang orang-orang di sekitarnya berkumpul. Bahkan, keributan itu pun sampai dipisah oleh pihak security di lokasi.

Buntut dari keributan ini, si customer sepertinya melaporkan driver ojol tersebut ke kantor pusat. Pasalnya, tak berselang lama driver itu mendapatkan notifikasi suspend dari Grab karena dilaporkan oleh customer terkait “keselamatan penumpang”.

Mungkin penumpang itu lapor kalau habis adu mulut sama driver. Sehingga konsekuensinya si driver tersebut bisa kena putus kemitraan. Hal ini karena pertikaian (apapun bentuknya) merupakan pelanggaran berat dalam kode etik umum mitra Grab.

Kasus seperti ini cukup pelik karena dua-duanya merasa paling benar di posisinya masing-masing. Tetapi seharusnya bisa dihindari jika kedua belah pihak bisa saling berhati-hati, dan mengedepankan musyawarah dengan “kepala dingin”.

Dari sisi penumpang, seharusnya dirinya sadar kalau soal tarif itu bukan urusan driver tetapi hasil olahan sistem aplikasi. Sehingga jika mengetahui tarif naik hingga dua kali lipat, ya sebaiknya jangan diklik orderannya. Teliti sekali lagi akan menghindarkan diri dari keributan.

Kemudian terkait dengan laporan, penumpang sebaiknya juga berlaku bijak. Tak selamanya hal-hal yang merugikan dirinya harus dilaporkan ke kantor pusat. Karena itu bisa jadi akan ‘menutup’ rejeki orang lain. Apalagi jika dibumbui dengan playing victim dan segala drama lainnya. Please be wise!

Bagi driver ojol, jika mendapatkan orderan sebaiknya jangan langsung klik pick up. Alangkah baiknya hubungi penumpangnya terlebih dulu kemudian datangi dia, baru setelah itu diklik pick up. Jangan buru-buru pick up tetapi belum tentu kepastiannya. Ini juga akan menghindarkan diri dari keributan.

Kemudian kejadian seperti ini harusnya menjadi pelajaran bagi para driver agar lebih bisa menjaga perilaku dan emosi. Karena jika lepas kontrol bisa kehilangan mata pencaharian. Harus tetap sabar, dan jika ada masalah harap diselesaikan dengan baik-baik. Ingat, anak istri di rumah ya.

Terakhir, untuk pihak aplikator akan lebih baik jika dibuat sistem pengaduan yang berlaku dua arah. Konsumen memang raja, tetapi driver juga mitra. Tanpa keduanya tak akan ada ekosistem ojek online seperti ini.

Sehingga untuk kasus seperti ini sebaiknya bisa dilihat masalahnya dari dua sisi. Jangan hanya berat sebelah. Mungkin untuk kasus seperti ini bisa diselesaikan dengan mediasi saja, tak harus dengan memutus kemitraan.

Terlepas dari benar salahnya dimana, kita berharap kasus percekcokan akibat kesalahpahaman seperti ini bisa diselesaikan dengan baik-baik, termasuk dari sisi penumpang, driver maupun pihak aplikator.

Mari kita cari jalan tengahnya. Karena damai itu jauh lebih indah kok. Peace!